Wednesday 22nd November 2017,
Arielogis

Malapetaka di Telaga Tujuh

Ariel Kahhari 06/05/2016 Aceh, Melintas Batas 2 Comments
Malapetaka di Telaga Tujuh

Bila Indramayu kehilangan garis pantai sepanjang 50 kilometer maka di Aceh malapetaka itu terjadi di Telaga Tujuh.  Desa ini adalah “rumah” yang diselimuti ketakutan, kekhawatiran, rasa iba dan penuh harap. Telaga Tujuh bukan saja telah kehilangan sebagian daratan karena terkikis gelombang pasang. Namun juga menggambarkan kegetiran dan perjuangan warga tempatan. Di tengah kesulitan ekonomi, mereka memilih untuk bertahan, berdiam di tanah kelahiran yang terancam abrasi!

Awal April lalu saya mengunjungi desa ini. Dengan menumpangi kapal milik nelayan, saya menyusuri sungai mangrove yang berujung pada lautan lepas. Dari Kuala Langsa perjalanan ditempuh selama satu jam. Saat itu langit memang tengah cerah. Tidak ada hembusan angin timur yang membuat ombak bergelombang. Tapi bukan berarti perjalanan berjalan mulus. Pusaran air membuat perahu beberapa kali oleng dan dibanting kuat. Air laut masuk ke dalam dan membasahi para penumpang dan barang. Awal perjalanan yang terdengar riuh berubah sepi. Hanya ada suara pawang yang mengatur laju perahu. Saya yang berdiri dibagian depan tidak berani beranjak meski hanya untuk sekedar duduk.

Sungai Mangrove di Kuala Langsa sebelum sampai di laut lepas

Sungai Mangrove di Kuala Langsa sebelum tiba di laut lepas

Perahu menuju Telaga Tujuh

Perahu nelayan inilah yang mengantarkan saya menuju Telaga Tujuh

Menjelang siang, saya pun tiba di dermaga Telaga Tujuh. Tidak ada penyambutan istimewa layaknya tamu jauh selain tatapan asing para warga. Telaga Tujuh yang berada jauh dari daratan Langsa tampak seperti daerah terasing. Tidak banyak orang luar yang mengunjungi desa ini. Hilir mudik perahu lebih banyak dilakukan warga lokal yang keluar masuk menuju Kota Langsa. Di dermaga saya sempat menjumpai kumpulan ibu-ibu yang sedang duduk di dalam perahu.

“Mau beli bensin sama solar” ujar seorang diantara mereka yang menenteng drum kosong saat ditanya tujuan menuju Langsa.

Telaga Tujuh hanyalah sebuah pulau kecil. Luasnya 250 hektar atau 3,68 persen dari luas total Kota Langsa. Tinggi daratan tidak sampai sepuluh meter dari permukaan laut. Secara adminitratif desa ini berada dalam Kecamatan Langsa Barat bersama 13 desa lainnya. Dibandingkan dengan yang lain Telaga Tujuh berada paling jauh dengan Kota Langsa yaitu 17 kilometer. Menjadi lebih jauh karena satu-satunya transportasi yang bisa digunakan untuk mengakses desa ini hanyalah perahu milik nelayan.

Dulu ada 700 lebih kepala keluarga yang tinggal dan hidup di sini. Namun kini jumlahnya telah berkurang. Sebanyak 300 Kepala Keluarga terpaksa mengungsi ke desa lain. Masyarakat Telaga Tujuh lebih banyak menghabiskan hari-harinya bersama laut. Meskipun ada juga warga yang memelihara ternak atau membuka warung sederhana. Bangunan didominasi oleh rumah kayu yang mulai tampak usang.  Hanya beberapa bangunan saja yang semi permanen seperti mesjid dan sekolah. Tidak ada jalan beraspal, hanya pertapakan yang terbuat dari semen. Siang itu saya melihat beberapa tempat mulai tergenang air pasang. Mungkin inilah yang menjadi alasan mengapa jalan dibuat lebih tinggi.

