Tuesday 26th September 2017,
Arielogis

Peunayong “Chinatown-nya Banda Aceh”, Semua Ada di Sini

Peunayong “Chinatown-nya Banda Aceh”, Semua Ada di Sini
suasana-banda-aceh-di-atas-jembatan-peunayong_1

Dua sisi Banda Aceh dari atas jembatan Peunayong

Waktu itu hari masih pagi. Tapi para pesembahyang mulai memadati Vihara Dharma Bhakti. Dari dalam ruangan, asap tampak mengepul tebal. Lilin ditata rapi di atas meja panjang. Nyala api membuat bangunan merah ini tampak semakin menyala. Bau dupa tercium amat kuat. Buah dan kue tersaji dalam nampan. Satu persatu pesembahyang hilir mudik memanjatkan doa. Mereka tampak bersuka cita. Imlek dirayakan tanpa raut kecemasan dan ketakutan.

Jika anda berkunjung ke Banda Aceh jangan lupa singgah ke Peunayong. Gampong [desa] yang terletak persis di tengah kota ini juga dikenal sebagai chinatown-nya Banda Aceh. Di sini lebih dari 2000 jiwa masyarakat keturunan Tionghoa bermukim. Mereka adalah Warga Tiongkok generasi ke-4 atau ke-5 dari buyut mereka yang datang pada abad ke-19. Dalam buku berjudul Etnis Cina Perantauan di Aceh karya A. Rani Usman menjelaskan jika mereka berasal dari suku Khek, yang berasal dari Provinsi Kwantung, Tiongkok. Di Peunayong mereka mencari nafkah dan berbaur dengan masyarakat pribumi lainnya.

Peunayong sendiri berasal dari kata peu dan payong yang berarti memayungi atau  melindungi. Sejak dulu Peunanyong memang telah menjadi daerah internasional. Pada zaman kepemimpinan Sultan Iskandar Muda daerah ini dijadikan sebagai kota “spesial’. Disebut spesial karena Sultan memberikan rasa aman kepada para tamu yang datang ke daerah ini. Bahkan tak jarang Sultan juga menjamu tamu kerajaan yang datang dari Eropa maupun Tiongkok.

Peunayong merupakan lokasi bersejarah. Keterikatan Aceh dan Tiongkok semakin kuat kala Laksamana Cheng Ho melakukan kunjungan ke Kerajaan Samudera Pasai di utara Aceh pada tahun 1415. Laksamana Cheng Ho yang beragama Islam disambut baik bagaikan keluarga. Bahkan bukti kedekatan tersebut hingga kini masih dapat dilihat. Sebuah lonceng yang berada di komplek Museum Aceh.  Lonceng yang dikenal sebagai lonceng cakradonya!

Tidak hanya pada zaman kesultanan saja. Keberadaan Peunanyong tetap dipertahankan saat zaman penjajahan Belanda. Daerah ini sengaja di desain dan dibangun dengan konsep kampung pecinan. Hingga kini kita masih dapat melihat sejumlah gedung peninggalan tempo dulu. Saksi bisu kemegahan Aceh pada zaman lampau. Namun sayang sejumlah gedung mulai dipugar bahkan tidak dijaga dengan baik sehingga rapuh di makan zaman.

Bangunan tua di Peunayong

Bangunan tua di Peunayong

sisi lain bangunan tua di Peunayong

sisi lain bangunan tua di Peunayong

Semuanya ada di Peunayong

Pada 26 Desember 2004 tsunami menyapu daratan Aceh.  Peunayong termasuk salah satu daerah yang tersapu gelombang dahsyat tsunami. Kawasan ini lumpuh total. Puing-puing bekas bangunan berserakan. Mayat bergelimpangan. Peunayong berubah menjadi kota mati. Para penghuninya memilih mengungsi ke propinsi tetangga, Sumatera Utara.

Namun kini kondisi Peunayong semakin tertata rapi. Taman dengan pohon rindang di sepanjang median jalan. Bahkan kehidupan bisnis pun semakin menggeliat. Sebagai basis dari etnis Tionghoa, Peunayong memang menjadi sentra bisnis di Banda Aceh. Di kanan-kiri jalan ruko berdiri tegak. Berbagai barang pun dijual. Mulai dari toko eletronik, handphone, pakaian hingga restoran fast food.

