Monday 20th November 2017,
Arielogis

Ramadhan Bulan Hemat Pangan

Ariel Kahhari 09/07/2015 Suara Langit No Comments
Ramadhan Bulan Hemat Pangan

Dalam sebuah sidang yang berlangsung di gedung parlemen, Habibie yang saat itu menjabat sebagai Presiden RI berkesempatan memberikan pidato kenegaraan. Penjabarannya tentu berkaitan dengan persoalan bangsa yang kala itu tengah bertahan dan coba bangkit dari keterpurukan akibat krisis. Salah satu konsep yang ditawarkan BJ Habibie adalah penghematan pangan.  Pangan selalu menjadi isu penting bagi semua negara termasuk Indonesia. Sebab hal tersebut merupakan hak dasar masyarakat yang harus mampu dipenuhi oleh negara. Pemerintah bisa dianggap gagal kalau tidak dapat menyediakan stok pangan yang cukup, dengan harga yang terjangkau.

Konsep hemat pangan yang ditawarkan Habibie saat itu adalah puasa senin kamis. Dalam pidatonya Habibie memaparkan simulasi berapa banyak pangan yang dapat dihemat negara jika masyarakat muslim Indonesia menjalankan puasa senin kamis. Angka penghematan itu dapat dilihat pada satu kali puasa, sepekan, sebulan hingga setahun. Pada kesimpulannya Habibie berkeyakinan jika Indonesia mampu menghemat pangan dengan jumlah yang sangat signifikan. Pidato tersebut mendapat tepukan riuh dari anggota parlemen meski saat itu konsep yang disampaikan Habibie memang tidak lazim. Namun ia seakan menegaskan bahwa puasa selain menjadi ibadah, juga merupakan bentuk kontribusi umat Islam kepada negara. Adalah kesempatan bagi siapa saja untuk menghemat pangan. Hidup lebih sederhana.

Hemat pangan baik dengan mengurangi jumlah konsumsi maupun diversifikasi pangan adalah hal penting. Sebab pada suatu titik nanti, dunia akan menghadapi krisis pangan yang amat mengkhawatirkan. Krisis ini terjadi seiring peningkatan jumlah penduduk dunia. Saat itu akan banyak mulut yang harus disuapi sementara lahan pertanian akan terus berkurang karena beralih menjadi lahan pemukiman. Padahal lahan merupakan faktor produksi yang hingga kini sulit untuk digantikan. Saat krisis pangan terjadi, stok terbatas, harga menjadi mahal bahkan bisa jadi tidak mampu dijangkau oleh kelompok masyarakat tertentu. Apalagi disaat yang sama masyarakat masih belum terbiasa mengkonsumsi pangan selain beras.

Jika kembali merujuk pada ide brilian BJ Habibie, maka puasa memiliki benang merah dengan upaya penghematan pangan. Maka Ramadhan yang kini tengah dijalani oleh Umat Islam merupakan sebuah kesempatan. Ia adalah peluang untuk membiasakan diri mengurangi jumlah pangan yang dikonsumsi. Ramadhan juga waktu baik bagi umat islam mendidik diri agar terbiasa menkonsumsi pangan diluar beras. Makan memang tidak selalu harus beras ataupun produk yang terbuat dari terigu maupun gandum. Jagung, ketela, umbi-umbian merupakan pilihan lain yang dapat digunakan masyarakat sebagai panganan selama berpuasa.

Umat bersepakat, bukankah hemat adalah akar ibadah yang diajarkan oleh Rasulullah. Coba saja lihat bagaimana Muhammad SAW mengajarkan pengikutnya tentang kesederhanaan dalam menikmati saat berbuka puasa. Hanya denga rothb atau kurma basah dan air. Hanya itu. Bukan dengan tumpukan roti gandum  ataupun pangan berkabohidrat lainnya. Jika dihitung secara finansial sangat jelas jika berbuka ala Rasulullah sangat hemat. Belum lagi manfaat yang diperoleh secara kesehatan. Gula yang terdapat dalam kurma mampu menghasilkan energi yang dibutuhkan tubuh yang terkuras sepanjang hari saat berpuasa. Namun kita kerap kalap saat menyiapkan menu berbuka. Tidak heran jika pengeluaran selama Ramadhan membengkak dibandingkan pengeluaran saat di luar Ramadhan.

Kurma, makanan sunnah saat berbuka (arrahmah.com)

Kurma, makanan sunnah saat berbuka (arrahmah.com)

Hemat pangan memerlukan keikutsertaan masyarakat di dalamnya. Al-Quran menjelaskan perihal tersebut saat Mesir akan mengalami krisis pangan karena musim paceklik. Nabi Yusuf yang saat itu ditampuk sebagai punguasa Mesir diwahyukan bagaimana cara mengelola pertanian baik selama musim penghujan dan musim kering yang masing-masing keduanya berlangsung selama tujuh tahun berturut turut. Yang dilakukan Nabi Yusuf adalah dengan mengoptimalkan lahan pertanian dan meningkatkan produksinya. Para petani Mesir diminta bekerja keras untuk meningkatkan produksi. Hasil panen yang dihasilkanpun tidak dapat dikonsumsi dalam jumlah besar. Hanya sebagian kecil saja untuk dimakan sedangkan lainnya akan dijadikan sebagai benih untuk tahapan produksi berikutnya. Kisah yang dijelaskan dalam surah Yusuf ini menegaskan jika hemat pangan memang harus mengikutsertakan masyarakat. Rakyat harus bisa berhemat.

Hemat adalah bentuk dari kemampuan diri manusia dalam mengendalikan diri. Tidak rakus, terkendali baik saat membeli, menggunakan bahkan mengkonsumsi sesuatu termasuk pangan. Dan Ramadhan sejatinya mendidik manusia untuk menjadi insan yang terkendali. Berkuasa atas diri sendiri dalam menjalankan kebaikan secara berketurusan serta mampu mengendalikan diri menghindari segala keburukan. Jika janji akhir Ramadhan adalah ketakwaan maka mampu mengendalikan diri adalah sebuah keniscayaan. Dan hemat merupakan benang merah dari ketakwaan yang tidak dapat dipisahkan.  Hari-hari Ramadhan yang masih tersisa adalah kesempatan bagi kita untuk belajar berhemat pangan. Bukankah keberkahan tidak ditentukan dari berapa banyak makanan memenuhi piring melainkan bersihnya pingan dari sisa makanan.

***

 Tulisan ini dimuat pada kolom “Tausiah Ramadhan” Koran Rakyat Aceh Edisi 09 Juli 2015







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

Leave A Response