Tuesday 26th September 2017,
Arielogis

Kartu Lebaran, Budaya Baik yang Ditinggalkan

Ariel Kahhari 10/07/2015 Keluargaku 6 Comments
Kartu Lebaran, Budaya Baik yang Ditinggalkan

Kak Lia, kakak saya yang pertama duduk di kursi rotan di depan rumah. Sambil memilin ujung baju menatap ujung jalan.

“Kok belum datang ya” tanyanya

Kak Voni yang juga duduk menemani kak Lia hanya diam. Sesekali pandangannya dia tajamkan ke ujung jalan. Berharap ada seseorang yang datang. Meski akhirnya, sepanjang hari itu orang yang ditunggu tak kunjung tiba. Kecewa, sudah pasti. Bagaimana tidak, banyak pekerjaan yang harus ditunda hanya karena menunggu. Contoh, kue bawang yang harusnya sudah selesai setengah porsi masih tertumpuk berbentuk adonan. Belum lagi jendela kaca bagian depan yang belum dibersihkan. Pot bunga yang akan jadi hiasan dalam rumah juga belum diseleksi. Tergeletak berdebu di perkarangan.

Dulu ketika saya masih kecil, di penghujung Ramadhan, melihat kakak  duduk di depan rumah dengan wajah penuh harap adalah hal lumrah. Karena jelang lebaran ada sosok yang kedatangannya benar-benar dirindukan. Ia bermotor dan berpakaian serba orange.  Biasanya suka hilir mudik di depan rumah. Dia adalah pak pos. Saat itu memang hanya pak pos yang jadi andalan. Sebab merpati pos sudah terbang entah kemana.

Merindukan pak pos bukanlah tanpa alasan. Sebab yang menghubungkan kabar antara teman yang berjarak, yang mengantarkan paket orang tua untuk anak yang jauh dari pelupuk mata adalah pak pos. Sangking padatnya aktifitas, terlalu sering lewat di depan rumah membuat kami saling kenal satu dengan yang lainnya. Bahkan sangat akrab sudah seperti keluarga. Mungkin juga karena Pak pos tinggal di sebelah rumah.

Jelang lebaran tugas pak pos semakin berat. Wira wiri di depan rumah juga semakin sering. Banyak paket yang harus diantar. Banyak surat yang harus dikirim. Salah satunya adalah kartu lebaran atau biasa juga disebut card lebaran. Suka gemes kalau lihat pak pos hanya mengantar paket kiriman ke tetangga depan lalu pergi meninggalkan kami yang berdiri manis di depan pagar.

“Pak Pos, buat kami ngak ada?” kalau disapa demikian pak Pos hanya tersenyum. Mendadak berasa menjadi artis.

Dulu sebelum zaman secanggih sekarang, meminta maaf itu menggunakan kartu lebaran. Itulah yang menjadi jurus andalan. Bentuknya sederhana saja. Harganya pun murah meriah tergantung ukuran dan kualitas. Corak dan warna juga beragam. Biasanya dijual di supermarket atau kantor pos. Dulu satu kartu lebaran dijual mulai dari harga 500 ratus hingga ribuan rupiah.

Contoh kartu lebaran tempoe doloe ( fimela.com)

Contoh kartu lebaran tempoe doloe ( fimela.com)

Formal tidaknya sebuah kartu ucapan sangat tergantung dari siapa yang akan menerima kartu tersebut. Kalau kartu dikirim untuk saudara jauh, biasanya desainnya bergambar Mesjid Raya Baiturrahman. Kesannya lebih formal, lebih Aceh pastinya. Sedangkan kalau teman biasa bentuk kartunya pun lebih simple. Gambar Mesjid yang ditutupi pohon qurma. Sederhana tapi tetap berkesan. Kalau lagi bokek atau sedang ingin berhemat sekaligus berkreasi, kartu juga bisa didesain sendiri. Tinggal beli kertas agak keras, beri kombinasi warna dan gambar, kartu pun selesai.

Kartu lebaran ukurannya ada yang persegi panjang ada pula yang petak bujur sangkar. Prinsipnya sama saja. Kartu dibagi ke dalam dua bagian. Satu sisi kosong untuk ditulis kalimat tangan. Boleh berpuisi, berpantun atau kalimatnya langsung pada intisari. Lagi-lagi tergantung untuk siapa kartu itu dikirimkan. Tidak ada batasan jumlah karakter. Semakin kecil tulisan, semakin banyak kata yang bisa ditulis. Semakin besar tulisan, mungkin kalimat yang dirangkai hanyalah “ Selamat Lebaran”. Tidak ada aturan baku yang mengikat. Tak jarang kalau hilang akal, satu kartu dengan kartu lainnya isi nya dibuat sama, toh yang menerima orangnya beda.

