Tuesday 26th September 2017,
Arielogis

Merangkul Alam, Bersahabat dengan Bencana

Ariel Kahhari 03/08/2014 Suara Langit 13 Comments
Merangkul Alam, Bersahabat dengan Bencana

Belajarlah dari Jepang. Negara dimana bencana dianggap sebagai bagian dari “keluarga”. Dekat dan keberadaannya tidak diabaikan. Negara sakura ini kerap dihantam bencana. Realita ini membuat pemerintah dan masyarakatnya menyiapkan diri. Tetapi dulu, Jepang tidak seperti sekarang. Negara itu juga pernah gagap dalam menyikapi bencana.  Namun bukan Jepang namanya jika tidak belajar dari sejarah. Semua bermula dari Gempa Kanto yang terjadi pada tanggal 1 September 1923.

earthquake_b1

Kehancuran hebat akibat Gempa Kanto (http://www.greatkantoearthquake.com)

Gempa yang berkekuatan 7,9 skala richter ini tidak hanya menghancurkan sejumlah infrastuktur. Namun bencana ini juga menimbulkan kebakaran hebat. Saat peristiwa itu terjadi masyarakat menyelamatkan diri dengan cara berkumpul di perairan teluk Yokohama. Mereka merasa aman ketika tetap berada di dalam air. Mereka meyakini api yang berkobar di setiap sudut kota tidak akan menyala ketika mendekati laut. Namun mereka lupa jika gedung minyak standard dan tangki penyimpanan minyaknya yang sangat besar berdiri di pantai Yokohama.

Api yang terus membesar, menyebar dan membakar apapun yang dilewatinya. Lidah apinya juga semakin mendekati pantai dan gedung minyak standard yang penuh dengan minyak. Hal yang tidak diinginkan pun terjadi. Gedung dan tangki meledak disertai dentuman keras. Ribuan ton minyak yang mudah terbakar menyembur masuk ke teluk Yokohama. Minyak tersebut membasahi dan tentu saja membakar ribuan orang yang tadinya hendak menyelamatkan diri. Akibat kejadian tersebut lebih dari 150.000 orang tewas!

earthquake_b2

Dampak bencana yang ditimbulkan Gempa Kanto (http://www.greatkantoearthquake.com)

earthquake_a3

Kobaran api paska gempa Kanto (http://www.greatkantoearthquake.com)

earthquake_a4Karena merenggut banyak korban jiwa, peristiwa ini tercatat sebagai bencana terburuk sepanjang sejarah Jepang. Sangking dahsyatnya, kejadian ini meninggalkan jejak rekam hingga sekarang. Sejak tahun 1960 Pemerintah setempat telah menetapkan 1 September sebagai hari penanggulangan bencana nasional. Oleh Pemerintah Jepang tanggal tersebut dimanfaatkan untuk menyadarkan masyarakatnya akan bahaya bencana gempa termasuk dampak yang ditimbulkan.

Sementara sejak tahun 1995 peringatan hari penanggulangan bencana diisi dengan tsunami drill atau pelatihan evakuasi saat tsunami. Kegiatan ini dilakukan di beberapa kota di Jepang yang rawan terhadap gelombang tsunami. Di negeri matahari ini tsunami drill dilakukan dengan sangat serius bahkan menyerupai situasi bencana yang sesungguhnya. Bentuk pelatihan penyelamatan diri yang dilakukan antar satu kota dengan kota lainnya pun berbeda.

Di Iwanuma misalnya. Masyarakat yang tinggal di kota yang terletak di Miyagi Jepang diajarkan untuk menyelamatkan diri dengan cara berjalan kaki. Sebab lokasi evakuasi terletak sangat dekat dengan pemukiman penduduk. Tempat evakuasinya berupa ruang terbuka di sisi luar jalan tol dan jembatan dengan ketinggian mencapai 35 meter dari permukaan laut. Praktek yang dilakukan saat tsunami drill ternyata bermanfaat. Sebab saat tsunami menghantam kawasan ini pada tahun 2011, lokasi tempat evakuasi sama sekali tidak terendam. Jumlah korban jiwa pun dapat ditekan meski gelombang laut tetap menghancurkan bangunan milik masyarakat termasuk Bandara Sendai.

