Tuesday 21st November 2017,
Arielogis

Maulid dan Kenangan Bersama Bapak

Ariel Kahhari 10/02/2015 Keluargaku 2 Comments
Maulid dan Kenangan Bersama Bapak

Di Aceh tempat saya berasal, Maulid Nabi selalu saja diperingati dengan penuh rasa suka cita. Kegembiraannya bahkan dilakukan dan dirasakan selama tiga bulan penuh. Sepanjang waktu itulah masyarakat mendapatkan banyak hal. Mulai dari ceramah agama hingga sajian makanan lezat. Tradisi makan bersama ini dilakukan di sejumlah tempat. Mulai dari rumah warga hingga Meunasah ataupun Mesjid. Yang jelas Maulid Nabi adalah penanggalan penting dalam masyarakat Aceh selain Ramadhan dan Syawal.

Bicara kegembiraan saat Maulid, sebuah kenangan selalu saja datang menghampiri. Ini cerita tentang Bapak. Padahal kisah ini terjadi beberapa masa silam. Tepatnya dua puluh tahun yang lalu. saat itu saya masih berusia sepuluh tahun.

Suatu hari saya dan Ferhat diajak Bapak ke Mesjid Raya Baiturrahman. Ferhat adalah adik saya. Usia kami hanya terpaut satu tahun saja. Tidak ada panggilan abang untuk saya. Cukup dengan nama saja. Sejak dulu hingga sekarang kami berdua telah berbagi banyak cerita. Bukan berarti kami tidak punya masalah. Saat kecil kami juga sering ribut, baik mulut hingga fisik. Biasanya Bapak yang melerai.

Saat kami tiba, Mesjid tampak padat. Kata Bapak sedang ada acara Maulid Akbar. Masyarakat tumpah ruah memenuhi halaman mesjid yang dipasangi banyak tenda. Satu tenda bisa memuat 50 orang. Di dalamnya sudah tersedia bu kulah. Nasi yang dibungkus dengan daun pisang. Bentuknya kerucut dan tercium harum sekali. Nasi semacam ini hanya hadir pada acara penting. Ada pula hidangan lain, rendang, udang goreng, ayam, dan tentu saja kuah beulangong. Kuah daging kambing atau sapi yang menyerupai kari namun ini jauh lebih nikmat. Kami memilih masuk dan duduk di salah satu tenda dekat kolam.

Awalnya acara berlangsung tenang. Semua warga yang hadir duduk sambil mendengar tausiah yang diperdengarkan melalui speaker. Hingga tiba saat makan. Dalam bayangan kami, makanan akan dibagi rata. Semua yang datang akan mendapat jatah yang sama. Ternyata kami salah. Saat tanda makan dibunyikan, dalam sekejap semua orang berebutan. Suasananya persis seperti mengeroyok maling. Menumpuk pada satu titik dengan tangan menggapai–gapai. Semua tampak serius. Tidak ada senyuman selain otot wajah dan tangan yang terlihat menyembul. Ternyata yang datang memang sedang lapar.

Dalam hitungan detik makanan ludes tidak bersisa. Saya, Ferhat dan Bapak hanya terdiam. Terpaku bingung. Kami memang tidak ikut berebut makanan. Malu dan tidak pantas kata Bapak. Akibatnya tak satupun bungkus makanan yang kami peroleh. Saya dan Ferhat saling bertatapan dengan pandangan nyaris kosong. Keinginan untuk makan enak langsung buyar. Saat itulah tiba-tiba Bapak menyodorkan dua buah jeruk yang sempat beliau amankan. Saat yang lain tengah berebutan makanan Bapak memilih mengambil jeruk yang terletak di sebuah meja yang terpisah.

Saya dan Ferhat mengambil jeruk tersebut. Saat kami kecil jeruk adalah buah “langka”. Tidak seperti rambutan, durian, manggis atau langsat yang sering dikirim dari kampung. Sambil menikmati jeruk manis, kami hanya memandangi mereka yang sedang makan. Tidak ada yang datang untuk sekedar berbasa basi. Semua sibuk dengan diri masing-masing.

“Yuk kita pulang” Kata Bapak.

Kami menolak sambil merengek. Berharap jika tak dapat makan dari khanduri setidaknya dibelikan makanan enak. kami tidak faham jika saat itu adalah waktu dimana Bapak dan Mak sedang berhemat. Bapak tetap meminta kami pulang. Entah apa alasan beliau saat itu akhirnya kami pun beranjak pergi. Pergi meninggalkan warga yang menyantap rendang, perkedel, ayam goreng dan makanan lezat lainnya. Bapak tau kami kecewa. Sayangnya kami tidak cukup faham jika saat itu bapak lebih kecewa dan sedih karena tidak bisa menghadiahi kami dua bungkus bu kulah.

Makanan Maulid (taken from tribunnews.com)

taken from tribunnews.com

Sambil menunggu labi-labi (angkot) kami diajak masuk ke dalam supermarket yang berada dekat dengan Mesjid. Bapak yang tau kalau kami kecewa membelikan sebuah hadiah. Masing masing kami diberi sebuah pulpen. Entah untuk apa barang itu. Padahal jika dihitung-hitung harga kedua pulpen tersebut bisa untuk uang jajan ke sekolah. Kami senang. Sebab di sekolah kami masih menggunakan pinsil. Memiliki pulpen adalah sebuah kebahagiaan dan kebanggaan.

Setelah itu kami pun pulang. Di dalam labi-labi, disepanjang perjalanan, saya dan Ferhat disibukan dengan hadiah pemberian Bapak. Kami bahagia hingga melupakan lezatnya bu kulah.

Kini dua puluh tahun berlalu. Bapak memang tidak lagi bersama kami. Beliau berpulang pada tahun 2002 lalu. Tetapi banyak cerita, kisah dan kenangan tentang beliau yang hingga kini masih kami ceritakan apalagi saat berkumpul.

Bagi kami Bapak adalah teladan. Doanya teramat dalam untuk kami anak-anaknya. Mungkin saat membelikan pulpen itu entah doa apa yang diucap. Yang jelas kini saya dan Ferhat sama sama menggeluti dunia kepenulisan. Saya bekerja di media dan aktif menulis di blog. Sedangkan Ferhat lebih dahsyat lagi, tulisannya malah sudah dibukukan. Dan tiap kali saat maulid tiba, cerita ini kembali datang. Menghampiri pikiran untuk berkisah akan beliau yang selama hidupnya telah memberikan banyak makna kepada kami.

***







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

2 Comments

  1. Aci 02/07/2015 at 05:42

    ini keren banget…….

    • Ariel Kahhari 05/07/2015 at 04:52

      thanks Aci… menulis tentang keluarga akan membuat cerita suka itu menjadi semakin abadi

Leave A Response

Click here to cancel reply.