Suasana pagi di Peunayong

Suasana pagi di Peunayong

Sejak pemerintah kota Banda Aceh mendeklarasikan tahun kunjungan wisata, sejumlah objek telah mendapat sentuhan perbaikan. Fasilitas bagi wisatawan pun disempurnakan. Hotel, toko sovenir, restoran, warung kopi maupun cafe jumlahnya semakin bertambah.  Semuanya ada di Peunayong!

Pemerintah sadar bahwa wisatawan merupakan raja yang kebutuhannya harus terpenuhi. Apalagi wisata merupakan sumber pendapatan bagi daerah yang dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Wisatawan bisa berbelanja, menginap dan menikmati kuliner yang ada. Transaksi itu dilakukan langsung oleh para wisatawan kepada penduduk lokal.

beberapa Hotel berbintang juga ada di Peunayong

beberapa Hotel berbintang juga ada di Peunayong

Pengembangan wisata Banda Aceh pun dilakukan dengan menyentuh banyak aspek. Pemerintah kota mengembangkan wisata budaya, sejarah, religi, tsunami, wisata bahari hingga kuliner. Banda Aceh benar benar kaya akan potensi wisata. Salah satu daya tarik Banda Aceh adalah wisata kuliner. Jika anda ke Peunayong  jangan lupa untuk menikmati kuliner dengan cita rasa sempurna. Mie razali, dan REX adalah dua lokasi yang bisa anda kunjungi.

Mie razali sudah ada sejak tahun 1967. Restorannya memang tampak sederhana. Hanya dua ruko saja. Tapi jangan salah, sudah banyak orang yang datang ke sana menikmati hidangan mie kelas dunia. Harganya sangat terjangkau. Mulai dari Rp. 10.000 hingga Rp. 40.000. Lokasinya pun sangat mudah ditemukan. Persis di seberang Vihara Dharma Bakti. Belum sempurna rasanya jika ke Banda Aceh tapi tidak menikmati mie Razali. Cita rasa sepanjang masa.

Mie Razali

Mie Razali

Mie campur ala Mie Razali

Mie campur ala Mie Razali

Selain Mie Razali ada juga REX. Lokasinya berada persis di depan Hotel Medan. Jika anda memilih menginap di salah satu hotel yang ada di Peunayong maka REX merupakan pilihan tepat untuk menikmati kuliner khas Aceh. Di sini berbagai makanan tersedia. Harganya sangat terjangkau. Di dekat REX juga terdapat toko souvenir “Piyoh”. Tidak ada salahnya setelah menikmati sepiring sate matang khas Aceh, anda langsung berbelanja souvenir untuk dibawa pulang.

REX, pusat jajanan makanan terlezat

REX, pusat jajanan makanan terlezat

Peunayong “Laboratorium” Toleransi di Banda Aceh

Tidak hanya lengkap dengan kebutuhan para wisatawan. Namun Peunayong juga menawarkan hal lain. Ada yang unik dari gampong ini. Plural dan toleran.  Toleransi merupakan kata yang sangat akrab bagi masyarakat Aceh. Sejak dulu hidup berdampingan di tengah perbedaan sudah menjadi hal lumrah. Dulu Aceh pernah menjadi bangsa besar. Berhubungan dengan banyak negara di Eropa dan Asia.

Kala itu berinteraksi dengan komunitas yang datang dari beragam suku bangsa, agama dan bahasa telah menjadi pemandangan sehari-hari. Maka tidak mengherankan jika dulu kesultanan Aceh berhasil menggenggam persahabatan dengan Ratu Inggris, Kekhalifahan di Turki serta beraneka ragam kisah yang menyiratkan masa keemasan Aceh.

Kini jejak membanggakan tersebut masih tampak terlihat jelas. Sebut saja peninggalan fisik seperti makam para Sultan dan Sulthanah, komplek pemakaman para serdadu Belanda hingga keberadaan gampong [desa] yang pernah menjadi komplek kesultanan Aceh.

Namun selain bentuk fisik, sisa peninggalan itu ternyata juga hadir dalam bentuk nilai. Nilai itu mengalir dalam darah generasi Aceh masa kini. Sifat saling menghargai dan menghormati itu turun menurun dan tak pernah lengkang oleh waktu.

Di Peunayong, Mesjid, Vihara dan Gereja berada dalam satu daerah yang sama. Suara lonceng di tiap pekannya, atau suara azan yang berkumandang lima kali sehari menjadi sisi menarik lain dari Peunayong. Bahkan terkadang ritual ibadah menjadi tontonan warga.

