Tuesday 26th September 2017,
Arielogis

Surga Mangrove di Kuala Langsa  

Ariel Kahhari 30/07/2017 Suara Langit 2 Comments

Empat negara di dunia diperkirakan akan hilang dari peta bumi. Ada yang disebabkan karena perang berkepanjangan, kemiskinan, aneksasi namun ada pula yang lenyap karena meluapnya air laut ke daratan. Kribati adalah salah satunya. Negara yang terletak di kawasan Samudera Pasifik ini diperkirakan akan tenggelam dan menghilang pada tahun 2115. Penyebabnya adalah pemanasan global yang mendorong kenaikan permukaan air laut. Mengantisipasi masalah ini, Pemerintah Kribati telah membeli lahan di Fiji untuk areal pengungsian.

Kribati bukan satu-satunya negara yang terancam akibat pemanasan global. Indonesia juga merasakan dampak dari perubahan iklim tersebut. Beberapa pulau telah tenggelam serta bibir pantai yang tergerus karena abrasi. Aceh sendiri sudah mulai “menikmatinya”. Mengeringnya sumber air baku di Mata Ie Aceh besar adalah contoh  yang tidak boleh dianggap sepele. Peristiwa bersejarah ini merupakan salah satu dampak yang dihasilkan dari buruknya cara manusia memperlakukan alam.  Penebangan hutan di daerah hulu disertai kemarau panjang menjadi penyebab mengeringnya air di daerah hilir. Bukan saja Mata Ie, Krueng Aceh yang selama ini mengalir dari hulu di Cot Seukek Aceh Besar hingga ke kota nelayan Lampulo Banda Aceh diperkirakan sedang menanti giliran. Bila hal ini benar-benar terjadi maka penduduk di Banda Aceh dan Aceh Besar tidak lagi mendapatkan suplai air bersih karena hilangnya sumber air baku PDAM.

Sebenarnya malapetaka perubahan ilkim bukan hanya disebabkan oleh penebangan pohon di daerah pegunungan. Bukan juga sekadar beralih fungsinya hutan menjadi areal perkebunan. Tidak banyak yang tau jika perambahan hutan mangrove lebih berbahaya dari penebangan hutan di kawasan perbukitan. Kerusakannyapun terjadi lebih cepat. Rusaknya hutan mangrove menjadi pintu masuk datangnya bencana. Berada di daerah dekat pantai, hutan mangrove kerap diubah menjadi kawasan wisata. Bahkan banyak pula yang dikonversi menjadi sawah, perkebunan sawit ataupun tambak.

Ironisnya konversi hutan mangrove menjadi tambak turut melibatkan pemerintah secara aktif. Program Intensifikasi tambak INTAM yang digulirkan pemerintah tahun 1984 di 12 provinsi telah memicu berkurangnya luas lahan mangrove secara signifikan. Dengan dalih meningkatkan produksi tambak seperti udang satu persatu areal mangrove dibabat. Parahnya saat tak lagi produktif, tambak ditinggalkan begitu saja. Para penambak kemudian membuka lahan baru dengan mengorbankan hutan mangrove lainnya. Di Sulawesi Selatan, dalam jangka waktu 40 tahun luas lahan hutan mangrove berkurang mencapai 89 persen. Dari luas lahan 214 ribu hektar kini hanya menyisakan 23 ribu hektar saja. Kondisi serupa juga terjadi di Gorontalo, Kalimantan, Papua dan Sumatera.

Ancaman terhadap keberadaan hutan mangrove di Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Data FAO menyebutkan jika dalam tiga dekade terakhir, Indonesia kehilangan 40 persen hutan mangrove. Fakta ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kecepatan kerusakan mangrove terbesar di dunia. Berkurangnya luas hutan mangrove di Indonesia sebenarnya juga menjadi ancaman bagi dunia. Mengingat 23 persen dari total keseluruhan ekosistem mangrove di dunia berada di Indonesia. Dari sepanjang 95.000 kilometer pesisir Indonesia, tiga juta hektarnya ditumbuhi hutan mangrove.

HImbauan agar menjaga hutan

HImbauan agar menjaga hutan

Bila Kribati terancam hilang dari peta bumi, perubahan iklim malah telah dirasakan oleh masyarakat yang bermukim di Pusong Telaga Tujuh. Pulau yang secara administratif berada di kecamatan Langsa Barat ini nyaris punah ditelan gelombang samudera. Dulu Telaga Tujuh dikelilingi rerimbunan mangrove yang begitu lebat. Lambat laun hamparan hijau itu mulai berkurang. Lautan yang dulunya tersembunyi kini sudah terbentang jelas. Mangrove yang seharusnya menjadi tanaman penghalau gelombang nyaris tidak bersisa. Perambahan sengaja dilakukan oleh warga untuk mendapatkan bahan baku pembuatan arang.

