Wednesday 20th September 2017,
Arielogis

Perempuan Aceh kok dibilang Pelacur

Ariel Kahhari 27/07/2015 Suara Langit 22 Comments
Perempuan Aceh kok dibilang Pelacur

Tulisan ini bukan untuk menyaingi kesuksesan tulisan “Perempuan Aceh Yang Lebih Murah Dari Pelacur- PAYLMDP”. Bukan pula untuk mendompleng nama agar blog saya dihujani pembaca. Saya hanya coba memberi pandangan lain atas tulisan tersebut. Sebab dulu ketika saya menulis tentang “(jangan) menikah dengan  gadis Aceh”   banyak juga pembaca yang geram. Cemoohan dan caci maki juga dilontarkan. Padahal niat saya baik. Mereka yang mengerti lalu mencoba untuk memberi bantahan, pandangan lain atas tulisan saya tersebut. Menurut saya itu hal baik. Tulisan dibalas dengan tulisan. Dari pada merepet di kolom komentar yang jelas-jelas tidak memberi banyak nilai, selain dosa lisan dan tangan.

Saya termasuk orang yang berada pada sisi bahwa setiap orang berhak menyampaikan pandangan dan pendapat. Sehingga siapapun berhak menulis apapun. Terserah, selama penulis bertanggung jawab atas tulisannya, kenapa pula kita yang sibuk. Oh kalau ada pembaca yang terlalu sensitif, berarti mereka tergolong ke dalam pembaca berjenis “kelamin” melankolis. Begitu pula dengan tulisan PAYLMDP. Penulis (Dara Keumala) sangat berhak menggunakan istilah yang amat pahit sekalipun, yaitu “pelacur”

Saya memahami kegelisahan penulis yang melihat  kondisi perempuan Aceh saat ini. Saya mencoba mengutip salah satu penggalan paragrafnya.

 

Aku terkesima melihat perempuan aceh yang dulu dikenal karena ketangguhan dan harga dirinya, sekarang banyak yang bangga jadi pelacur. Bahkan lebih murah dari pelacur.
Karena pelacur, harus dibayar untuk disentuh, diraba, digerayangi. Sedangkan mereka, boleh diraba, boleh disentuh, boleh digerayangi, boleh dinikmati, gratis. Cukup dengan kata aku cinta padamu, aku akan menikahimu, engkaulah bulan bintangku. Lalu tahun ini tubuhnya disentuh laki-laki ini, tahun depan dibelai laki-laki lain.
Tolong katakan. Harga diri apa yang kalian teriakkan dengan cara melacur begitu.

 

Kalimat di atas jelas menggambarkan bagaimana sebagai orang tua tunggal, Mala begitu gelisah. Prihatin dengan kondisi perempuan Aceh sekarang. Sekaligus takut dan khawatir dengan masa depan keluarga kecilnya. Begitu pula dengan saya dan mungkin juga anda. Sebagai Ayah dari dua putri saya juga begitu amat mengkhawatirkan masa depan anak-anak saya. Bagaimana rupa Aceh, Indonesia dan Dunia pada sepuluh, dua puluh atau tiga puluh tahun ke depan. Sebab pada suatu titik bumi ini akan sangat mengerikan. Apalagi Nabi Muhammad SAW sudah pernah memprediski bahwa akan tiba suatu masa dimana manusia berzina dikanan kiri jalan tanpa peduli orang disekitarnya. Jika saat itu tiba, dimana kita dan anak-anak kita. Semoga Allah senantiasa melindungi.

Baca : Cut Nyak Dien Saja Tidak Berjilbab

Meski prihatin dengan kondisi Aceh sekarang, saya masih tetap sungkan untuk menggunakan kata “pelacur” untuk secuil perempuan Aceh yang mau diraba, disentuh bahkan ditiduri secara gratis. Mengapa, sebab bagi saya antara pelacur dan secuil gadis Aceh itu memang berbeda. Pelacur memang menisbahkan diri sebagai penjaja seks. Mereka memang berorientasi uang dan kesenangan. Sehingga tidak heran ketika Dolly hendak dimusnahkan banyak diantara mereka yang menolak pergi. Atau sudah hengkang tapi masih mebuka praktek esek-esek ditempat lain. Kenapa? Sebab mereka membutuhkan uang karena sejak awal orientasi nya memang uang.

