Tuesday 26th September 2017,
Arielogis

Shumaila

Ariel Kahhari 13/09/2013 Keluargaku 2 Comments
Shumaila
Shumaila Sheiza Kahhari

Shumaila Sheiza Kahhari

26 juni 2012 di QMC klinik Banda Aceh. Suara tangis itu terdengar keras dari ruang operasi. Hening malam pun ikut pecah. Kami yang sedari tadi menunggu saling berpandangan. Diluar ruang operasi, saya dan beberapa anggota keluarga lainnya masih merapal doa. Sesekali berbincang menghempas kegelisahan. Selama hampir  satu jam saya duduk berdiri tak jelas. Hingga seorang Suster memanggil.

“selamat , putrinya sudah lahir”

Perasaan campur aduk. Selama sembilan bulan menanti kelahiran putriku. Tentu dibandingkan aku, istriku lebih dahsyat dan pengorbanan nya luar biasa. Di saat usia kehamilannya memasuki delapan bulan dia masih berjuang menyelesaikan study dokternya. Bahkan dia harus naik turun tangga mengurusi satu persatu berkas yudisium.

“ini bayinya, kulitnya bersih. Sekaligus di qamatkan ya pak” kata suster sambil menyerahkan bayi mungilku.

Ya Allah perasaanku semakin campur aduk. Melihat bayi kecil. Putih bersih tanpa dosa. Aku mengiqamatkan bayiku dan setelah itu mengambil beberapa gambar dan video. Sementara itu istriku masih didalam ruang operasi. Kata suster sedang dijahit bekas operasinya.

Setelah semua proses operasi selesai. Istriku kembali diangkut ke kamarnya. Diangkut karena memang istriku ditandu menuju lantai dua. Jadi ingat jenderal sudirman atau cut nyak dien.

Satu persatu keluarga ku datang dan melihat bayi mungilku. Dia punya suara yang besar dan melengking.

“sedih kali kok nangisnya” kata ibuku

**

Menjelang seminggu pasca kelahiran putriku , aku masih sibuk mencari nama yang bagus untuknya. Orang orang dekatku mengingatkan agar memilih nama anak harus yang mengandung doa. Tapi menurutku nama tidak hanya cukup berisi doa tapi juga enak didengar.

Sebenarnya dari jauh jauh hari aku sudah mencari nama yang baik. Aku sengaja membuat daftar nama nama itu dalam sebuah buku khusus. Aku kerap mendiskusikannya dengan istriku.

Setelah berdiskusi dengan keluarga aku sudah memutuskan untuk meberinya sebuah nama. Nama itu menjadi penting karena aku akan menggelar aqiqah buat putri kecilku. Kata yang jualan kambing, nama anak harus sudah pas. jangan berubah ketika sudah di aqiqah.

Pada sembilan juli 2012 aku menggelar aqiqah. Hari itu juga bertepatan dengan setahun usia pernikahanku. Seperti yang kuduga banyak yang akan bertanya nama anakku. Tidak hanya nama, pertanyaan berikutnya adalah “artinya apa?”.

Aku beri dia sebuah nama, Shumaila Sheiza Kahhari. Sebuah nama muslim dari daerah asia selatan.  Nama itu penuh doa karena berarti “Perempuan cantik yang taat kepada Tuhannya”. Sebuah nama pengharapan agar putriku tumbuh menjadi anak yang memiliki rupa yang cantik, hati yang bersih serta taat kepada Allah SWT.

13092013, Pusdiklat TVRI (Convergence Journalism)







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

2 Comments

  1. frischa aswarini 14/09/2013 at 12:00

    moment yang mengharukan ya, Bang. Putrinya lucu, salam ya :)

    • arielkahhari 14/09/2013 at 12:34

      cantik tepatnya… haha, ya nanti disampaikan

Leave A Response