Tuesday 26th September 2017,
Arielogis

Shalat Jumat di Negeri Atap Dunia

Ariel Kahhari 24/10/2013 Nepal 14 Comments
Shalat Jumat di Negeri Atap Dunia

Taksi yang saya tumpangi melaju di jalanan kota Kathmandu. Panas, debu dan macet bercampur menjadi satu. Memang seperti inilah suasana kotanya. Jalannya yang tidak begitu lebar dan diapit oleh bangunan yang juga berdesain tempo dulu. Di sini hampir jarang saya temui pepohonan yang ditanam pada sisi kanan dan kiri jalan. Suasanapun jadi tambah panas. Naasnya lagi taksi yang saya tumpangi tidak dilengkapi pendingin udara. Kaca mobil terpaksa dibuka, tapi sedikit saja supaya angin yang masuk tidak disertai debu. Memang angkutan di Kathmandu tergolong tua. Mungkin keluaran tahun 60 atau 70 an. Makanya jangan heran kalau jalan jalan kemari masih bisa lihat mobil jadul.

Dengan taksi ini saya menuju ke salah satu Mesjid yang ada di Kathmandu Nepal. Saya ditemani Altaf. Siapa dia bisa baca disini. Selain Altaf saya juga mengajak seorang teman asal Bangladesh. Dia seorang jurnalist. Kami sama sama ikut workshop jurnalistik. Awalnya dia tertarik, tetapi menjelang shalat jumat dia bilang harus ke new road salah satu lokasi belanja di Kathmandu.Ya sudahlah.

Sejak menginjakkan kaki di Kathmandu Nepal, saya memang berniat untuk mengunjungi Mesjid yang ada di negeri seribu kuil ini. Saya penasaran bagaimana bisa Mesjid berdiri dan di dalamnya ada rutinitas keagamaan, padahal pemeluk ajaran Islam di Nepal tidak begitu banyak.

Di Kathmandu, agama yang paling banyak dianut adalah Hindu dan Budha. Sementara menurut sensus tahun 2011, jumlah  umat Islam di negara ini hanya 971 ribu jiwa atau empat persen dari total penduduk Nepal. 97 persen penduduk muslim menetap di kawasan Terai sedangkan sisanya berada di Kathmandu dan kawasan lembah sebelah Barat Nepal.

Cerita tentang kondisi umat Islam di Nepal memang menarik untuk disimak. Meski jumlah umat Islam di Kathmandu Nepal terbilang kecil namun mereka tetap dapat beribadah dan menjalankan keyakinannnya dengan tenang. Ya tidak begitu tenang juga sih. Harus diakui sebenarnya pemerintah Nepal memang sedikit membatasi ruang gerak Umat Islam.

Mesjid -Mesjid di Kathmandu misalnya, dilarang menggunakan pengeras suara ketika azan dikumandangkan. Selain itu Mesjid juga hanya dibuka saat jam shalat. Dan lebih mengejutkannya lagi setiap Mesjid dilengkapi CCTV. Ketika masalah ini saya tanyakan kepada  Altaf dia menjawab jika itu untuk mengontrol setiap kegiatan di dalam Mesjid.

Selama di dalam taksi, kami tidak banyak membicarakan masalah Islam di Nepal. Saya ebih memilih berdiskusi tentang suasana Kashmir tempat Altaf berasal. Obrolan tersebut berlangsung seru. Terkadang kami menyentuh isu polik tapi sejurus kemudian pembicaraan beralih ke topik keluarga Altaf dan rencana pernikahannya.

Sekitar sepuluh menit kemudian kami pun tiba di depan sebuah Mesjid. Namanya Jama Mesjid.  Mesjid ini berada di kawasan Bagbazar Kathmandu. Lokasinya persis berada di pusat kota. Mesjid ini juga berdekekatan dengan Ganeshman Singh Memorial Park, Rani Pokhari dan RatnaPark. Ketiganya adalah lokasi penting di kota Kathmandu dan ramai dikunjungi oleh masyarakat setempat.

Mesjid Jama (taken from www.kathmandu.im)

Mesjid Jama (taken from www.kathmandu.im)

Meski  kami turun di depan Mesjid Jama tapi Altaf mengajak saya ke Mesjid kashmiri Taqiya. Kedua Mesjid ini memang berdekatan. Hanya membutuhkan waktu lima menit jika berjalan kaki dari Mesjid Jama ke Mesjid Kashmiri.

