Tuesday 26th September 2017,
Arielogis

Misha dan Cinta Palsu Kita Untuk Palestina

Ariel Kahhari 12/08/2015 Suara Langit 3 Comments
Misha dan Cinta Palsu Kita Untuk Palestina

Misha Zilberman adalah pemain bulutangkis asal Israel. Setelah ditolak beberapa kali, akhirnya ia memperoleh visa masuk ke Indonesia untuk ikut serta dalam kejuaraan dunia yang berlangsung di Jakarta. Langkah Misha memang sudah terhenti sejak hari pertama. Namun masalahnya bukan seberapa lama ia dapat bertahan dalam kejuaran tersebut, tetapi Misha telah berhasil menginjakkan kaki di bumi nusantara. Sebuah aib bagi Indonesia yang katanya anti Israel.

Memang ada yang menarik dengan Misha. Meskipun dapat bertanding di Indonesia namun profilnya yang terpampang di laman tournamentsoftware.com tidak menyediakan informasi secara jelas. Nama Misha tidak dilengkapi dengan bendera seperti pemain lainnya. Belum diketahui jelas alasan dibalik kebijakan tersebut. Jika bendera bintang david dinilai terlalu sensitif bagi publik Indonesia, panitia seperti lupa bahwa sebelumnya bendera yg sama pernah berkibar di sudut kecil tanah Papua.

Misha tanpa bendera israel ( tournamentsoftware.com)

Misha tanpa bendera israel ( tournamentsoftware.com)

Di tengah hiruk pikuk kemeriahan pertandingan kejuaran dunia, sejumlah Netizen menyayangkan sikap pemerintah yang tetap memberikan visa bagi Misha. Kebijakan ini seakan mencoreng ideologi bangsa yang setia berada di samping Palestina. Sejak lama, Indonesia memang tidak pernah mengakui Israel sebagai negara karena merampas tanah dan terus menjajah Palestina. Meski dalam senyap banyak juga orang Indonesia yang menjejakkan kaki di Tel Aviv, melakukan kegiatan bisnis atau lainnya.

Sebelum Misha, Indonesia juga pernah memberikan visa bagi petenis Israel Shahar Peer untuk mengikuti WTA-Tour Commonwealth of Bank Tournament Champion yg digelar di Hotel Westin Nusa Dua Bali tahun 2009 lalu. Petenis tersebut diizinkan menjejakkan kaki di Indonesia dengan sejumlah syarat yang disepakati, diantaranya pihak Israel tidak dibolehkan untuk mengangkat benderanya selama pertandingan berlangsung. Sebelum ke Indonesia Sharar juga pernah menimbulkan keriuhan di Uni Emirat Arab. Ia juga dilarang bertanding ke negara tersebut karena mendapat penolakan dari warga setempat. Akibatnya UEA harus membayar denda yang cukup besar kepada Asosiasi Tenis Dunia.

Ada yang bertanya perlukan masalah olahraga dicampuradukkan dengan pesoalan politik? Jawabanya tentu saja perlu! Sebab negara adalah sebuah kesatuan yang utuh sehingga satu pula dalam masalah sudut pandang. Indonesia sudah melakukannya. Sejarah mencatat jika negara ini punya kebijakan yang kuat untuk tidak bertanding melawan Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina.

Tahun 1958 Indonesia pernah melaju hingga ke babak kedua penyisihan Piala Dunia zona Asia setelah keluar sebagai juara grup. Jika kembali berhasil lolos maka Indonesia melaju ke babak play off dan menghadapi wakil Eropa. Pemenang dalam pertandingan tersebut akan langsung lolos ke Piala Dunia. Tetapi Indonesia memilih mundur pada babak kedua. Sebab Indonesia menolak bertanding dengan Israel yang berada dalam grup yang sama. Indonesia meminta agar FIFA menggelar pertandingan di negara netral. FIFA menolak dan mendiskualifikasi Indonesia. Saat itu Sudan dan Mesir yang berada dalam grup yang sama dengan Indonesia juga menolak bertanding dengan Israel.