Lalu bagaimana dengan secuil perempuan Aceh tersebut. Dalam pandangan saya mereka hanya terjebak dalam jalan yang tidak lurus. Mereka pernah berada di persimpangan lalu salah memilih jalan. Apakah mereka salah. Ya perbuatan mereka jelas salah. Tapi apakah kesalahan hanya ditimpakan atas mereka. Tentu saja tidak. Ada orang tua yang tak lagi memberi perhatian, ada masyarakat yang sungkan untuk menegur. Kalau secuil perempuan Aceh itu dianggap sebagai manusia yang lebih rendah daripada pelacur, lalu kata apa yang harus kita sematkan kepada orang tua mereka. Germo, mucikari atau apa. Lantas bagaimana pula dengan kita, masyarakat yang sudah tidak lagi peduli. Apakah wilayah kampung yang kita huni lalu beberapa petak berubah menjadi kost-kost mesum mau kita sebut sebagai lokalisasi. Saya kira tidak.

Baca : Perempuan Aceh dan Hikayat Perang

Saya berpikir dari pada jari ini terlalu tegas menunjuk ke depan, alangkah baiknya kita semua merangkul tangan bekerja lebih kuat. Mengambil peran sekecil apapun, bersama sama mengembalikan nama baik perempuan Aceh yang dulu begitu tersohor. Sebab generasi Aceh ke depan sangat tergantung dari kualitas perempuan Aceh saat ini. Kini yang dibutuhkan oleh Aceh adalah semangat kerjasama yang bergelombang menghalau setiap potensi dan pengaruh buruk yang mendatangi. Kita sapu itu, seperti ie beuna yang pernah datang menjumpai kita, menyapu apa saja yang ada.

Sekali lagi saya faham tentang kegelisan Mala. Saya juga mengerti dengan keprihatinanya. Saya tidak melarang beliau menggunakan kata “pelacur”. Meski tak habis pikir bagaimana bisa memberi stempel “pelacur” untuk sekelompok orang yang mungkin sedang lupa jalan pulang. Tapi ya sudahlah, Lagi lagi siapapun berhak menulis apapun asal berani bertanggung jawab.

***

Banda Aceh, 27072015







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

22 Comments

  1. rahmat 15/10/2016 at 03:44

    Mengalir serta meneduhkan sekali tulisan ini.

  2. ahlulkhairi 14/09/2016 at 09:19

    betul bangat bg

  3. Muhar 24/09/2015 at 18:40

    Yap..singkat padat jelas .. salam super #marioTeguh hehe

  4. Timur 08/08/2015 at 17:51

    Saat berkata, mendengar, melihat, merasa, melakukan sesuatu, bahkan diam, kita tidak pernah bisa lepas dari diri sendiri. Pikiran adalah bagian terbaik yg Allah pasangkan bersama hati.

  5. Rio 08/08/2015 at 12:45

    tulisan ini luar biasa… bangga bisa berteman dengan penulis arielogis

    • Ariel Kahhari 09/08/2015 at 07:23

      makasih Rio. ente nulis lagi lah.. blog lama dihidupkan lagi.

  6. MANTAP 29/07/2015 at 08:06

    semoga tulisan ini bisa mengingatkan jalan pulang untuk semua putroe-putroe aceh lon sayang. saya merasa kata “yang sedang lupa jalan pulang lebih cocok” dan walau pun “pelacur” yang terlalu kasar _ semoga semua usaha (tulisan-tulisan) ini dapat lebih menyadarkan remaja-remaja dan orang tua khususnya di Aceh.
    mengutip sepenggal pepatah aceh: “…leupah cok jok pulang; leupah jak, woe teuma…(..kalau terlanjur diambil, kembalikan; kalau terlalu jauh melangkah, kembali ke asal mula..)” intinya: jangan terlalu memusingkan diri dengan bagaimana solusi ini semua, tapi kembalilah kejalan agama Allah. karena aturan dan ajaran agama sudah sempurna serta tidak pernah berubah. kembalilah menuntut ilmu agama dengan benar, kembalilah menjaga diri dan keluarga seperti yang dituntut oleh agama. menurut saya, cuma itu satu-satunya solusi. salam…

