Tuesday 21st November 2017,
Arielogis

Selamat Datang Anakku Saiba

Ariel Kahhari 14/11/2014 Keluargaku 6 Comments
Selamat Datang Anakku Saiba

Pagi itu saya dan anggota keluarga lainnya duduk di selasar Rumah Sakit. Menanti cemas di balik pintu kamar operasi. Hari itu istri menjalani persalinan anak kedua kami. Babak final dari semua perjuangan selama sembilan bulan terakhir. Jika mengenang setiap rentetan peristiwa yang terjadi, entah bagaimana cara saya mengucap rasa syukur. Sembilan bulan semuanya berjalan seperti rollercoaster. Ibarat drama yang alurnya naik turun tapi berakhir bahagia.

Sembilan bulan yang lalu saat hasil tes pack menunjukkan garis dua tanda postif, saya gembira meski tidak bisa menutupi raut kaget. Sebab kami belum merencanakan kehadiran anak kedua. Mengingat usia Shumaila anak pertama kami yang masih belum genap dua tahun. Lagi pula Shumaila lahir melalui proses caesar.  Kata dokter agak riskan jika kehamilan kedua terjadi kurang dari dua tahun dari kelahiran sebelumnya. Tapi Allah punya rencana lain. Untuk kami, Dia memberikan anugerah lebih cepat dari yang diprediksikan. Tetapi kegembiraan itu sempat memudar.

Kata dokter Janin anak kami tidak berkembang. Menurutnya ukuran janin tidak normal bila dibandingkan dengan usia kehamilan. Saya dan istri kaget. Mengingat kondisi seperti ini tidak terjadi pada kehamilan pertama. Saat istri mengandung Shumaila semua berlangsung baik-baik saja. Dari awal kehamilan hingga persalinan. Apa yang terjadi pada calon bayi kami ini tidak pernah kami bayangkan. Pikiran burukpun terlintas.

Ternyata ujian tidak berhenti di situ saja. Dua pekan kemudian saya kembali dibuat panik. Suatu pagi istri menangis karena ia mengeluarkan darah. Saya mengira istri mengalami pendarahan. Pagi itu juga kami segera ke dokter untuk memastikan semuanya. Saya berpikir akan kehilangan calon anak kami. Dan kekhawatiran itu terjadi. Dokter bilang jika pendarahannya masih berlangsung maka hanya ada dua pilihan. Berharap janinnya luruh bersama darah yang keluar. Atau pilihan keduanya, istri terpaksa harus menjalani kuret.

Saya dan istri hanya bisa pasrah. Mimpi untuk memiliki anak kedua sepertinya harus ditunda. Perasaan mulai tidak tenang. Pikiran juga mulai kacau. Banyak pertanyaan yang bermain dalam pikiran. Kok begini banget jalan ceritanya. Kenapa harus pendarahan.Kenapa bayinya harus diambil lagi.  Kenapa ini, kenapa bukan begitu. Saya mulai berandai-andai, bahkan mungkin sedikit menggugat putusan Tuhan.

Saya memutuskan untuk segera bertemu Ibu. Menyampaikan kegundahan. Saya yakin akan banyak petuah dari beliau. Ternyata terbukti, hanya butuh waktu satu jam pikiran kembali tenang. Ibu memberi pesan jika takdir Allah itu jalan yang paling baik. Yang diperlukan hanyalah prasangka baik. Ibu juga mengingatkan dengan cerita yang dialami kakak. Dia harus kehilangan anaknya saat persalinan. Anaknya meninggal. Ibu bilang kondisi yang dialami kakak jauh lebih menyedihkan dibandingkan dengan apa yang sedang saya alami. Mendengar petuah Ibu saya kembali tenang.

Meyakini akan adanya “mukjizat” saya dan istri memanjatkan doa dengan dalam dan penuh harap. Di setiap shalat dan sujud yang sengaja saya panjangkan, kami meminta agar janin tetap hidup dan berkembang. Meski di saat yang sama saya juga berdoa agar dibukakan kelapangan hati jika memang ia tak berjodoh dengan kami.  Namun entah kenapa, meski dokter mengatakan semua akan berakhir, saya yakin jika calon anak kami akan bertahan dan tetap hidup.

Saya dan istri memtuskan untuk berpindah dokter. Bukan mencari peruntungan agar mendapat diagnosa berbeda. kedatangan kami ke praktek dokter hanya sekedar ingin membuat janji kapan kuret dapat dilakukan. Dalam pikiran kami janin ini memang tidak bisa diselamatkan meski pendarahan sudah berhenti. Saat giliran masuk, jujur masih ada sedikit rasa khawatir yang tersisa. Setelah di USG kami pun duduk berhadapan dengan dokter. Diagnosa ini adalah jawaban terakhir yang kami tunggu. Setelah ini tidak ada lagi rasa khawatir. Saya dan istri hanya tinggal menjalani takdir yang sudah digarisi.

