Wednesday 24th July 2019,
Arielogis

Sejuta Asa dari Gampong Jawa

Ariel Kahhari 25/04/2019 Suara Langit No Comments
Sejuta Asa dari Gampong Jawa

Sejak tahun 1994, Tempat Pembuangan Akhir TPA Gampong Jawa telah menjadi bagian penting dari Kota Banda Aceh. Lokasi ini menjadi titik akhir dari seluruh sampah yang dikumpulkan oleh para petugas kebersihan. Jika pada awal pembangunannya, luas TPA ini hanya 12 hektar maka pasca tsunami 2004 luasnya bertambah menjadi 21 hektar. Perluasan ini tidak terlepas dari meningkatnya jumlah sampah yang dihasilkan akibat pertambahan penduduk yang menempati kota ini.

Pasca lahirnya Undang-Undang tentang pengelolaan sampah, TPA Gampong Jawa tercatat sebagai TPA pertama di Indonesia yang mengubah sistem operasional dari open dumping menjadi sanitary landfill . Ini adalah cara penimbunan sampah yang dilakukan di dalam tanah. Dengan sistem ini maka kelayakan terhadap kesehatan, keamanan, dan keberlanjutan ekosistem di sekitar TPA akan lebih terjamin. Dengan demikian sampah yang dihasilkan oleh masyarakat Banda Aceh dapat dikelola dengan baik.

mobil beko-01

Inilah TPA Gampong Jawa

Selama kurun waktu 25 tahun TPA Gampong Jawa telah menjadi sandaran bagi banyak keluarga di Kota ini. Meski kini pembuangan sampah sudah dilakukan di TPA Regional Blangbintang Aceh Besar, namun TPA Gampong Jawa masih menjadi tempat transit. Bahkan dari 220 ton rata-rata sampah yang dihasilkan warga Banda Aceh setiap hari, 10 hingga 20 persennya masih dibuang di TPA Gampong Jawa.

Mereka adalah warga yang menggantungkan hidupnya dari barang bekas yang dikumpulkan saban pagi hingga senja menjelang. Keterbatasan ekonomi dan pendidikan memaksa mereka menjadi seorang pemulung. Saya berkesempatan menemui mereka. Dari pinggiran TPA, saya melihat perjuangan mereka mengais barang, berlomba dengan alat berat yang membelah gunung-gunung sampah. Siang yang amat terik membuat sejumlah pemulung memilih berdiam di bawah tenda yang terbuat dari plastik bekas. Sementara lainnya memanggul barang yang masih bisa didaur ulang. Di sini jenis kelamin tidak menjadi pembeda. Laki-laki tak lantas menjadi raja. Sebab perempuan juga tampak begitu perkasa. Kondisi yang kurang bersahabat ini telah membuat mereka menjadi kuat walaupun sebagian diantaranya tidak lagi muda.

Cerita tentang Gampong Jawa bukan hanya berhenti disitu saja. Ada kisah lain yang juga tak kalah heroik. Ini tentang sekumpulan anak muda Banda Aceh yang mendedikasikan sebagian waktunya untuk anak-anak dari keluarga nelayan dan pemulung di Gampong Jawa. Bila akhir pekan tiba, biasanya mereka berkumpul di salah satu titik di Bantaran Krueng Aceh. Bermain merupakan cara jitu guna melepas penat dan masalah ekonomi yang menjerat ibu, ayah dan keluarga mereka. Persoalan ini sedikit banyaknya telah mencabut keceriaan masa kecil mereka.

Saya menemui Maulidar, koordinator dari program ini. Selama tujuh tahun terakhir, ia bersama para relawan dari Komunitas Taman Edukasi mengumpulkan anak-anak Gampong Jawa untuk diajak bermain, menggambar, belajar Iqra’ serta menghafal doa-doa harian. Mereka sengaja memilih duduk di Bantaran Krueng Aceh, beratapkan langit yang tertutupi rerimbunan cemara.