Apa yang dilakukan Jepang dalam menyiapkan masyarakat sadar bencana seharusnya diikuti oleh Indonesia termasuk Aceh. Sebab ketika tsunami 2004 menerjang Aceh jumlah korban jiwa dan kerusakan yang ditimbulkan sangat parah. Memang sebelum tanggal 26 Desember 2004, tidak banyak yang tau apa itu tsunami. Apa saja tanda-tanda kemunculan gelombang mematikan itu dan bagaimana cara menyelamatkan diri. Bahkan kala itu masyarakat di daratan Aceh, tidak tau harus menyebut apa untuk gelombang tinggi yang bergerak cepat dari bibir pantai. Masyarakat hanya menyebut “air laut naik”. Minimnya informasi tentang tsunami kala itu memberi dampak besar terhadap kerusakan dan jumlah korban jiwa.

Gelombang tsunami yang dipicu oleh gempa dahsyat berkekuatan 8,9 skala richter merenggut banyak korban jiwa. 200 ribu orang meninggal dunia, 37 ribu jiwa hilang, lebih dari 100 ribu jiwa menderita luka-luka baik ringan maupun berat. Selain itu bencana ini juga telah merusak 517 ribu unit rumah dan menghancurkan hampir seluruh wilayah Aceh khususnya yang berada di pesisir pantai. Aceh porak-poranda dan mati suri.

Gelombang Tsunami menyapu hingga ke tengah kota Banda Aceh (taken from google)

Gelombang Tsunami menyapu hingga ke tengah kota Banda Aceh (taken from google)

Mesjid di kawasan Lampuuk Aceh Besar (taken from google)

Mesjid di kawasan Lampuuk Aceh Besar (taken from google)

Minimnya informasi tentang tsunami memang patut disesalkan. Sebab tsunami 2004 bukanlah peristiwa pertama yang terjadi di Aceh apalagi di Indonesia. Sebagai daerah yang berada di atas tumbukan lempeng dan patahan Sumatera, Aceh termasuk daerah rawan gempa dan tsunami. Dalam catatan sejarah, gelombang laut tersebut pernah beberapa kali menghantam daratan Aceh. Seperti pada tahun 1797, 1891, dan 1907. Bahkan sejumlah pakar memprediksi jika gempa dengan kekuatan lebih besar akan kembali menghantam pesisir Sumatera.

Tsunami Aceh memang membuka mata dunia termasuk Indonesia. Menyiapkan masyarakat sadar bencana jauh lebih penting dan utama. Sebab bencana tidak bisa ditolak kehadirannya. Apalagi sebagai negara kepulauan Indonesia memang berada dalam kawasan “ring of fire”.  Ancaman selalu mengitari negara berpenduduk 200 juta jiwa lebih ini. Apalagi beberapa tahun terakhir bencana datang silih berganti. Sebagian hanya datang memberi peringatan sementara beberapa lainnya memang telah menimbulkan kerugian.

Sebagai daerah yang paling besar menerima imbas tsunami 2004 Pemerintah Aceh menginginkan agar propinsi ini lebih siap jika bencana buruk kembali terjadi. Melalui peraturan Gubernur Aceh nomor 51 tahun 2011 tentang rencana penanggulangan bencana (RPB) Aceh tahun 2012-2017 maka disusunlah sebuah landasan dalam menanggulangi bencana di Aceh. Pergub ini bertujuan untuk mempersiapkan perencanaan yang terarah, terpadu dan terkoordinasi untuk menurunkan resiko bencana di Aceh. Selain itu yang tidak kalah penting adalah melindungi masyarakat di wilayah Aceh dari ancaman bahaya bencana.

Peta sebagian wilayah Aceh sebelum dan sesudah tsunami 2004 (taken from google)

Peta sebagian wilayah Aceh sebelum dan sesudah tsunami 2004 (taken from google)

Mitigasi Bencana

Belakangan istilah mitigasi bencana semakin populer. Ini merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Mitigasi bencana adalah rangkaian aktivitas yang berperan penting dalam upaya pengurangan dampak bencana. Usaha-usaha yang dilakukan pun bertujuan untuk mengurangi korban ketika bencana terjadi, baik korban jiwa maupun harta. Khusus untuk menghadapi bencana gempa dan tsunami ada beberapa hal yang dapat dilakukan.

