Tulisan ini bukan untuk menyaingi kesuksesan tulisan “Perempuan Aceh Yang Lebih Murah Dari Pelacur– PAYLMDP”. Bukan pula untuk mendompleng nama agar blog saya dihujani pembaca. Saya hanya coba memberi pandangan lain atas tulisan tersebut. Sebab dulu ketika saya menulis tentang “(jangan) menikah dengan  gadis Aceh”   banyak juga pembaca yang geram. Cemoohan dan caci maki juga dilontarkan. Padahal niat saya baik. Mereka yang mengerti lalu mencoba untuk memberi bantahan, pandangan lain atas tulisan saya tersebut. Menurut saya itu hal baik. Tulisan dibalas dengan tulisan. Dari pada merepet di kolom komentar yang jelas-jelas tidak memberi banyak nilai, selain dosa lisan dan tangan.

Saya termasuk orang yang berada pada sisi bahwa setiap orang berhak menyampaikan pandangan dan pendapat. Sehingga siapapun berhak menulis apapun. Terserah, selama penulis bertanggung jawab atas tulisannya, kenapa pula kita yang sibuk. Oh kalau ada pembaca yang terlalu sensitif, berarti mereka tergolong ke dalam pembaca berjenis “kelamin” melankolis. Begitu pula dengan tulisan PAYLMDP. Penulis (Dara Keumala) sangat berhak menggunakan istilah yang amat pahit sekalipun, yaitu “pelacur”

Saya memahami kegelisahan penulis yang melihat  kondisi perempuan Aceh saat ini. Saya mencoba mengutip salah satu penggalan paragrafnya.

 

Aku terkesima melihat perempuan aceh yang dulu dikenal karena ketangguhan dan harga dirinya, sekarang banyak yang bangga jadi pelacur. Bahkan lebih murah dari pelacur.
Karena pelacur, harus dibayar untuk disentuh, diraba, digerayangi. Sedangkan mereka, boleh diraba, boleh disentuh, boleh digerayangi, boleh dinikmati, gratis. Cukup dengan kata aku cinta padamu, aku akan menikahimu, engkaulah bulan bintangku. Lalu tahun ini tubuhnya disentuh laki-laki ini, tahun depan dibelai laki-laki lain.
Tolong katakan. Harga diri apa yang kalian teriakkan dengan cara melacur begitu.

 

Kalimat di atas jelas menggambarkan bagaimana sebagai orang tua tunggal, Mala begitu gelisah. Prihatin dengan kondisi perempuan Aceh sekarang. Sekaligus takut dan khawatir dengan masa depan keluarga kecilnya. Begitu pula dengan saya dan mungkin juga anda. Sebagai Ayah dari dua putri saya juga begitu amat mengkhawatirkan masa depan anak-anak saya. Bagaimana rupa Aceh, Indonesia dan Dunia pada sepuluh, dua puluh atau tiga puluh tahun ke depan. Sebab pada suatu titik bumi ini akan sangat mengerikan. Apalagi Nabi Muhammad SAW sudah pernah memprediski bahwa akan tiba suatu masa dimana manusia berzina dikanan kiri jalan tanpa peduli orang disekitarnya. Jika saat itu tiba, dimana kita dan anak-anak kita. Semoga Allah senantiasa melindungi.

Baca : Cut Nyak Dien Saja Tidak Berjilbab

Meski prihatin dengan kondisi Aceh sekarang, saya masih tetap sungkan untuk menggunakan kata “pelacur” untuk secuil perempuan Aceh yang mau diraba, disentuh bahkan ditiduri secara gratis. Mengapa, sebab bagi saya antara pelacur dan secuil gadis Aceh itu memang berbeda. Pelacur memang menisbahkan diri sebagai penjaja seks. Mereka memang berorientasi uang dan kesenangan. Sehingga tidak heran ketika Dolly hendak dimusnahkan banyak diantara mereka yang menolak pergi. Atau sudah hengkang tapi masih mebuka praktek esek-esek ditempat lain. Kenapa? Sebab mereka membutuhkan uang karena sejak awal orientasi nya memang uang.

Lalu bagaimana dengan secuil perempuan Aceh tersebut. Dalam pandangan saya mereka hanya terjebak dalam jalan yang tidak lurus. Mereka pernah berada di persimpangan lalu salah memilih jalan. Apakah mereka salah. Ya perbuatan mereka jelas salah. Tapi apakah kesalahan hanya ditimpakan atas mereka. Tentu saja tidak. Ada orang tua yang tak lagi memberi perhatian, ada masyarakat yang sungkan untuk menegur. Kalau secuil perempuan Aceh itu dianggap sebagai manusia yang lebih rendah daripada pelacur, lalu kata apa yang harus kita sematkan kepada orang tua mereka. Germo, mucikari atau apa. Lantas bagaimana pula dengan kita, masyarakat yang sudah tidak lagi peduli. Apakah wilayah kampung yang kita huni lalu beberapa petak berubah menjadi kost-kost mesum mau kita sebut sebagai lokalisasi. Saya kira tidak.

Baca : Perempuan Aceh dan Hikayat Perang

Saya berpikir dari pada jari ini terlalu tegas menunjuk ke depan, alangkah baiknya kita semua merangkul tangan bekerja lebih kuat. Mengambil peran sekecil apapun, bersama sama mengembalikan nama baik perempuan Aceh yang dulu begitu tersohor. Sebab generasi Aceh ke depan sangat tergantung dari kualitas perempuan Aceh saat ini. Kini yang dibutuhkan oleh Aceh adalah semangat kerjasama yang bergelombang menghalau setiap potensi dan pengaruh buruk yang mendatangi. Kita sapu itu, seperti ie beuna yang pernah datang menjumpai kita, menyapu apa saja yang ada.

Sekali lagi saya faham tentang kegelisan Mala. Saya juga mengerti dengan keprihatinanya. Saya tidak melarang beliau menggunakan kata “pelacur”. Meski tak habis pikir bagaimana bisa memberi stempel “pelacur” untuk sekelompok orang yang mungkin sedang lupa jalan pulang. Tapi ya sudahlah, Lagi lagi siapapun berhak menulis apapun asal berani bertanggung jawab.

***

Banda Aceh, 27072015