“Bayinya sehat” kata dokter.

Saya kaget, istri juga begitu. Bibir mendadak kelu, tangan terasa kaku. Bahkan saya harus bertanya berulang kali untuk memastikan jika calon bayi kami masih hidup. Sampai-sampai Istri harus memberi kode untuk tidak bertanya dengan pertanyaan yang sama.

“Bayinya sehat ukurannya juga normal” kata dokter untuk kesekian kali mempertegas kondisi calon bayi kami.

Malam itu benar-benar menjadi malam yang tidak bisa dilupakan. Allah menjawab doa kami selama ini. Calon bayi kami tetap hidup. Ia berkembang seperti doa yang kami pinta selama ini. Sejak saat itu saya dan istri mempersiapkan diri lebih baik. Saya melarang istri bekerja hingga tiga bulan. Tugasnya hanya istirahat dan istirahat. Menjaga kesehatan diri dan calon bayi kami. Kami tak ingin “kehilangan” ia untuk kedua kali.

Saiba kayaknya suka difoto juga nih..

Saiba kayaknya suka difoto juga nih..

Masih diselasar rumah sakit. Sudah hampir satu jam. Belum ada tanda-tanda jika operasi akan usai. Hingga akhirnya terdengar sayup-sayup suara tangis bayi dari balik pintu kamar operasi.

“Mak, anaknya sudah lahir”

Tidak lama kemudian perawat datang memanggil saya untuk masuk ke dalam ruang tunggu. Ia menyerahkan bayi perempuan. Badannya sudah dibalut kain putih bercorak boneka kecil. Allahuakbar aku memeluk anak kedua kami. Kulitnya putih sama seperti kakaknya. Beratnya tiga kilo. Kata dokter bayinya cantik dan sehat. Alhamdulillah ya Allah. Saya mengucap syukur berkali kali dengan anugerah yang luar biasa ini.

‘Engkau anak yang kuat neuk” saya bisikkan kalimat itu berkali kali.

Sampai ia lahir, saya dan istri belum mempersiapkan nama. Kata istri, saya harus memberinya nama yang dapat menggambarkan setiap cerita yang kami lalui.  Ternyata memutuskan nama itu tidak mudah. Butuh waktu lumayan panjang. Hingga akhirnya kami menemukan sebuah nama yang indah. Kami menamainya dengan Nusaibah Asyi Kahhari. Nusaibah adalah perempuan tangguh, kuat dan berani. Dia menemani Rasulullah saat perang uhud. Dalam perang tersebut Nusaibah tergabung dalam kelompok yang memberi minum kepada pasukan Muslimin yang kehausan dan merawat mereka yang terluka. Saat tentara Islam terdesak dan lari dari medan perang, hanya ada seratus orang saja yang tetap bertahan. Nusaibah adalah salah satu yang menghunuskan pedang serta memakai perisai untuk melindungi Rasulullah dari dikejaran musuh. Selain diperang uhud, Nusaibah juga serta ikut serta dalam sejumlah perang lainnya seperti Perang Hudaibiyyah, Perang Hunain dan Perang Yamamah serta menyaksikan Bait al-Aqabah. Sementara kata Asyi adalah kata Aceh dalam bahasa Arab. Sebagai orang tua, saya dan istri berharap agar ia bisa tumbuh menjadi perempuan Aceh yang kuat, tangguh menghadapi tantangan, dan tentu saja terletak kemuliaan dalam hidupnya.

Nusaibah, nama indah itu memang pantas engkau sandang neuk. Sebab engkau bertahan dan kuat disaat dulu Ayah dan Bunda merasa akan kehilanganmu.

***







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

6 Comments

  1. Mira 25/11/2014 at 17:01

    Selamat b.ariel dan keluarga atas kelahiran babynya.
    Semoga Saiba sehat terus, tumbuh jadi anak yg sehat, sholeha, kebanggaan orang tua. Uminya juga :)

  2. Ari 18/11/2014 at 11:58

    Tapi sekarang jauh-jauhan dari Saiba ya Bang Ariel?

    • Ariel Kahhari 20/11/2014 at 00:09

      Iya jadi nya suka galau hahha… tapi diusahakan tiap hari nelp. kalau ngak bisa nelp paling BBM.. minta dikirimin foto anak-anak… trus dipajang di kamar kost

  3. Ainur Rahmah 14/11/2014 at 01:24

    keren bnget ceritanya, yg menarik, cerita nusaibah ketika peran uhud bersama nabi,
    semoga nusaibah junior ini bisa tumbuh dg baik dan sholehah. seperti nusaibah binti ka’ab sahabat rasulullah. :)

    • Ariel Kahhari 14/11/2014 at 10:44

      Hehehe makasih beuh. Moga Saiba jd anakyang membanggakan… amien

Leave A Response