Tuesday 26th September 2017,
Arielogis

Perempuan Aceh dan Hikayat Perang

Ariel Kahhari 06/06/2015 Suara Langit 5 Comments
Perempuan Aceh dan Hikayat Perang

Entah terbuat dari apa hati perempuan Aceh. Campurannya terlihat sangat kompleks. Ada sisi lembut, keras, berani, semuanya terkumpul  satu lantas memadat. Ketakutan bisa dipandang berbeda oleh perempuan Aceh. Misalnya dalam konteks perang. Bagi perempuan Aceh, perang bukanlah hal yang perlu ditakutkan. Sehingga perang bukan hanya menjadi lapak bagi kaum laki-laki. Perang adalah tempat dimana laki-laki dan perempuan memiliki posisi yang sama. Tidak ada bias gender. Perempuan tidak dilarang memanggul senjata. Bahkan sebaliknya, mereka memiliki pasukan khusus yang kekuatannya menyamai para prajurit laki-laki.  Tidak heran jika dalam sejarah kita akan  mudah mendapatkan kisah heroik para perempuan Aceh.

Pocut Meurah Intan misalnya. Oleh Pemerintah Kolonial, Perempuan Aceh ini pernah tercatat sebagai sosok dari Kesultanan Aceh yang anti Belanda. Dalam Koloniaal Verslag (Laporan Kolonial) tahun 1905, satu-satunya tokoh dari kalangan Kesultanan yang tidak menyerah dan tetap melawan hingga tahun 1904 adalah Pocut Meurah Intan. Bahkan ia memilih bercerai dengan suaminya Tuanku Abdul Majid yang menyerahkan diri kepada Belanda. Ia bersama anak-anaknya, Tuangku Muhammad Batee dan Tuangku Nurdin terus berjuang.

Dalam sebuah kesempatan, Pocut bersama kedua putranya tertangkap oleh marsose. Dalam kondisi terjepit Pocut tidak tinggal diam. Ia lebih rela jika tubuhnya ditembusi timah panas daripada harus menyerah. Pocut menyerang balik. Ia tertembak dan tersungkur. Tubuhnya jatuh, bercampur darah dan lumpur. Valtman yang kala itu menjadi pemimpin pasukan Belanda mengira jika Pocut telah tewas. Tubuhnya ditinggalkan begitu saja. Ternyata Pocut masih hidup, ia lalu diselamatkan. Kabar itu terdengar hingga ke telinga pasukan penjajah. Valtman mengirimkan tim medis yang kemudian ditolak oleh Pocut Meurah. Pocut memang akhirnya sembuh tetapi kondisinya tak lagi prima. Dalam kondisi pincang akhirnya Pocut dan keluarganya dijebloskan ke penjara, diasingkan ke Blora hingga meninggal disana pada tahun 1937.

Pocut Meurah adalah sedikit kisah tentang perempuan Aceh. masih ada Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Laksamana Malahayati atau pula Pocut Baren. Masing-masing mereka meninggalkan cerita tentang perempuan dan perang.

Jika kembali pada kisah Pocut Meurah sangatlah jelas jika ia menunjukkan bahwa kenyamanan hidup tak lantas menghilangkan akal sehat. Penjajah harus di lawan. Mereka harus diusir dari tanah kelahiran. Padahal saat itu Pocut bisa memilih berdamai dengan Belanda agar hidupnya tak perlu terlalu sengsara. Tapi nyatanya ia memilih mengangkat senjata.

Keberanian dan keperkasaan perempuan Aceh tidak hanya tercatat pada perang tempo dulu. Saat konflik mendera, perempuan Aceh juga ikut bertarung. Pasukan Inong Balee namanya. Ini adalah sebutan bagi kelompok perempuan yang tak lagi memiliki suami karena tewas dalam pusaran konflik. Para perempuan ini juga dikejar, ditembaki ada pula yang ditangkap lalu dipenjara. Memang saat itu tak semua perempuan Aceh memanggul senjata. Meski demikian bukan berarti mereka tak berperan. Perempuan Aceh jenis ini juga menyisakan kisah yang tak kalah heroiknya.