  7. ZAIDI RIZKI 29/07/2015 at 05:35

    bagus artikelnya bg, menurut saya semua itu kesalahan orang tua karena kurang perhatian untuk anak tentang kehormatan anak itu sendiri. orang2 sekitar segan menegur karena sebagian orang tua marah ketika anaknya dinasehatin orang lain. terus pengaruh berkembangnya tekhnologi canggih yang salah digunakan oleh remaja2 tanggung sekarang. akses internet pun semakin mudah dan murah. kemudian bebasnya anak mengakses hp2 berfasilitas modern tanpa pengawasan orang tua. terima kasih

    • Ariel Kahhari 06/08/2015 at 05:25

      Pada akhirnya pendidikan di rumah lah yang menjadi benteng. kalau pondasinya lemah ngak perlu tsunami, ombak biasa juga bakal runtuh. dan fenomenanya banyak kemudian keluarga yang tanpa sadar gemar membangun benteng kurang semen, bata, pasir, batu dan air…

  8. Sri maulina 28/07/2015 at 06:28

    Semuanya trgantung pd hati dan imannya, juga org tua yg sngat brperan pnting dlm khidupan anaknya.

  9. Mirza 28/07/2015 at 06:00

    bagus, tulisannya tidak memihak. Two thumbs up!

  10. amr 28/07/2015 at 04:00

    Mungkin karena kearifan lokal/budaya yang sudah hilang… dimana peran tengku gampong sudah tidak dianggap/wibawa

  11. amr 28/07/2015 at 03:52

    Ya, karena Kearifan Budaya yang sudah hilang dari bumi Aceh (sering kita lihat lingkungan mengabaikan hal ini, padahal dahulu kita takut dengan tengku gampong bila melanggar norma, sekarang malah tengku gampong yang takut… donya ka meubalek arah…

  12. amr 28/07/2015 at 03:47

    Ya, karena Kearifan Budaya Aceh, yang sudah hilang dari bumi Aceh (sedikit malu untuk menuliskan Serambi Mekkah)

  13. Yudi randa 27/07/2015 at 19:02

    Ah abang ariel bijaksana sekali. Walaupun sebenarnya cara mala itulah yg seharusnya kita pakai utk kasih bnagun para pendekar bangsa.
    Bukankah dulu, ketika masjid raya sudah terbakar baru rakyat aceh angkat senjata utk berjihad?
    Mungkin dgn di tampar ama kak mala barulah kaum ibu sadar klo anaknya udah mirip kupu2 malam.

  14. Ummu Fawwaz 27/07/2015 at 14:49

    Tulisan mala ibarat “gara-gara nina setitik rusak susu sebelanga” …

  15. Jual Airsoft Gun Murah 27/07/2015 at 12:20

    Sebelum berkomentar, saya izin utk tanam link bang, supaya sekalian saja :D

    Tulisan yang ditulis oleh Kak Dara Keumala memang realita, sekarang Aceh persis yang digambarkan dalam tulisan itu. Tapi saya juga setuju dengan bang Ariel, marwah Aceh dipertaruhkan dengan tulisan karena menggunakan kata yang sedikit pedas, “pelacur”. Tapi saya suka tulisannya, bener-bener nendang, tapi pandangan bang Ariel ada benarnya juga.

  16. syaf hidayat 27/07/2015 at 10:50

    ngga menggigit bang tulisan nya…jadi tidak berpotensi menimbulkan pro-kontra hahaha

  17. aula Andika Fikrullah Albalad 27/07/2015 at 10:38

    Super.. tidak memihak, walau pada dasarnya mau melihat sudut pandang yang lain .

  18. Fardelyn Hacky 27/07/2015 at 10:04

    Like it sama tulisannya.

  19. Aini Aziz Beumeutuwah 27/07/2015 at 08:04

    Kurang pedas, Bang! :D Ane berharap lebih padahal. hehehee. Tapi senang abang menulis dengan objektif.

Leave A Response

Click here to cancel reply.