Friday 22nd September 2017,
Arielogis

Namaste Nepal, Hai Bakhtapur

Ariel Kahhari 18/10/2015 Melintas Batas 2 Comments
Namaste Nepal, Hai Bakhtapur

Minibus yang saya tumpangi akhirnya berhenti di sebuah sudut jalan. Kami terpaksa turun sebab kenderaan jenis apapun dilarang masuk. Perjalanan kali ini terasa panjang padahal jarak dari Kathmandu hanya 20 kilometer saja. Mungkin karena macet atau memang membosankan. Bayangkan saja sepanjang perjalanan, pemandangan yang tersaji hanya deretan bangunan tua dengan kepulan debu dimana-mana.

Beruntung kebosanan sedikit berkurang setelah minibus riuh dengan nyanyian Hindustan. Keramaian itu bukan berasal dari radio atau kaset tetapi kami. Semua bernyanyi termasuk saya. Apalagi saat lagu Kuch Kuch HoTa Hai didendangkan. Beberapa teman terkejut melihat saya fasih menyanyikan lagu fenomenal itu. Saya tidak peduli dan terus bernyanyi meski agak menggelikan. Seakan menjadi Rahul di negeri atap dunia.

“ Film dan lagu itu termasuk karya fenomenal di Indonesia”  kata saya sesaat lagu tersebut berakhir.

Ternyata penjelasan itu membuat teman dari India bangga. Lagu Hindustan berikutnya pun ia dendangkan. Dia mulai menjerit. Suaranya melengking ditambah gerakan tangan yang memutar. Kali ini saya memilih diam, menikmatinya sambil mencoba memejamkan mata. Lagipula saya memang tidak hafal lagunya.

Dari tempat berhenti tadi kami harus berjalan beberapa puluh meter. Jalan setapak itu kami lalui sambil sesekali berfoto ria. Tidak ada yang istimewa hingga akhirnya kami tiba di depan gerbang utama. Dari situlah beberapa bangunan tua tampak berdiri megah. Warna dinding kecoklatannya berpadu dengan lantai bebatuan yang berwarna nyaris sama meski agak sedikit tua. Di luar gerbang rasa kagum itu memuncak. Ingin segera masuk dan menikmati setiap jengkal tanahnya. Inilah Bahktapur!

2

1

Untuk bisa masuk ke dalam komplek, kita harus membeli tiket terlebih dahulu. Saya tidak tau persis berapa harga tiket yang dijual untuk pelancong asing. Tiket kami sudah dibeli dan saya masuk tanpa harus mengeluarkan biaya satu rupee pun. Pada awalnya kami masuk bersama-sama lalu berpencar. Masing-masing memilih jalannya sendiri. Saya bergabung bersama Nola dan Farah, teman seperjuangan selama di Nepal.

baca : berkunjung ke Boudhananth, stupa terbesar di Asia Selatan

Saat asik mengitari pandangan, kami dikejutkan dengan kehadiran tiga bocah berpakaian lusuh. Mereka mengemis. Kami mengangkat tangan, simbol permohonan maaf karena tidak bisa memberi apapun. Namun mereka terus mengikuti sambil mengadahkan tangan minta belas kasihan. Farah dan Nola segera mengajak mereka berbincang. Saya hanya melihat dari kejauhan. Farah membelikan mereka minuman soda yang disambut gelak tawa. Saya mengabadikan momen tersebut. Kelimanya tersenyum gembira.

6

Farah dan Nola bersama tiga bocah di Bakhtapur

Pengemis dan kemiskinan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dari wajah Nepal yang tengah berbenah. Mungkin karena alasan ini pula Pemerintah memberikan kemudahan bagi turis yang datang ke negaranya. Tidak ada hal rumit saat berurusan dengan imigrasi. Prosesnya cepat dengan petugas yang ramah. Kemudahan ini bisa jadi untuk menarik wisatawan sehingga banyak Dollar yang mengalir. Nepal butuh modal untuk mengubah negara mereka.