Satu-satunya yang membuat Telaga Tujuh tetap bertahan ialah keberadaan sebuah pulau kecil yang terletak di depan desa tersebut. Berkat pulau kosong tersebut kuatnya gelombang masih dapat diredam. Tetapi kondisinya juga memprihatinkan. Di sana beberapa mangrove dewasa mulai kering. Batang yang masih hidup juga menjadi target perambahan. Warga meyakini keberlangsungan hidup mereka amat tergantung dari pulau tersebut. Menyikapi masalah ini Pemerintah Kota Langsa pun telah merelokasi warga secara bertahap. Saat ini pulau Pusong hanya menyisakan 300 kepala keluarga yang menggantungkan hidupnya pada laut.  Angka tersebut menurun dibandingkan dengan jumlah sebelumnya sebanyak 700 kepala keluarga.

Telaga Tujuh di tengah lautan

Telaga Tujuh di tengah lautan

Pulau kecil "penyelamat" Pusong telaga Tujuh

Pulau kecil “penyelamat” Pusong telaga Tujuh

Pusong Telaga Tujuh terancam karena penebangan mangrove

Pusong Telaga Tujuh terancam karena penebangan mangrove

Di Kota Langsa, hutan mangrove memang tumbuh subur dan tersebar luas. Tanaman ini sudah ada sejak zaman Belanda. Dari luas wilayah 26.241 hektar, 9550 hektar merupakan hutan mangrove. Luas ini setara dengan 36 persen dari luas wilayah Kota Langsa. Dari luas hutan tersebut 1.730 hektar merupakan hutan lindung yang dijaga dan dikelola oleh pemerintah. Bagi kota ini keberadaan hutan mangrove bernilai penting salah satunya sebagai lokasi objek wisata. Bagi warga, hutan mangrove menjadi penopang. Di tengah ancaman degradasi warga berjuang agar hutan tetap alami.

Tidak hanya menjaga dan melindungi hutan mangrove, upaya konservasi pun juga dilakukan. Langkah ini melibatkan masyarakat lokal secara aktif dengan upah yang disepakati. Bibit diperoleh dari pohon mangrove yang telah tumbuh besar. Pembudidayaannya dipusatkan di desa Alur Dua. Penanaman bibit mangrove dilakukan dua kali sehari saat air laut tengah surut. Pekerja memang harus jeli melihat waktu. Kapan air akan pasang dan kapan pula akan surut. Daerah tanam yang dipilih adalah areal kosong yang berlumpur. Upaya penanaman ini telah dilakukan sejak tahun 2006 dan berlangsung hingga sekarang. Menariknya batang-batang mangrove yang sengaja dibudidayakan tersebut bukan saja diperuntukkan bagi kawasan Langsa saja. Bibit juga dibawa dan ditanam di Banda Aceh, Calang bahkan Meulaboh.

hutan mangrove 2-01-02

Hutan Mangrove Kota Langsa yang terbentang luas

Mercusuar di antara rerimbunan batang mangrove

Mercusuar di antara rerimbunan batang mangrove

Lokasi budidaya pembibitan mangrove Kuala Langsa

Lokasi budidaya pembibitan mangrove Kuala Langsa

Tersebarnya penataan kembali areal mangrove di Aceh bukan tanpa alasan. Jika ditilik dari segi manfaat, hutan mangrove memberi banyak maslahat. Ia mampu meredam energi dari terjangan gelombang arus air laut. Aceh yang merupakan daerah rentan bencana termasuk tsunami membutuhkan hutan mangrove yang memadat di daerah tepian pantai. Rumpun-rumpun tanaman mangrove mampu memantulkan, meneruskan dan menyerap energi gelombang yang datang. Dengan demikian gelombang yang sampai ke sisi pantai hanya berupa riak-riak saja. Selain itu tanah di bawah hutan bakau yang sangat dalam juga dapat menyimpan karbon empat kali lebih banyak dibandingkan hutan lain. Dengan membuka hutan bakau maka hanya akan memperburuk perubahan iklim.

Dikenal memberi banyak manfaat, maka sudah sepatutnya hutan mangrove perlu diselamatkan. Bukan saja menggelorakan semangat untuk melakukan budidaya dan penanaman bibit mangrove. Langkah ini juga harus dibarengi dengan meningkatkan kesadaran warga untuk hidup selaras bersama alam. Tidak mudah memang menjaganya agar tetap seimbang. Namun seperti gerakan tari Saman yang serentak, bertenaga dalam konfigurasi yang rapat. Maka cara pandang yang sama dibarengi dengan solidaritas, saling bahu membahu dapat menjadi pijakan agar mangrove tetap tegak, memberi manfaat hingga masa depan.

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Road to Saman 10001







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

2 Comments

  1. yellsaints 31/07/2017 at 15:27

    Bang Ariel, benaran itu masih ada kampungnya? ngeri kali kok, di tengah lau kek gitu. Pengen pergi lah ke Pusong tu, penasaran banget soalnya.

    • Ariel Kahhari 31/07/2017 at 22:31

      Ada Yel, bang Ariel dah sampe kesana. Sedih kali. naik perahu itu dari kuala langsa sekitar satu jam an. Kalau angin kencang ya bisa makin lama. kalau air pasang, itu desanya masuk air.

Leave A Response