Tuesday 26th September 2017,
Arielogis

(Sepenggal Kisah Tsunami Aceh – 2) Mereka yang Kembali Hidup

Ariel Kahhari 29/12/2014 Suara Langit No Comments
(Sepenggal Kisah Tsunami Aceh – 2)  Mereka yang Kembali Hidup

Nanda tertidur di Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Ia tak sadarkan diri selama satu hari satu malam. Seseorang menempatkannya di sana bersama jenazah korban bencana tsunami Aceh 2004 silam. orang mengira Nanda sudah tewas. Saat ditemukan wajahnya lembam dan penuh luka.

Nanda tinggal di kawasan Syiah Kuala. Rumahnya berada dekat dengan makam Ulama besar. Makam ini selamat dari terjangan gelombang tsunami meski hanya berjarak beberapa meter saja dari bibir pantai. Syiah Kuala adalah daerah pesisir di kota Banda Aceh. Kawasan ini didominasi oleh para nelayan. Daerah ini rusak parah saat gelombang tsunami datang. Bahkan sebuah daratan yang dulu sedikit menjorok kini telah hilang menjadi lautan.  Semua bangunan terangkat bersama penghuni yang tak sempat menyelamatkan diri. Termasuk Nanda dan keluarganya. Entah bagaimana gelombang itu mengehempasnya hingga kemudian seseorang membawanya ke Mesjid Raya. Padahal jarak dari Syiah Kuala ke Mesjid Raya relatif jauh.

Suami Nanda yang selamat dalam gelombang tersebut sempat kebingungan mencari Nanda dan keluarga lainnya. Hingga akhirnya ia memutuskan pergi ke Mesjid Raya Baiturahhman. Saat itu banyak jenazah yang tergeletak di jalanan diangkut dan dibawa ke dalam Mesjid. Tubuh mereka ditutupi seadanya menggunakan koran, kain bekas hingga kertas kardus. Jenazah dijejer memanjang seperti shaf shalat.

Suami Nanda mencoba peruntungan mencari istrinya di kumpulan orang-orang yang tak lagi bernyawa. Ia sempat kebingungan mencari jasad istrinya. Banyaknya jenazah adalah salah satu faktor. Belum lagi kondisi fisik jenazah yang sulit dikenali karena bercampur lumpur, dipenuhi luka lembam terkena benda tumpul atau sabetan benda tajam.

Perjuangan suami Nanda tak sia-sia. Ia menemukan seorang wanita yang sudah terbujur kaku. Awalnya ia tidak dapat mengenali perempuan tersebut. Hingga tanda lahir di bagian dada yang membuatnya yakin jika perempuan itu adalah istrinya. Lalu sang suami memindahkan tubuh Nanda ke sebuah tiang mesjid. Hal itu sengaja dilakukan supaya mudah dibawa pulang untuk dimakamkan. Ketika tubuhnya digotong itulah sebuah keajaiban terjadi. Tiba-tiba Nanda berteriak. Ternyata ia tak kuasa menahan sakit karena bahu kanannya terkilir. Suaminya kaget ketika tau istrinya masih hidup. Nanda hanya tak sadarkan diri. Entah pingsan, koma atau mati suri. Tak jelas kata apa yang paling tepat untuk mengambarkannya. Nanda segera dilarikan ke rumah sakit yang masih berfungsi. Ia hidup hingga sekarang dan telah menjadi bidan di desanya Alue Naga Kecamatan Syiah Kuala.

Kisah Nanda adalah satu dari banyak keajaiban yang terjadi ketika tsunami melanda Aceh. Meski demikian banyak pula yang tidak seberuntung mereka. Seperti Sufriani. Warga Banda Aceh yang dengannya saya masih punya hubungan saudara. Dalam kejadian tsunami tersebut dia harus kehilangan anggota keluarga. Salah satunya adalah  putrinya.

Saat tsunami terjadi Sufriani terpisah dengan anaknya. Beberapa orang mengatakan anaknya sempat naik ke dalam mobil. Dibawa entah kemana. Ada pula yang bilang jika anaknya pernah berada di kawasan Saree. Sebuah kawasan pegunungan Seulawah yang biasa menjadi tempat transit. Perbatasan antara Aceh Besar dengan Kabupaten Pidie. Saat mendengar kabar sang anak berada di Saree, sang Ayah langsung menyusul kesana. Tiba di sana ia bertanya kepada orang-orang sambil menunjukkan foto yang masih bisa diselamatkan.

“Ya saya pernah lihat, tapi udah dibawa pergi. Siapa yang bawa saya juga ngak tau” kata seorang warga saat melihat foto yang disodorkan.

Mendengar jawaban tersebut tubuh sang Ayah lemas. Anaknya ternyata selamat dari tsunami. Mereka hanya berselisih waktu saja. Mungkin jika mereka tiba lebih cepat putrinya bisa dibawa pulang.

Pernah suatu hari, dua tahun setelah tsunami menerjang Aceh. Kak Sufriani menelepon saya.

“Ariel, ada kawan ngak di TVRI Riau?” pertanyaan tersebut sontak membuat saya kaget dan sedikit heran.

“Ada, kenapa kak?”

Lalu ia pun bercerita jika seseorang melihat putrinya masih hidup. Sekarang ia berada di Pekan Baru Riau. Lalu saya segera mengontak teman yang bertugas di TVRI Riau. Komunikasipun berlanjut. Namun sayang pencaharian itu tidak membuahkan hasil. Meski demikian Sufriani dan keluarga tidak menyerah. Upaya mencari sang anak yang hilang terus dilakukan. Doapun juga terus dipanjatkan. Walaupun hingga kini putri kecilnya yang telah beranjak besar belum juga kembali.

Sufriani dalam akun media sosialnya pernah mengungkapkan jika ia masih sulit melupakan kejadian tsunami yang merenggut keluarganya. Meski demikian asa itu tetap dipelihara. Ia yakin suatu saat putrinya akan pulang. Keyakinan tersebut amat beralasan. Karena banyak sekali kisah dimana mereka yang hilang selama bertahun tahun karena tsunami akhirnya pulang.

Semangat Sufriani ternyata mengalir ke banyak orang Aceh yang juga mengalami nasib serupa. Kehilangan anggota keluarga namun memiliki keyakinan besar jika mereka masih hidup dan suatu saat akan kembali pulang dan berkumpul bersama.

***







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

Leave A Response