Vihara, Mesjid dan Gereja di kawasan Peunayong

Vihara, Mesjid dan Gereja di kawasan Peunayong

Wujud keseriusan pemerintah dalam memberi rasa nyaman saat beribadah

Wujud keseriusan pemerintah dalam memberi rasa nyaman saat beribadah

Saya pernah meliput perayaan imlek di Banda Aceh. Liputan ini menjadi menarik karena imlek di laksanakan di negeri yang menerapkan syariat Islam. Apalagi Banda Aceh termasuk kota di propinsi Aceh yang tergolong ketat dalam menegakkan hukum Islam.

Waktu itu hari masih pagi. Tapi para pesembahyang mulai memadati Vihara Dharma Bhakti. Dari dalam ruangan, asap tampak mengepul tebal. Lilin ditata rapi di atas meja panjang. Nyala api membuat bangunan merah ini tampak semakin menyala. Bau dupa tercium amat kuat. Buah dan kue tersaji dalam nampan. Satu persatu pesembahyang hilir mudik memanjatkan doa. Mereka tampak bersuka cita. Imlek dirayakan tanpa raut kecemasan dan ketakutan.

Ada hal menarik yang tampak dari dalam Vihara. Sejumlah warga Banda Aceh non Tionghoa diizinkan untuk melihat lebih dekat bagaimana ritual sembahyang  dilakukan. Meski diizinkan masuk, namun mereka lebih memilih berdiri di luar Vihara. Sesekali tampak beberapa warga yang mengambil foto untuk dijadikan kenang-kenangan. Sementara para pesembahyang merasa tidak keberatan. Ritual tetap dilakukan.

Pesembahyang di Vihara Dharma Bhakti

Pesembahyang di Vihara Dharma Bhakti

Saya menjumpai pesembahyang yang telah selesai berdoa. Bakri namanya. Dia adalah pengurus Vihara Dharma Bakti. Kami berbicara banyak hal. Termasuk bagaimana mereka bisa bertahan di Banda Aceh. Hidup, tinggal, bekeluarga, bekerja hingga menjalankan keyakinannya di negeri berjuluk serambi mekkah.

“Kami nyaman dan senang merayakan imlek di Banda Aceh” kata Bakri

Menurutnya pemerintah kota Banda Aceh sejak dulu tidak pernah membatasi apalagi melarang umat non muslim dalam menjalankan ibadah dan keyakinan. Warga diberi kebebasan. Tidak hanya imlek, peringatan waisak, natal, paskah juga dilangsungkan penuh dengan rasa khidmat.

Interaksi sosial tentu tidak hanya terjadi dalam perayaan imlek saja. Hubungan toleransi itu juga tampak saat malam takbiran tiba. Biasanya pemerintah menggelar pawai obor dan karnaval mengelilingi kota. Kegiatan ini diikuti oleh ribuan warga. Jalan sesak di penuhi masyarakat. Dan Peunayong adalah salah satu daerah yang dilalui oleh para peserta konvoi. Takbir tahmid dan lantunan zikir dipanjatkan. Di sana warga berkumpul termasuk di dalamnya warga Tionghoa.

Banda Aceh di usia nya yang menebus 809 tahun seakan mempertegas bahwa berbeda adalah sebuah rahmat. Negeri syariat yang kini berupaya menjadi kota madani. Kota berperadaban. Beradab karena mayoritas dapat menjadi pelindung dan minoritas merasa terlindungi.

Kini berkunjung ke Banda Aceh tidak hanya sekedar menikmati keindahan alamnya semata. Atau melihat sisa dari kedahsyatan tsunami 2004 silam. Berwisata ke Banda Aceh juga bukan pula sekedar menikmati secangkir kopi atau lezatnya kuah belanga. Di Banda Aceh kita juga dapat belajar dan memahami. Jika hidup berdampingan di tengah perbedaan adalah sebuah anugerah yang terasa amat indah. Peunayong adalah buktinya!

***

[Tulisan ini memperoleh juara ke II dalam “Banda Aceh Blog Competition 2014″]







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

49 Comments

  1. Rullah 23/10/2014 at 08:21

    Wah jadi pengen keliling dikota Aceh :-D

  2. Akbar Maulana 22/10/2014 at 17:27

    Banda Aceh keren memang benar keren.. salam hangat dari kota medan bang

    • arielkahhari 22/10/2014 at 19:29

      datang datang lah ke Banda.. dekat kali pun. 45 menit naek pesawat heheh

  3. Baba Studio 19/10/2014 at 10:02

    Undangan Menjadi Peserta Lomba Review Website berhadiah 30 Juta.

