Image
Ilustrasi ATM (republika)

Jangan mengambil uang di ATM pada malam hari apalagi ditempat yang sepi. Karena anda tidak pernah tau siapa yang menunggu diluar pintu.  Mereka seakan mengincar siapa saja yang masuk ke ATM saat suasana sepi. Andapun dapat menjadi korban pemerasan hingga kekerasan.

Sudah pukul sembilan malam. susu dan pampers Shumaila abis, pesan yang dikirim istriku.  Aku putuskan segera pulang. Sejak sore hari aku berada di rumah ibuku dikawasan Beurawe Banda Aceh. Aku mengunjungi beliau setelah pulang dari diklat di jakarta selama beberapa hari. Sampai di depan sebuah hotel dikawasan Lamprit Banda Aceh aku putuskan untuk menarik uang di ATM.

ATM nya berada dipojok parkiran. Tertutupi oleh mobil yang berderet panjang. Suasana sepi. Tidak ada orang. Jalan yang ada didekat ATM pun juga tidak ramai seperti biasa. Sebenarnya aku memang sempat khawatir. Bukan karena suasananya, melainkan takut jika harus kembali kehilangan kartu ATM. Dua hari sebelumnya kartu ATM ku tertelan saat berbelanja di Margonda City Depok. Meski demikian aku putuskan tetap mengambil uang di ATM itu. Karena uang di dompet tidak cukup membeli keperluan putri kecilku.

Setelah mengambil uang dan hendak membuka pintu, aku lihat seorang perempuan paruh baya berdiri diluar ATM. Dia berbaju dan berkerudung merah maroon. Kulitnya hitam, mungkin karena sering diterpa sinar matahari. Tatapannya kosong.

Awalnya aku mengira, si ibu mau menarik uang. Namun ketika aku hendak menghidupkan motor yang kuparkir persis disamping ATM, dia menyapaku.

“Jeut bahasa Aceh?” tanya nya padaku untuk memastikan aku fasih berbahasa Aceh atau tidak.

Aku mengangguk. Setelah itu dia berkicau tanpa henti. Dia mengaku orang miskin. Mau pulang kampung. Dia harus membiayai anak yatim.

“Pat tinggai dreun kak?” tanya ku tentang tempat tinggalnya.

“Langsa “ jawabnya.

Lalu dia kembali berkicau. Jika dia harus menemani kakaknya yang tengah di rawat inap di Rumah sakit yang berada dekat dengan tempat kami berada. Dia juga mengaku tidak memiliki sanak saudara di Banda Aceh.

Sebenarnya aku tau ini hanya acting murahan yang diperagakan didepanku. Tapi aku juga tidak mungkin menjawab tidak punya uang. Karena jelas jelas aku baru saja menarik uang. Aku juga tidak mungkin melabrak karena khawatir jika benar dia orang susah, bisa bisa Tuhan melaknatiku.

“Okelah, Kak nyoe na peng siploh ribee. Cuma nyoe nyang jeut lon joek”. aku menyerahkan uang lima ribuan dua lembar dan bergegas pergi. Dengan suara lirih dia mengucapkan terimakasih.

Kulihat dia masih menunggu didepan ATM itu. Entah apa yang akan dilakukan berikutnya. Membeli nasi dengan uang yang kuberikan atau menunggu “korban” berikutnya.

Aku pun berpikir jika saja yang menjegatku tadi bukan seorang perempuan paruh baya melainkan tiga orang preman, mungkin nasibku akan beda. Tidak saja kehilangan uang, bisa saja aku juga mengalami tindak kekerasan lainnya. Atau jika saja bukan aku yang mengalaminya, melainkan orang lain. Perempuan misalnya, pasti cerita ini akan punya alur yang berbeda pula.

Tapi mengambil uang di ATM pada malam hari dan dilokasi yang relatif sepi lebih baik tidak dilakukan. Sangat beresiko

TVRI Aceh, 11.35. 18092013.