“Mengapa kita tidak shalat disini saja?” tanya saya kepada Altaf sambil menunjuk gerbang Mesjid Jama.

“Di Mesjid Kashmiri kita akan bertemu saudara saudara saya” jawab Altaf singkat

“Apakah ada yang berbeda antara Mesjid ini dengan Mesjid kashmiri?” tanya saya lagi

“Semua Mesjid sama karena kita menyembah Tuhan yang sama. Allah!” Altaf menjawab dengan diplomatis.

Saya pun tidak memperpanjang lagi diskusi itu. Lalu kami berjalan menuju Mesjid Kasmiri. Sepanjang jalan menuju ke Mesjid Kashmiri saya berpapasan dengan sejumlah jamaah lainnya yang mulai berdatangan. Mudah sekali mengenali mereka. Mereka yang mau ke Mesjid kebanyakan berpeci dan berjanggut.

Pintu gerbang Mesjid Kashmiri dijaga oleh seorang security yang ramah. Petugas keamanan menyapa dengan salam hangat saat memasuki komplek Mesjid. Mungkin dia tau jika saya adalah pendatang. Meskipun keramahan itu ditunjukkan oleh hampir seluruh jamaah, namun demikian tidak bisa dipungkiri jika saya menjadi pusat perhatian. Sebenarnya agak sedikit risih. Bahkan saya sempat ragu ketika mengeluarkan kamera. Takut kalau ini begitu sensitif karena khawatir dianggap mata mata pemerintah.

Ketakutan saya memang sangat beralasan. Pasalnya pada tanggal 1 september 2004 lalu,  Mesjid yang sudah berumur lebih dari 480 tahun ini pernah diserang dan dibakar oleh ribuan massa.  Katanya massa yang datang menyerbu mencapai 4000 orang! Serangan tersebut dilakukan karena dipicu oleh insiden terbunuhnya 12 pekerja Nepal yang diculik oleh milisi bersenjata di Iraq. Warga Nepal yang marah menyerang Masjid Khasmiri. Massa merusak dan membakar ruangan utama Mesjid Khasmiri.

Mesjid Kashmiri yang diserang dan dibakar massa pada tahun 2004 (taken from google)

Mesjid Kashmiri yang diserang dan dibakar massa pada tahun 2004 (taken from google)

Selain itu insiden berdarah lainnya terjadi pada 26 September 2011. Sekretaris Jendral organisasi Persatuan Islam (Islami Sangh) Faizan Ahmad Ansari ditembak orang tak dikenal. Dia ditembak setelah mengerjakan shalat di Mesjid yang lokasinya justru di depan pos polisi di kawasan metropolitan Kathmandu. Di bawah guyuran hujan deras dua pria berjas hujan memberondong Faizan dengan peluru hingga tewas. Kasus ini bukanlah kasus terakhir karena setelah penembakan Faizan tidak lama kemudian seorang pengusaha media muslim setempat, Jamin Sahah juga mengalami nasib serupa.

Ada satu hal yang membuat saya khawatir ketika melaksanakan Shalat Jumat di Mesjid ini. Bukan karena insiden berdarah itu melainkan khawatir dengan tata cara shalat yang saya kerjakan. Siapa tau ada gerakan yang berbeda antara tata cara shalat di Indonesia dengan di Nepal. Mungkin ini terkait dengan memilih cara beribadah sesuai mahzab yang dikenal dalam umat Islam. Saya kurang tau umat Islam di Nepal lebih mengikuti mahzab apa. Tapi secara keseluruhan semua nya sama. Meski saya juga kaget ketika dalam shalat, saya mendapati hal yang tidak pernah ditemui di Indonesia.

Hal menarik yang menyedot perhatian saya adalah isi Khutbah. Soalnya saya tidak faham isi nya tentang apa.  Altaf bilang jika kali ini khatib didatangkan langsung dari Irak. Jadinya khutbah disampaikan dalam bahasa Arab. Khutbah berlangsung cepat. Tidak sampai 15 menit. Mungkin ini mengingat banyak para jamaah adalah pekerja, sehingga selesai shalat harus kembali beraktifitas. Oya Semua jamaah di Mesjid ini menggunakan penutup kepala. Mulai peci hingga sekedar sapu tangan yang disulap menjadi “peci”. Hanya saya dan beberapa turis saja yang tidak menggunakan penutup kepala.