 1. Tsunami Drill

Warga menyelamatkan diri ke dalam Escape Building (taken from TDMRC's doc)

Warga menyelamatkan diri ke dalam Escape Building (taken from TDMRC’s doc)

Pada tahun 2008 Banda Aceh pernah ditunjuk untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan “Tsunami Drill” berskala nasional. Kegiatan yang dipusatkan di kecamatan Meuraxa ini diikuti ribuan masyarakat. Dalam kegiatan tersebut masyarakat diajarkan bagaimana cara menyelamatkan diri ke escape building, bagaimana pula tim kesehatan mengevakuasi para korban serta koordinasi yang dibangun antar stake holder.

Latihan seperti ini memang terkesan simple. Namun tsunami drill pasti akan memberikan dampak positif jika bencana tersebut benar-benar terjadi. Sebab program ini akan mengedukasi masyarakat agar terbiasa berpikir ke mana harus mengungsi saat terjadinya tsunami. Termasuk memilih jalan yang harus di lalui. Apalagi kini Banda Aceh dan wilayah pesisir Aceh lainnya telah di pasang banyak tanda jalur evakuasi.

Selain itu melalui drill ini masyarakat juga diajarkan tentang cara yang paling tepat untuk melarikan diri. Kapan harus berjalan, berlari dan kapan saat yang tepat untuk menggunakan kenderaan. Masyarakat diberi pemahaman yang baik mengenai cara apa  yang paling efektif. Sebab banyak masyarakat yang terjebak macet dan sulit bergerak karena menggunakan kenderaan saat menyelamatkan diri. Bahkan jatuhnya korban jiwa tidak dapat dielakkan karena kecelakaan.

Kemacetan saat gempa 11 April 2012

Kemacetan saat gempa 11 April 2012

Tsunami drill juga memperkenalkan masyarakat dengan sirine tsunami. Ketika alat ini berbunyi maka masyarakat harus segera mencari tempat tinggi. Rumah bertingkat, escape building, bukit atau gunung adalah beberapa alternatif. Masyarakat  harus mengerti jika penyelamatan diri tidak perlu harus menunggu perintah. Sebab mengungsi ke tempat tinggi  harus segera diputuskan secara cepat oleh diri sendiri. Karena jarak ketika air laut surut dengan datangnya gelombang tsunami amatlah dekat.

Arah Evakuasi menuju Escape Building

Arah Evakuasi menuju Escape Building

IMG20140803091112

Escape Building Gampong Lambung Ulee Lheue Banda Aceh

Escape Building Gampong Lambung Ulee Lheue Banda Aceh

2. Sekolah sadar bencana

Penyelenggaraan pendidikan yang menyenangkan merupakan salah satu bentuk pendekatan yang dilakukan Pemerintah Jepang dalam meningkatkan pemahaman masyarakatnya tentang bencana. Bahkan penerapannya sudah dilakukan sejak taman kanak-kanak. Sambil bermain anak-anak Jepang diajarkan tentang bahaya bencana dan cara menyelematkan diri.

Seharusnya pola ini dapat ditiru oleh Indonesia termasuk Aceh. Penyelenggaraan pendidikan yang dilangsungkan di sekolah-sekolah sepatutnya diisi dengan kurikulum kebencanaan. Anak didik harus diajarkan bagaimana hidup harmonis bersama alam. Pemerintah melalui kementrian dan dinas terkait juga harus memperkenalkan peta bencana. Baik bencana yang disebabkan oleh tangan manusia ataupun bukan. Dengan demikian siswa akan memahami tentang kondisi lingkungan yang ia tempati. Melalui kurikulum kebencanaan, anak anak akan dibekali dengan buku pedoman mengenai daerah rawan bencana serta cara mengantisipasinya. Buku tersebut disebar ke setiap perpustakaan sekolah. Semakin dini pendidikan kebencanaan diberikan maka semakin tangguh pula generasi bangsa dalam menghadapi bencana.

3. Kearifan lokal tentang kebencanaan.

Sepertinya tidak ada bangsa lain di dunia yang memiliki lokal wisdom sehebat Indonesia. Kearifan lokal yang dimiliki indonesia sungguh sangat kaya dan terdapat di setiap sendi kehidupan termasuk mitigasi bencana. Aceh sebenarnya punya kearifan lokal dalam menghadapi bencana tsunami. Tradisi ini disebut Smoong!

