Salah satu kosekuensi dari berhijrah adalah tuntutan untuk beradaptasi dengan cepat. Di tempat yang baru kita harus bisa mengenal lingkungan, teman, hingga menyesuaikan diri dengan makanan tempatan. Banyak yang mengira jika saya adalah kaum penyuka makan dan bisa melahap apa saja. Indikatornya dilihat dari bobot badan saya yang ideal. Harapannya seperti itu. Tapi ternyata tidak. Setelah tiga bulan di Yogya masih banyak kuliner di sini yang belum bisa saya nikmati, meski banyak orang bilang makanan tersebut enak. keterlaluan bukan.

Gudeg misalnya. Saya pernah mencoba makanan ini pada tahun 2010 silam. Empat tahun yang lalu. Seorang teman membelikannya untuk sarapan pagi. Ternyata makanan ini terlalu manis untuk saya. Mungkin bagi orang Sumatera khususnya Aceh makanan sedikit pedas terasa lebih menantang atau lidah saya yang terlalu sensitif. Tapi yang jelas sampai sekarang saya belum pernah lagi mencoba gudeg. Tetapi suatu saat nanti harus mencobanya. Malu juga sih, sudah sampai di Yogya malah ngak nyicip.

Untuk menghadapi potensi bencana kelaparan yang mungkin saja terjadi saya pun menyiapkan diri. Beruntungnya saya adalah type cowok pinter masak. Pengakuan ini datang dari banyak pihak. Mulai dari Ibu dan tentu saja istri saya. Satu satunya orang yang belum mengakui kemahiran saya dalam mengadu wajan dan centong adalah Chef Marinka. Tapi cepat atau lambat ia juga akan sadar jika saya adalah raja masak tanpa harus bergabung dalam program memasak di televisi. Bukan tidak mungkin jika Chef Marinka  juga akan banyak belajar cara memasak, khususnya masakan Aceh dari Ibu saya. Lha yang hebat saya apa Ibu sih.

Karena sadar memiliki sedikit kemampuan mengulek sambal, meracik bumbu dan mengkombinasikan sayur dan buah akhirnya saya memutuskan untuk memasak sendiri. Langkah pertama yang saya lakukan adalah membeli rice cooker. Memang sih harga nasi di sini murah. Cukup dengan 2000 rupiah kita bisa menikmati nasi bungkus. Tapi dalam pikiran saya jika bisa memasak sendiri tentu jauh lebih hemat. Kreativitas juga bisa dimainkan.

Salah satu tempat favorit saya saat berbelanja adalah Mirota kampus. Swalayan termurah bagi kantong mahasiswa. Jika bertandang kemari saya pasti membeli buah-buahan, sayur sayuran. Semangka dan nenas adalah buah-buahan yang sering saya beli. Sedangkan buah mangga sering saya dapatkan dari sedekah teman satu kost. Sementara kalau sayuran saya sering membeli kangkung. Tapi semuanya sesuai kebutuhan sih. Tapi ya itu, sayur yang dibeli sering layu karena tidak ada lemari es untuk menyimpan.

Memasak saya lakukan jika tengah memiliki waktu luang, alias sedang tidak ada deadline tugas, UTS atau kegiatan kampus lainnya. Kalau sedang free ala Syahrini saya lebih banyak menghabiskan waktu di dapur. Biasanya saya ditemani bang Zubair. Teman kost dari  Aceh yang juga hobi masak. Tapi secara kualitas saya lebih jago darinya, makan panci rebus.

Sangking mencintai dunia masak memasak, saat pulang ke Aceh beberapa waktu lalu saya sengaja membawa tas besar namun kosong dari Yogya. Saya sudah membayangkan jika sekembali dari Aceh tas itu akan berisi penuh. Bukan dengan baju apalagi buku. Melainkan kerupuk mulieng (emping), sie reuboh, kopi Aceh, Kue Sabang, Ungkot Kareng (ikan teri), Asam sunti (belimbing sayur yang dikeringkan), Dendeng dan bahan mentah lainnya. Akibatnya pas nyampe bandara bagasinya overweight lima kilo.

Sejak ngekost di Yogya ada beberapa masakan yang sudah saya buat. Dan ini dia beberapa makanan tersebut.

Mie Rebus makanan paling gampang buat diolah
Mie Rebus makanan paling gampang buat diolah
Kuah Peuleumak, dari ikan tongkol yang disuir suir trus di campur santan
Kuah Peuleumak, dari ikan tongkol yang disuir suir trus di campur santan
Ikan teri yang disambalado.. uenak
Ikan teri yang disambalado.. uenak
Bihun...
Bihun…
Nasi Goreng sayur super, ada tering balado, telur dadar plus kerupuk pedas
Nasi Goreng sayur super, ada tering balado, telur dadar plus kerupuk pedas
Makanan sederhana, tempe goreng, telur dadar dan cah kangkung
Makanan sederhana, tempe goreng, telur dadar dan cah kangkung
Yang saya buat cuma Kuah jagung. Sisanya pemberian orang
Yang saya buat cuma Kuah jagung. Sisanya pemberian orang
Menu berbuka Puasa yang buat saudara-saudara di Aceh pada kaget
Menu berbuka Puasa yang buat saudara-saudara di Aceh pada kaget

Foto makanan yang memenuhi meja itu kami persiapkan saat berbuka puasa Arafah lalu. Ada Kolak kacang ijo, telur dadar, udang goreng, dan beberapa makanan lainnya. Sementara buah-buahan dan jus kami beli di supermarket.

Sebenarnya makanan di atas akan tercipta kalau mood memasak saya sedang on fire. Tapi kalau sedang malas saya memilih makan di luar. Kalau lagi malas keluar saya tinggal menikmati mie instan mentah gitu. Kalau masih lapar ya tinggal minum banyak air. Kenyang deh!

***

 

02112014, Yogyakarta