Sejak lima tahun setelah pendiriannya di tahun 2012, Komunitas Taman Edukasi telah berhasil mengumpulkan 40 orang anak-anak. Jumlah ini tentu saja terus bertambah. Pada awal digulirkannya program ini, Maulidar dan para relawan kerap menghadapi rintangan dari keluarga anak-anak.

“Orang tua khawatir jika kegiatan ini akan mengganggu jam kerja mereka” ujarnya.

Ketakutan ini sebenarnya cukup beralasan. Selama ini anak-anak juga turut membantu keluarga dalam mengumpulkan dan membersihkan botol air mineral. Dengan pekerjaan tersebut  mereka dapat memperoleh 20 ribu rupiah setiap hari. Uang ini menjadi penyambung kehidupan mereka.

09

Bantaran Krueng Aceh adalah lokasi favorit

  anak pmulung4-01

Belajar bisa dimana saja

 pemulung8-01

Bo pun tersenyum

Tumbuh dalam lingkungan yang keras membuat sebagian besar anak pemulung dan nelayan ini kehilangan perhatian dan kehangatan keluarga. Anak-anak terbiasa berbicara dengan nada tinggi. Perkelahian antara mereka pun kerap terjadi.  Bo adalah salah satunya. Ia senang berlari, berlompat, berkelahi, berteriak dan mengganggu teman-temannya yang tengah asik menggambar.

Dari Maulidar saya tau jika Bo tumbuh dari keluarga yang kurang sempurna. Ayahnya pergi sedangkan ibunya dalam keadaan sakit. Sesekali tangan Maulidar hendak menggapai Bo yang belarian di bantaran Krueng Aceh. Ketika berhasil, ia menghadiahi Bo dengan satu pelukan. Maulidar hanya ingin memastikan jika Bo dan yang lainnya dapat merasakah kebahagiaan seperti anak kecil lainnya.

“Waktu mereka terbatas. Sebentar lagi mereka akan dewasa”

Apa yang disampaikan Maulidar memang benar adanya. Kini Bo telah mulai bersekolah. Meskipun tidak mudah untuk mengajaknya duduk di dalam kelas dengan berseragam lengkap. Bahkan ia nyaris tidak masuk sekolah di hari pertamanya. Tapi upaya mendorong anak-anak untuk bersekolah tetap dipertahankan. Sebab ini sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Banda Aceh menuju Sustainable Development Goals yang menekankan pentingnya kualitas pendidikan. Selain itu para relawan meyakini jika sekolah akan membentuk Bo dan lainnya menjadi anak yang lebih baik.

Kegigihan Maulidar beserta relawan lainnya sempat menghantarkannya meraih penghargaan dari Pemerintah Kota Banda Aceh pada tahun 2014 lalu. Ia dianugerahi Banda Aceh Madani Award pada kategori Inisiator “Taman Edukasi Pemulung”. Ini adalah penghargaan yang diberikan bagi mereka yang berkontribusi nyata dalam mendukung program pembangunan dan visi Kota Banda Aceh. Namun baginya penghargaan tersebut hanyalah bonus. Sedari awal ia dan rekan-rekan hanya fokus pada upaya pendampingan pendidikan anak-anak di Gampong Jawa.

Hingga kini Komunitas Taman Edukasi masih terus menemani tumbuh kembang anak anak Gampong Jawa. Sulit rasanya bagi Maulidar dan para relawan untuk meninggalkan  mereka. Di tengah kesibukan yang ada, mereka tetap menyempatkan diri hadir, berbaur dan berbagi cerita dengan para anak-anak. Sebab para relawan mengerti jika mimpi harus digantung pada tempat paling tinggi. Masa depan berhak dimiliki oleh siapa saja. Dan inilah peran kecil yang telah diambil oleh Maulidar dan relawan lainnya dalam membangun Kota.

***

 

.







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

Leave A Response