Kearifan ini memang lebih dikenal di kepulauan Simeulue. Menariknya tradisi ini dipahami secara merata di seluruh pulau tersebut. Padahal jarak antara satu gampong [desa] dengan gampong lainnya saling berjauhan. Belum lagi daerah kepulauan ini juga masih terkendala dengan infrastuktur. Bahkan akses informasi melalui media baik koran maupun radio lokal juga kurang memadai. Meski demikian masyarakat di Simeulue faham betul makna kata smoong setiap kali diucapkan. Wajar jika jumlah masyarakat Simeulue yang tewas dalam bencana tsunami 2004 sangat sedikit. Padahal pusat gempa sangat dekat dengan pulau ini.

Smoong berarti perintah agar segera menjauhi laut dan mencari tempat tertinggi seperti bukit atau gunung. Jika kata “smoong” diucapkan maka artinya air bah akan segera tiba setelah gempa besar disusul surutnya air laut. Cerita ini disampaikan secara turun menurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Namun sayang istilah ini tidak begitu dipahami oleh masyarakat daratan Aceh. Maka tidak mengherankan ketika air laut surut setelah gempa besar warga malah mengutip ikan yang menggelepar di bibir pantai. Banyaknya korban jiwa yang tewas maupun luka-luka saat musibah tsunami 2004 karena masyarakat Aceh dianggap lupa tentang kearifan dan pesan nenek moyang dahulu. Untuk itu diperlukan upaya serius dalam memperkenalkan kearifan lokal berdimensi mitigasi bencana. Agar proses transfer nilai dan ilmu dapat dilakukan dengan lebih mudah.

4. Menanam Mangrove

Tanaman mangrove idealnya harus memenuhi daerah pinggiran pantai. Sebab peran mangrove dalam memberikan perlindungan dari gelombang, angin dan arus air sudah terbukti. Bahkan hutan mangrove bisa mengurangi kecepatan dan tinggi gelombang tsunami. Hal tersebut sudah dibuktikan ketika gelombang tsunami menyapu daratan Tamil Nadu, India. Pohon mangrove dan tanaman hutan pantai lainnya seperti kelapa telah mampu memperlambat kecepatan gelombang. Sehingga masyarakat memilki tambahan waktu untuk menyelamatkan diri. Tanaman pantai telah melindungi sekitar 1700 orang yang tinggal dipemukiman nelayan yang dibangun tidak berapa jauh dari hutan mangrove.

Pohon Mangrove yang baru tumbuh

Pohon Mangrove yang baru tumbuh

Hutan Mangrove di kawasan Ulee Lheue Banda Aceh

Hutan Mangrove di kawasan Ulee Lheue Banda Aceh

Selain berpengaruh dalam perlindungan terhadap gelombang tsunami, tanaman ini juga diyakini dapat meminimalisir dampak kerusakan kawasan pesisir akibat ketinggian dan besarnya hempasan ombak. Hal tersebut sudah dibuktikan ketika badai Haiyan menerpa Filiphina. Hutan Bakau yang terdapat di kawasan pantai setidaknya mampu meredam ketinggian ombak hingga setengah meter.  Tapi sejauh mana tanaman bakau ini bisa memberikan pengaruh terhadap gelombang laut  juga sangat tergantung dari sejumlah faktor.  Seperti tinggi dan kecepatan gelombang laut (tsunami), topografi garis pantai, lebar dan kepadatan hutan mangrove.

Namun sayang ditengah pentingnya mangrove bagi kehidupan ternyata masih banyak dari masyarakat yang menebang mangrove. Hal itu dilakukan untuk keperluan pribadi maupun industri seperti kayu arang. Ada juga yang mengubah kawasan hutan mangrove menjadi areal kawasan perumahan (pemukiman) atau pelabuhan. Kini dunia juga dihadapkan dengan realita yang memprihatinkan. Sejak dekade 1980-an hutan Bakau di seluruh dunia berkurang sebanyak 35 %. 