Tidak hanya dalam sepakbola. Tahun 2006 tim tenis Indonesia juga batal mengikuti invitasi tenis karena digelar di Israel. Padahal pasukan tim Fed Indonesia diperkuat oleh Angelique Widjaja, Wynne Prakusya, Romana Tedjakusuma, serta Suzana Wibowo. Daftar nama atlit yang saat itu sangat berpeluang untuk memenangkan pertandingan. Penolakan Indonesia bertanding di Israel atas pertimbangan kemanusiaan di jalur Gaza. Atas sikap tersebut Indonesia mendapat sanksi satu tahun di kompetisi internasional dan harus membayar denda 28 ribu dollar.

Publik menyalahkan pemerintah, menyudutkan Jokowi sebagai Presiden karena dianggap lalai membiarkan Misha masuk ke Indonesia dan bertanding di Jakarta. Jokowi dinilai hanya punya cinta palsu untuk Palestina. semangatnya tidak sama saat kampanye Presiden lalu. lantas apakah hanya Jokowi yang dianggap tidak loyal terhadap bangsa Palestina? sebenarnya tidak juga. Jokowi dan kita mungkin berada dalam barisan yang sama. Sama sama bermain drama atas tragedi kemanusiaan di negara itu. Sadar atau tidak tetapi itulah yang terjadi. Berkaca saja!

Berapa banyak produk zionis yang rutin kita beli lalu dijadikan senjata untuk menembaki anak-anak Palestina. Sesering apa kita menangis dan berdoa untuk Palestina. hmmmm jangan-jangan doa dan air mata hanya jatuh saat Gaza dihujani peluru, bom dan gas airmata. Lalu sebanyak apa donasi yang kita berikan saat penggalangan dana dilakukan? barangkali kita termasuk orang yang mengatakan ‘Peduli apa kita dengan Palestina, negara sendiri aja masih banyak masalah”

Ada belasan atau puluhan produk Israel yang seharusnya kita boikot tapi malah kita beli atau ikut kita perdagangkan. Ada pula restoran cepat saji yang secara jelas menjadi pemodal bagi Israel tapi kita berbondong bondong memboyong anak istri untuk mengkonsumsinya. Boikot hanya menjadi obrolan hangat sesaat.

Wilayah Palestina yang terus berkurang (taringa.net)

Wilayah Palestina yang terus berkurang (taringa.net)

Rakyat Palestina tau bahwa mereka sebenarnya berjuang sendirian. Pilihan mereka untuk tetap bertahan di negeri berkecamuk perang adalah signal ketidakyakinan mereka terhadap kita, umat Islam dunia. Sulit rasanya menemukan negara yang tulus mencintai Palestina. Indikator sederhananya bisa dilihat dari tidak ada hubungan apapun dengan Israel, baik secara diplomatik, keamanan, budaya, sosial maupun kegiatan ekonomi bisnis. Tidak Indonesia, Turki, apalagi negara Timur Tengah yang menjadi tetangga dekat Palestina.

Turki dengan Erdogannya yang disebut-sebut Khalifah kekinian juga belum mampu melarang maskapai negaranya terbang ke Tel Aviv. Turkish airlines masih terbang saban hari melintasi langi kedua wilayah tersebut.  Meski negeri itu juga mengirim kapal kemanusiaan untuk menembus blokade zionis. Arab Saudi malah pernah punya hubungan mesra dengan Amerika penyokong terkuat Israel, meski raja sekarang katanya beda dengan raja sebelumnya. Iran apalagi, negara Mullah itu hanya berkutat pada ancaman-ancaman kosong belaka. Dibalik itu malah punya hubungan manis dan harmonis. Jangan tanya dimana negara negara Timur tengah. Mereka malah lebih galak berurusan dengan Ikhwanul Muslimin, Hamas dibandingkan dengan Israel.

Tapi itulah kita, orang-orang yang suka bermain drama. Kuatnya cuma bisa buat status dan note seperti saya. Cinta kita kepada Palestina adalah cinta palsu. Cinta musiman yang amat memprihatinkan. Lantas kalau Misha bisa tembus masuk ke Indonesia, wajar saja bukan??

***

Banda Aceh, 12082015







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

3 Comments

  1. noer 05/03/2016 at 15:17

    semua akibat propaganda US, sebelum amerika hancur dunia tidak akan tentram

  2. aula Andika Fikrullah Albalad 13/08/2015 at 01:09

    Mantap. Lantas, perlukah kita gunakan tapeh sebagai alat untuk menggosok gigi sebagai bentuk cinta nati kita terhadap palestina ?

Leave A Response