Energi listrik diperoleh dari mesin diesel milik PLN yang terletak di dekat dermaga. Untuk menutupi kekurangan daya, warga memasang solar sel disetiap rumah. Sedangkan air bersih tersedia berkat alat penyuling bantuan pemerintah. Lazimnya desa nelayan, kemiskinan adalah potret yang mudah dijumpai. Saya sempat melewati sebuah rumah yang bentuknya sedikit berbeda. Dinding kayu hanya menutupi setengah bangunan. Sementara ruangan lainnya terbuka begitu saja. Dari dalam rumah seorang ibu memelas mohon pertolongan. Warga beranggapan jika orang asing yang datang adalah pejabat yang dapat dimintai bantuan.

Abrasi di Telaga Tujuh

Pemandangan di Telaga Tujuh. Laut ini dulunya pemukiman warga

Rumah di Telaga Tujuh

Rumah kayu adalah biasa di Telaga Tujuh

Dulu Telaga Tujuh dikelilingi rerimbunan mangrove yang begitu lebat. Tapi lambat laun hamparan hijau itu mulai tampak menganga. Lautan yang dulunya tersembunyi kini sudah terbentang di depan mata. Mangrove yang seharusnya menjadi tanaman penghalau gelombang nyaris tidak bersisa. Perambahan memang sengaja dilakukan untuk mendapatkan batang mangrove sebagai bahan baku pembuatan arang. Awalnya warga desa tidak begitu peduli dengan aksi perambahan.

“Kami tidak menyangka kalau mangrove akhirnya habis” Ungkap Panglima Laot Ridwan Amin yang saya temui di dekat lokasi abrasi.

Kondisi Telaga Tujuh semakin mengkhawatirkan karena sisa daratan tidak dilindungi tanggul pemecah ombak. Batu-batu besar tidak seluruhnya mampu menutupi pinggiran desa. Sebagian telah diganti dengan karung pasir. Sementara sisanya dibiarkan terbuka. Bila pasang tiba lahan pemukiman yang berada di belakang mesjid berubah menjadi lautan. Namun bagi anak-anak kondisi ini bukalah isyarat bencana melainkan areal bermain dan bersenda.

Perahu yang ditambat

Perahu ditambat dengan latar karung pasir sebagai Breakwater

Telaga Tujuh

Anak-anak berenang di bekas areal pemukiman penduduk

Satu-satunya yang membuat Telaga Tujuh tetap bertahan adalah keberadaan sebuah pulau kecil yang terletak di depan desa ini. Berkat pulau tak berpenghuni tersebut kuatnya gelombang masih bisa sedikit diredam. Tetapi kondisinya juga memprihatinkan. Beberapa mangrove dewasa mulai kering. Batang yang masih hidup juga menjadi target perambahan. Warga meyakini keberlangsungan kehidupan mereka amat tergantung dari pulau tersebut.

“Kalau pulau itu hilang maka giliran berikutnya adalah desa kami” kata sang Panglima saat ditanya tentang seberapa penting pulau tersebut bagi warga. Hilangnya pulau kecil itu adalah penanda kiamat akan lenyapnya Telaga Tujuh.

Butuh beberapa langkah untuk menyelamatkan Telaga Tujuh agar tidak hilang disapu gelombang. Langkah yang pertama tentu saja membangun breakwater yang mengelilingi desa. Karung pasir harus segera diganti dengan batu-batu besar yang disusun berundak. Ketinggian batu pemecah ombak harus memperhatikan potensi kenaikan air laut karena pemanasan global.  Breakwater menjadi penting karena dapat melindungi pantai dari serangan gelombang yang mengakibatkan erosi. Memang pembangunan ini membutuhkan modal besar. Sebab untuk mengangkut batu-batu menuju pulau hanya bisa mengandalkan kapal-kapal berukuran besar. Namun menyelamatkan sebuah desa tentu jauh lebih penting, bernilai dan bermanfaat.