Pada era konflik Aceh, banyak pria memilih meninggalkan Gampong (Desa) dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Ada yang pergi karena ikut masuk ke dalam hutan. Ada pula yang mengasingkan diri agar tidak dituduh sebagai pemberontak. Saat itu perempuan Aceh mengambil keputusan yang berbeda. mereka tetap tinggal bukan mengekor suami. Perempuan Aceh memilih menjaga rumah,  harta benda yang tersisa, mendidik anak-anak serta menjaga marwah keluarga. Mereka tetap melanjutkan hidup sambil menyisip doa agar Ayah anak-anak kembali pulang suatu hari nanti. Meski banyak diantara mereka yang akhirnya tak pernah lagi melihat sang suami. Dalam konflik, keteguhan hati, keperkasaan dan keberanian perempuan Aceh kembali diuji dan diasah. Lalu mengapa perempuan Aceh bisa “segila” itu? Ada banyak penyebab, salah satunya adalah pola asuh yang diterapkan.

Di Aceh ada istilah yang dikenal dengan do da i di. Ini adalah dendangan para orang tua khususnya Ibu saat mengantarkan anak-anaknya tidur. Namun dendang yang dilantunkan bukanlah sembarang dendang. Liriknya pun tak tanggung-tanggung. Si Ibu mendoakan anaknya syahid di medan juang.  Dari banyak syair yang dilantunkan, salah satunya adalah Hikayat Prang Sabi. Hikayat yang di dalamnya memuja muji keaguangan Allah. Liriknya juga menyinggung tentang kemulian menjadi syuhada, mereka yang syahid dalam membela agama.

taken from http://nelva-amelia.blogspot.com/

taken from http://nelva-amelia.blogspot.com/

Sejak kecil anak-anak Aceh memang didoktrin. Perang membela agama bukanlah hal tabu yang harus ditakuti melainkan wasilah untuk menjemput Surga. Bahkan penggalan kalimat dalam hikayat tersebut jelas-jelas menerangkan kerugian bagi mereka yang enggan turun ke ladang jihad. Mereka adalah orang-orang celaka. Bukannya masuk ke dalam surga tapi ruh nya akan menerima siksa dalam neraka.

Menariknya hikayat ini bukan saja didendangkan saat menidurkan anak laki-laki saja, namun juga bagi anak perempuan. Pada penggalan syair yang lain dalam hikayat tersebut para Ibu mendoakan agar perempuan kecilnya tumbuh sebagai pendamping yang mendorong suami mereka kelak untuk berjihad.  Perempuan Aceh sejak kecil sudah diajarkan bahwa kemuliaan syahid bukan saja merupakan berkah bagi kaum laki laki. Perempuan yang mendorong suaminya untuk terjun membela agama adalah bagian yang sama dari perjuangan itu sendiri.

Jika perempuan adalah tiang negara maka pondasi manusia, keluarga, masyarakat hingga bangsa akan amat bergantung pada perempuannya. Aceh masih akan terus membutuhkan perempuan hebat. Yang dari dirinya terucap doa bahkan syair jihad yang didendangkan saat mengantarkan tidur anak-anaknya. Lalu jika sekarang ada nilai-nilai yang mulai bergeser dari generasi muda  Aceh, jangan-jangan ada do da i di yang mulai tergantikan atau bahkan tak lagi didendangkan.

***







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

5 Comments

  1. Azhar Ilyas 29/06/2015 at 23:33

    Luar biasa nya perempuan Aceh, menantang hegemoni penjajah demi jaga marwah agama ….

  2. Azhar Ilyas 29/06/2015 at 23:32

    Nice story, perempuan Aceh memiliki keteguhan hati luar biasa, menantang hegemoni penjajah demi menjaga marwah agama…

  3. Haya 06/06/2015 at 07:09

    Tulisan yang bisa melecutkan kembali semangat dan keberanian wanita Aceh. Mungkin peran yang bisa diberikan wanita Aceh sekarang berbeda… bukan lagi di medan perang namun di medan aktualisasi intelektual?

    • Ariel Kahhari 06/06/2015 at 13:54

      peran perempuan selalu punya porsi besar dan semakin membesar seiring berjalan waktu. makin kemari kan tantangannya makin berat. dibutuhkan perempuan-perempuan tangguh untuk melahirkan anak yang tangguh pula. sebab tantangan ke depan jg semakin kompleks.. sepakat?

Leave A Response