Bakhtapur atau juga disebut dengan Bhadgaon atau Khwopa adalah areal luas yang dipenuhi monumen, pagoda, bangunan tua yang saling tersambung antara satu dengan lainnya. Dinding bangunannya terbuat dari batubata merah serta ukiran kayu dengan motif etnis yang rumit. Salah satu tempat yang bisa kita kunjungi saat berada disini adalah Bahktapur Durbar Square. Ini merupakan satu dari tiga Durbar Square yang ada di Nepal. Dua lainnya terdapat di Kathmandu dan Patan.

Durbar Square adalah lapangan luas. Bangunan yang paling terkenal di Bakhtapur adalah 55 Windows Palace. Bangunan istana kerjaan Nepal pada zaman dinasti Malla. Kini bangunan tersebut telah dijadikan National Art Gallery yang menyimpan jejak sejarah Nepal tempo dulu. Sayang saya tidak sempat masuk ke dalam bangunan ini.  Padahal lokasinya dekat dengan tempat kami berselfie ria.

baca : Menyikap tabir di balik hubungan mesra Indonesia dan Nepal

Bakhtapur memang kota bagi para pemuja namun sedikit berbeda dengan Boudhanath.  Di Boudhanath peziarah mengelilingi stupa. Persis seperti umat Islam yang mengelilingi Ka’bah di Mekkah.  Di bagian atas Stupa juga tampak peziarah yang bersembahyang hingga ke lantai dasar. Di Boudhanath juga mudah mendapati para monk dari beragam negara. Sementara di Bakhtappur saya hampir tidak menemukan pemandangan semacam itu.

Saya habiskan waktu dengan mengelilingi komplek Bakhtapur. Sesekali mendekati penjual souvenir yang berteriak memanggil pengunjung di depan mereka. Belanja di sini harus pintar-pintar menawar. Saya bahkan menawar hingga setengah harga jual. Meski penjualnya marah-marah tapi toh diberi juga. Dan yang paling penting saat berbelanja adalah jangan pernah menunjukkan ekspresi kalau kita menyukai barang tersebut. Cukup disimpan dalam hati saja. Kalau penjualnya tau maka dia akan bersikeras dengan harga jual yang ia patok. Saya kira sama saja tabiat antara penjual di Nepal dengan yang ada di Indonesia.

Selain berkeliling atau sekedar membeli souvenir sebenarnya banyak hal yang bisa kita lakukan saat berada di Bakhtapur Durbar Square. Di komplek ini kita bisa melihat proses pembuatan yoghurt yang berasal dari susu kerbau yang dinamakan Juju Dhau (rajanya yoghurt). Juju Dhau bisa dinikmati sebagai cemilan atau makanan utama. Selain itu di dekat kawasan Bakhtapur juga terdapat Surya Vinayak Shrine. Cukup berjalan 10 hingga 20 menit maka kita akan tiba di lokasi permohonan umat Hindu kepada Ganesh. Letaknya berada di dalam sebuah hutan di atas bukit. Tempat bagus untuk bersembahyang dan menarik untuk mengabadikan gambar.

Memang butuh banyak tau sebelum berkunjung ke sebuah objek wisata.  Jangan sampai kunjungan kita menjadi sia-sia karena informasi yang terbatas. Semakin memahami semakin banyak pula cerita yang dapat kita kumpulkan. Saya menyesal karena berkunjung ke Bakhtapur dengan informasi yang sangat sedikit. Jika tidak entah kisah apa lagi, yang akan saya bagi. Bagaimana, tertarik berkunjung ke Bakhtapur?

***

 

Yogyakarta, 18102015







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

2 Comments

  1. aya 20/10/2015 at 10:11

    Mas, itu benar kah bocah di Bakhtapur? Itu mereka sepulang sekolah, ya? Oh, di sana juga banyak pengemis ya? Nepal cantik, ya. I wish I come duhhhileh cantikk bangett, Mas :))

    • Ariel Kahhari 20/10/2015 at 13:07

      Iya, kami ketemu sama tiga bocah itu di Durbar Squarenya Bakhtapur. Nepal negara miskin ya ada pengemis juga. kata di tempat kita juga sih. tapi asli orang2nya ramah ramah banget.. aslliii. dan para traveller yang dah keliling dunia pasti akan bilang ” Nepal negara yang menentramkan”.. tenang kita.

Leave A Response

Click here to cancel reply.