Setelah desa ini terlindungi dari hantaman gelombang secara langsung maka langkah berikutnya adalah menanami kembali tanaman mangrove. Bila bekas pemukiman warga tidak mungkin lagi ditinggali maka areal tersebut dapat dijadikan sebagai lokasi penanaman. Sebab posisinya langsung berhadapan dengan laut. Mengapa harus tanaman mangrove? Kecamatan Centigi di Kabupaten Indramayu telah membuktikannya. Dari 10 kecamatan di Kabupaten tersebut yang memiliki kawasan pantai hanya Centigi yang hampir tidak memiliki persoalan abrasi.  Sebab daerah Centigi masih memiliki kawasan hutan mangrove yang dirawat dan dijaga. Mangrove memang memberi banyak manfaat bagi lingkungan. Hutan mangrove mampu meredam energi dari terjangan gelombang arus air laut. Rumpun-rumpun tanaman mangrove mampu memantulkan, meneruskan dan menyerap energi gelombang yang datang. Dengan demikian gelombang yang sampai ke sisi pantai hanya berupa riak-riak saja.

Upaya penanaman mangrove harus melibatkan warga secara aktif. Sebab tanaman ini harus dirawat dan dijaga. Dengan melibatkan masyarakat sekaligus juga meningkatkan kesadaran dan pemahaman warga tentang pentingnya menjaga lingkungan. Mangrove yang dijaga tentu saja bukan hanya yang berada di Telaga Tujuh, namun juga mangrove yang ada di pulau kecil yang berhadapan dengan desa. Tanaman yang dewasa tidak boleh dibiarkan mati. Sedangkan areal yang telah kosong harus kembali ditanami dengan bibit yang dapat diperoleh dari Kuala Langsa.

Bibit Mangrove

Pembibitan Mangrove di Kuala Langsa

Saya yang terpaku melihat fakta ini hanya bisa menghela nafas panjang. Ada rasa iba saat melihat kondisi Telaga Tujuh dan warga yang tinggal di dalamnya. Setelah dihimpit dengan ekonomi yang semakin sulit, kini mereka harus bersiaga untuk menjadi pengungsi berikutnya. Abrasi di Telaga Tujuh memang tidak hanya membuat garis-garis pantai menjadi semakin menyempit. Jika dibiarkan begitu saja akibatnya dapat menjadi lebih berbahaya. Bila sebelumnya 80 unit rumah warga telah disapu gelombang maka yang menjadi sasaran berikutnya adalah mesjid dan rumah warga yang ada didekatnya.

Melihat lebih dekat Desa Telaga Tujuh membuat diri ini semakin yakin bahwa setiap malapetaka adalah balasan dari apa yang telah kita semai. Andai semua orang berpikir bahwa hidup bisa dilanjutkan tanpa harus merusak lingkungan, pasti alam akan seimbang dengan sendirinya. Tidak perlu lagi ada orang yang terusir ataupun menangis meratapi rumah yang telah menyatu bersama lautan.

Hari menjelang sore, saat langit mulai mengarak gumpalan hitam saya pun beranjak meninggalkan desa. Saya kembali ke dermaga untuk melanjutkan perjalanan pulang menuju Kuala Langsa. Teringat dengan apa yang disampaikan sang panglima sebelum kami berpisah.

“Jika tidak ada lagi yang peduli maka Desa Telaga Tujuh hanya akan tinggal nama.“

***







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

2 Comments

  1. zahri 01/08/2016 at 13:01

    kelihatan nya asik kali bang bisa melintasi bakau-bakau itu…

    • Ariel Kahhari 28/08/2016 at 01:49

      bukan lagi…ribuan hektar! belum habis lagi jembatan itu dibangun.tak jelas dimana ujungnya

Leave A Response