Monday 20th November 2017,
Arielogis

Kathmandu, Kota Kuil Yang Ramah

Ariel Kahhari 09/09/2013 Nepal 2 Comments
Kathmandu, Kota Kuil Yang Ramah

Akhir April 2012 lalu, saya terpilih menjadi salah satu delegasi mewakili Indonesia untuk mengikuti Training of Journalists on Legal awareness in an era of Media Convergence di Khatmandu, ibu kota Nepal. Training ini diikuti oleh sejumlah negara yang memiliki catatan konflik berkepanjangan dan masih tertutup dalam hal kemerdekaan penyebaran informasi, seperti India, Malaysia, Bhutan, Srilangka, Bangladesh, Cina, dan tuan rumah Nepal.

Saya terbang dari jakarta kemudian transit di Hongkong selama beberapa jam. menjelang magrib saya terbang ke Kathmandu mengunakan Dragon Air anak maskapai dari Cathay Pasific. Setelah menempuh perjalanan melelahkan hampir 12 jam dari Jakarta akhirnya saya tiba di Nepal.

Baca : Terbang ke Tribhuvan International Airport

 

Salah satu sudut Kota kathmandu.

Salah satu sudut Kota kathmandu.

Aku di depan salah satu SPBU di Kota Kathmandu

Aku di depan salah satu SPBU di Kota Kathmandu

Nepal adalah negara kecil yang dihimpit oleh India dan Cina. Melihat Kathmandu, saya teringat terbayang kota Banda Aceh pada era 1990-an. Kota yang masih didominasi bangunan-bangunan lama ini, tampak masih berbenah. Jalanannya juga berdebu, serta berudara kotor.

Ya, kota Kathmandu tergolong salah satu kota di dunia dengan tingkat polusi mengkhawatirkan. Maka selama perjalanan berkeliling kota, saya beserta delegasi lain lebih suka menggunakan masker. Hal ini tentu semakin diperparah dengan tingkat oksigen yang terbatas, mengingat Nepal berada di daratan tinggi dunia.

Berkeliling kota Kathmandu, menelisik saya mengenal lebih dekat masyarakat lokal di daerah ini. Hindu dan Buddha menjadi agama dominan di negara berpenduduk 29 juta itu. Di mana-mana dengan mudah saya menemukan kuil, tak terkecuali di mall, selayak saya dengan mudah menjumpai mesjid atau mushalla di Aceh.

 

Masyarakat Nepal tergolong “taat” dalam beribadah. Patung Buddha betebaran di pusat-pusat kota dan dijajakan sebagai souvenir belanja. Namun sayang, selama seminggu di Nepal saya tak berkesempatan mengunjungi Lumbini, sebuah tempat ziarah Buddhis di distrik Kapilavastu Nepal, dekat perbatasan India.

Baca : Shalat Jumat di Negeri Atap Dunia

Kathmandu ataupun wilayah Nepal lainnya, dipenuhi sejumlah objek wisata keagamaan yang menggambarkan perkembangan agama Hindu dan Buddha. Bangunan kuil dan istana, yang sebagian dibangun pada pertengahan abad ke-17, tersebut tersebar dan menjadi andalan wisata Nepal selain puncak gunung Everest.

Masyarakat Nepal termasuk ramah dalam bertutur. Di saat saya bepergian sendirian mengeliling kota, beberapa warga menyapa ramah. Bahkan tak segan-segan mengajak berbicara menanyakan asal saya. Dan umumnya mereka mengenal Aceh dari peristiwa tsunami yang terjadi 7 tahun silam.

Keramahan itu juga diwujudkan ketika tanpa sengaja sepulang dari kunjungan ke Nepal TV di komplek Kementerian, saya beserta rombongan melihat sunset yang begitu indah dari atas Bagmati Bridge. Masyarakat lokal yang melihat rombongan pendatang seperti kami, memberikan ruang walaupun lalulintas di atas jembatan sedikit terganggu dengan pemberhentian kami tiba-tiba.

jembatan bhakmati

Suasana Bagmati Bridge

Sungai di bawah Bagmati Bridge yang kotor karena sampah dan limbah Pabrik

Sungai di bawah Bagmati Bridge yang kotor karena sampah dan limbah Pabrik

Kawanan sapi di Bagmati Bridge.

Kawanan sapi di Bagmati Bridge.

Hal sama juga saya alami di hari terakhir. Ketika selepas saya check out hotel, saya kesulitan menemukan ruang shalat. Beruntung seorang pemuda asal Kashmir yang telah menetap lama di Kathmandu, menawarkan ruang di tokonya untuk saya shalat. Keramahannya pun berlanjut ketika saya hendak berpamitan.

Sungguh, selayak salju di puncak Himalaya. Negeri ini memberikan kesejukan bagi pedatang. Maka tak heran, pada 2011 lalu, misalnya, Nepal berhasil mencanangkan tahun kunjungan wisata.







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

2 Comments

  1. Kei 09/06/2014 at 15:22

    Sangat menginspirasi sekali, Wish you will be downhill all the way :)

Leave A Response