Ada yang berbeda antara shalat jamaah di kathmandu dengan yang biasa aku lakukan di Indonesia. Kalau di Indonesia setelah membaca surah Alfatihah maka seluruh jamaah akan mengatakan amien. Karena Alfatihah merupakan surah yang di dalamnya terdapat puji pujian kepada Allah dan diujung surahnya terdapat doa agar ditunjukkan jalan yang lurus. Di Kathmandu setelah Imam membaca surah Alfatihah maka tidak ada kata amien. Semua jamaah diam! Amien hanya diucapkan di dalam hati. Syukurnya saya tidak keblablasan mengucapkan amin dengan suara lantang ala anak anak Indonesia :).

Shalat jumat pun berlangsung Khidmat dan khusyuk. Setelah selesai sebagian jamaah ada yang langsung pulang tapi ada pula yang menuju ke bagian belakang Mesjid. Di sana terdapat kolam yang sekitarnya dimanfaatkan oleh para pedagang untuk menjajakan sejumlah barang dagangan seperti peci, kaligrafi hingga aksesoris lainnya. Altaf membeli sebuah peci putih sedangkan saya hanya mengambil gambar sebagai kenang kenangan.

Altaf membeli peci

Altaf membeli peci

Bersama komunitas Muslim yang shalat jumat di Mesjid kashmiri

Bersama komunitas Muslim yang shalat jumat di Mesjid kashmiri

Sebelum pulang kami pun singgah ke sebuah makam yang masih berada dalam komplek Mesjid. Ini adalah makam ulama asal Kashmir yang menyebarkan ajaran Islam di negeri atap dunia ini. Setelah masuk ke dalam komplek makam dan mengambil beberapa gambar kami pun pulang. Ketika hendak mencari makan siang kami terkejut melihat ada demonstrasi. Wah ternyata demo nya dilakukan umat Islam. Ada apa ya?

**







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

14 Comments

  1. Ruslan 09/05/2014 at 13:44

    suatu saat saya akan kesana juga bang.. liat aja.!

  2. Hanny Wulandari Yasin 25/10/2013 at 01:22

    A great friday mubarrak there

    • arielkahhari 25/10/2013 at 01:31

      yup, ngak pernah bermimpi bisa menginjakkan kaki kesana dan bertemu komunitas muslim. belajar juga memahami arti minoritas

  3. Insinyur Pikun (Adit Zamrud) 25/10/2013 at 01:21

    Wah disana gak bisa mendengarkan kumandang adzan yang indah ya…gak boleh pakai pengeras suara. Tapi kenapa cuma dibuka waktu sholat ya?

    • arielkahhari 25/10/2013 at 01:33

      azan nya cuma terdengar dalam mesjid saja. apakah sekarang sudah diperbolehkan itu yang kurang tau. kalo baca berita ttg muslim di nepal memang masih meprihatinkan. soalnya ancaman masih mereka alami. mungkin tidak mengerikan seperti dalam pikiran kita. tapi jangankan antar pemeluk agama, persoalan politik aj masih bikin gonto gontokan disana.

    • noer 05/03/2016 at 15:33

      lebih baik adzan tanpa pengeras suara yang penting muslimnya taat, daripada dengar suara adzan indah namun tetap bermalas-malasan menjalanlan sholat

  4. Efi Fitriyyah 25/10/2013 at 00:47

    kebayang kalau teriak kencang, bisa2 jadi seperti Arai sobatnya Andrea Hirata waktu di Eropa itu hehehe.

    • arielkahhari 25/10/2013 at 01:34

      hahhah Alhamdulillah ngak sampe. kalo terjadi tidaakkk. bisa nulis satu cerita hahha

  5. Fardelyn Hacky 24/10/2013 at 16:42

    Menjadi minoritas memang dilema ya. Apalagi kalo hidup di negara yang tingkat toleransinya kecil. mau gimana lagi, mereka warga negara tersebut

    • arielkahhari 24/10/2013 at 23:50

      dimana mana atas minoritas selalu tertindas…hhehe

  6. Abdul Majid Baharom 24/10/2013 at 11:51

    Salam Ariel
    Atuk gemar akan gaya Ariel menyampaikan kisah ke masjid di Kathmandu khususnya utk bersolat Jumaat ini. Santai pendekatannya . . . dan simple penggunaan bahasanya (tidak ‘berlebih-lebihan’).
    I appreciate such styled simplicity . . . yet sufficiently informative writing. Bagus Ariel!

Leave A Response