Hutan Mangrove di kawasan Kec. Syiah Kuala Banda Aceh

Hutan Mangrove di kawasan Kec. Syiah Kuala Banda Aceh

Cara di atas adalah beberapa bentuk mitigasi bencana yang dapat dilakukan guna meningkatkan pemahaman masyarakat serta pengurangan resiko bencana. Tentu masih banyak cara lain yang dapat dilakukan. Seperti merelokasi penduduk dari daerah rawan. Misalnya memindahkan masyarakat yang tinggal di bibir pantai atau memindahkan penduduk yang berada di pinggir tebing yang mudah longsor. Termasuk mendirikan bangunan yang relatif lebih kuat dan tahan gempa. Ataupun pengkondisian rumah atau sarana umum yang tanggap bencana layaknya rumah panggung Aceh yang tetap aman jika musim banjir tiba.

Tsunami memang mengancam kita. Namun bencana ini telah memberi banyak pelajaran yang bermakna. Dunia mungkin bisa belajar dari Aceh bagaimana menyiapkan masyarakat yang bermental baja. Atau belajar dari Indonesia cara menggulirkan program pemulihan, pembangunan dan ketahanan pasca bencana. Namun untuk mendidik masyarakat sadar bencana, Indonesia dan Aceh khususnya harus banyak belajar dari Jepang. Jika bencana ibarat “saudara jauh” maka ia akan sesekali pulang ingin menyapa. Kehadirannya memang tidak bisa ditolak. Namun menyambutnya dengan kesiap siagaan adalah sebuah keniscayaan.

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba menulis kebencanaan dalam rangka 10 tahun tsunami Aceh







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

13 Comments

  1. Melek Bencana 27/11/2014 at 08:00

    Ulangan yang sangat bagus dan komplek. Trima kasih sudah berbagi Pak Ariel.

    Salam Siaga,
    Ibnu Rusydy

    • Ariel Kahhari 29/11/2014 at 03:42

      terimakasih kembali sudah berkunjung dan berkomentar. semoga kita senantiasa sigap menyikapi bencana yg bisa terjadi kapan dan dimana saja..

  2. Makmur Dimila 12/08/2014 at 18:39

    Cakep tulisan Bang Ariel.
    Pertama-tama orang Aceh (Indonesia) yang belajar pada Jepang , ke depan harus sebaliknya, orang Jepang belajar pada Aceh soal mitigasi bencana. :D

    • arielkahhari 13/08/2014 at 16:27

      iyalah.. harus berbalik.. dunia belajar dari Aceh hehe

  3. evrinasp 12/08/2014 at 12:47

    salam kenal, semoga sukses lombanya ya, kita memang tidak boleh terus menyalahkan alam apabila bencana terjadi karena memang alam sudah memiliki ketetapan tersendiri dari Tuhan untuk selalu bergerak. yang harus kita lakukan adalah siap siaga menghadapi segala perubahan

    • arielkahhari 13/08/2014 at 16:28

      salam kenal kembali.. alam butuh keseimbangan. cepat atau lambat bencana bakal terjadi . tinggal kita nya siap atau tidak. makasih ya sudah berkunjung :)

  4. alaikaabdullah 11/08/2014 at 23:02

    Mantap kali ah artikelnya. Setuju dengan semua uraiannya, dan paling suka dengan kalimat pamungkasnya. –>Jika bencana ibarat “saudara jauh” maka ia akan sesekali pulang ingin menyapa. Kehadirannya memang tidak bisa ditolak. Namun menyambutnya dengan kesiap siagaan adalah sebuah keniscayaan.<– Kereeen!

    Sukses yaaa! :)

    • arielkahhari 12/08/2014 at 01:34

      Hehehe… makasih kak udah berkunjung. Moga tulisannya bermanfaat.

  5. shurahbeel numairi 04/08/2014 at 22:40

    Keren sekali tulisannya..
    Sangat bermanfaat, berisi dan lengkap
    Udah cocok ambel master di ugm..

  6. asysyauqie 03/08/2014 at 23:46

    Mantap bg…
    Program mitigasi bencana pernah kami buat di salah satu taman kanak2 di desa rukoh.. kami megedukasi anak2 usia dini tentang kesiapan ketika menghadapi becana/gempa (metode: dogeng boneka jari).

Leave A Response