    Selamat Siang, setelah kami memperhatikan kualitas tulisan di Blog ini.
    Kami akan senang sekali, jika Blog ini berkenan mengikuti Lomba review
    Websitedari babastudio.

    Untuk Lebih jelas dan detail mohon kunjungi http://www.babastudio.com/review2014

    Salam
    Baba Studio

  4. hanif sofyan 10/07/2014 at 10:49

    cool

  5. Yayat Muzaiyat 18/06/2014 at 13:22

    Di Kedah, seberang jembatan Peunayong juga ada rumah ibadah lain bang, sebuah kuil Hindu yang ane lupa namanya. Hehe..
    Banda Aceh dan kalau bisa Aceh tanpa diskriminasi, cita-cita kita semua.

  6. xamthone plus 09/06/2014 at 11:39

    mantapppp punayong bisa menyuguhnkan berbagai macam jajanan..jadi pengennnn ;)

  7. mrbedelaje 21/05/2014 at 17:47

    asek asek asek……
    emang mantep ini, layak jaadi juara
    selamat ya mas bhro, smoga suksesnya bisa nular ke Ane
    amin amin amin Ya Rabb
    salam sukses dan salam blogger

  8. Olive B 21/05/2014 at 02:04

    waaaaah, selamat ya menang

  9. Aceh Planet 02/05/2014 at 12:10

    Tulisan yang menarik. Info tentang Wisata Aceh disini juga ada : http://acehplanet.com/

  10. Ceudah 01/05/2014 at 08:38

    nyoe ka meunang, kana soe balen cindoi :)

  11. muarif 30/04/2014 at 20:15

    Halah, gak bener nih kalo tulisan ini kalah.

    • arielkahhari 30/04/2014 at 22:20

      hahha. mari ketik arielogis kirim ke mana saja

  12. pidafida 30/04/2014 at 13:05

    Baiklah…. Judul boleh sama.. asal sama sama menang :)) xixixixxi

  13. Ruslan 30/04/2014 at 13:09

    Yaya, keren bang. hahaha

  14. Sii Isni 30/04/2014 at 12:44

    Mie Razali ga boleh dilupakan, emang ya. Makan. :D

    • arielkahhari 30/04/2014 at 12:53

      minta dibungkus dan makannya di dekat lonceng cakradonya….

  15. Aslan Saputra 27/04/2014 at 09:12

    mantapnya memang Peunayong itu dipoles jadi tempat pejalan kaki ya bang..
    jadi ga macet dengan hirukpikuk motor, mobil sampai truk pula..

    btw kayaknya ini saingan juara nih :D

    • arielkahhari 28/04/2014 at 07:14

      banda aceh memang harus punya area khusus pejalan kaki. peunayong kayaknya cucok deh hehhe

  16. Donny BELIA 27/04/2014 at 00:04

    Luar biasa Peunayong, mampu menyuguhkan berbagai aneka jajanan yang penuh dengan cita rasa. salah satu nya adalah icip-icip “Mie Razali” #awak kalo ke peunayong selalu singgah kesitu awak kek gitu orang nya ;-)

    • arielkahhari 27/04/2014 at 06:49

      hahha mie razali emang mak nyuss mas bro

    • arielkahhari 30/04/2014 at 08:51

      kapan ke banda lagi?? kita makan sate matang di Rex

  17. Makmur Dimila 26/04/2014 at 00:25

    Ajak ngopi kami juga ya kalo menang. :D

  18. Fardelyn Hacky 25/04/2014 at 22:01

    Mantap kali tulisannya.
    Kalo menang, jangan lupa traktir ya :p

    • arielkahhari 26/04/2014 at 06:27

      hahha gampang tu. mau di traktir apa? emas mau ki?

  19. buzzerbeezz 25/04/2014 at 11:48

    Keren li tulisannya.. Ikut lomba kan ya ini bang? Semoga menjadi salah satu pemenangnya :D

    • arielkahhari 25/04/2014 at 14:09

      hehe iya ni. makasih ya doanya. selamat juga buat juara lomba yg itu. kapan ke belanda nya.?

  20. Citra Rahman 25/04/2014 at 10:07

    Di Peunayong itu juga punya spot menikmati sunset yang menarik. Harus jeli aja mencari lokasinya.

  21. hafizh 25/04/2014 at 10:59

    bagian pemugaran itu bisa di jelaskan bro aril lebih lnjutt….

Leave A Response