Contoh Kartu Lebaran

Contoh Kartu Lebaran

 

Kartu Lebaran memang banyak versi. ada yang formal atau juga yang santai

Kartu Lebaran memang banyak versi. ada yang formal atau juga yang santai

Saya memang tidak termasuk orang yang menggunakan kartu lebaran. Sebab saat card ini menjadi trend saya masih polos, duduk bersekolah di tingkat dasar. Jadi tidak ada relasi yang perlu dikirimi kartu ucapan mohon maaf. Tapi saya pernah coba membeli dan mengirim ke beberapa teman, meski rumah kami masih dalam satu kota yang sama hanya beda kelurahan. Seingat saya tidak ada dari mereka yang memberi kartu balasan.

Tapi saya beruntung sebab pernah merasakan suka cita itu. Saya faham bagaimana atmosfir perasaan gelisah bergelayut menunggu pak pos mengantar kartu balasan. Lalu membacanya bersama sama di dalam kamar. Kami yang masih kecil  hanya faham bentuk luar dari kartu saja. Berdecak kagum melihat kombinasi warna dan gambar. Sedangkan kalau isi dalam, ya itu rahasia orang dewasa.

Saya pernah mencoba mengembalikan memori itu. Beberapa tahun silam saya mengitari kota Banda Aceh. Berkunjung dari satu toko ke toko lainnya. Ternyata tidak ada lagi yang menjual kartu lebaran. Harapan saya yang terakhir adalah kantor pos. Ternyata hasilnya juga sama. Bahkan petugas di kantor pos sedikit kaget ketika saya bertanya tentang kartu lebaran. Bisa jadi itu barang sudah lama tidak dijual. Padahal dulu kartu lebaran ditumpuk dalam satu bahkan dua keranjang besar. Dijual begitu saja.  Tinggal memilih kartu mana yang pas di mata.

Saya coba membandingkan antara budaya berucap maaf dengan card lebaran dengan cara sekarang. Ternyata menggunakan kartu lebaran jauh lebih berkesan dibandingkan dengan ucapan lebaran via sms, pesan WA, BBM, FB ataupun twitter. Buktinya adalah  semakin banyak sms, bbm dan WA yang masuk semakin pula kita abaikan. Abai karena memang tak lagi kita baca. Pesan dengan pantun ria yang ternyata juga di copy paste dari sms lainnya amatlah membosankan. Tak jarang di BBM kita menulis “Jangan kirim pesan lagi ya, semuanya sudah saya maafkan”. Atau dilapak FB, kita memasang status “Kalau kirim sms ucapan lebaran, namanya yang lengkap, pernah kenal dan ketemu dimana”. Bahkan ucapan maaf di medsos hanya berakhir dengan beberapa like saja. Hambar sekali rasanya. Ucapan maaf yang sebenarnya sakral berakhir ala kadar tanpa rasa.

Coba bandingkan dengan mereka yang pernah berkirim maaf melalui kartu lebaran. Kak lia dan Kak Voni misalnya. Kakak saya ini, hingga kini masih menyimpan kartu-kartu lebaran yang pernah mereka terima dua puluh tahun yang lalu. Rapi tersusun dalam sebuah kotak. Sesekali dibaca untuk mengenang kawan lama. Ada diantara mereka yang komunikasi nya masih terjalin, ada pula yang tak lagi ada kabar. Tapi kartu lebaran tetap meninggalkan kenangan tentang seorang teman dan sahabat. Meski kartu tersebut dikirim pada tahun 1993 atau lebih lama dari itu tapi masih bisa dibaca dan dikenang.

Saya merindukan masa-masa itu. Saat dimana card lebaran menjadi tanda jika Idul Fitri segera tiba. Andai saja waktu bisa kembali, ingin rasanya membeli banyak kartu lebaran. Mengirimnya ke banyak teman. Dan ikut merasakan atmosfir kebahagiaan saat menerima kartu balasan. Teman, kalian sepakat tidak jika budaya baik dari kartu lebaran kita hidupkan lagi. Kita kirim melalui pos bukan yang kita sebar di media sosial. Agar dua puluh tahun dari sekarang kita masih menyimpan cerita tentang hari ini. kalian setuju?

***

Banda Aceh, Rabu, 21 Ramadhan 1436H, 08072015







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

6 Comments

  1. Jual Airsoft Gun Murah 12/07/2015 at 21:01

    Kartu lebaran memang gaya tempoe dulu yang bakal jadi kenangan. Tapi sekarang sudah serba canggih bang, gaya berpikir orang pun udah berubah, mana mau lagi mereka repot2 ke pos demi itu..

    Sekarang sudah ada email atau sms/telpon, sangat praktis dan mudah, jadi wajar aja kita mulai berubah..

    barangkali kartu lebaran ini masih bisa kita budayakan, cuma melalui FB aja bang hehe

    -Monza

    • Ariel Kahhari 13/07/2015 at 03:54

      Janganlah Monza abang sedih kali kalau kamu bilang macam gitu rupa hahhah
      tapi terbukti kan kalau ucapan lebaran via medsos kurang berkesan. sms masuk langsung di hapus supaya ngak menuhin memori hahah

  2. Haya 12/07/2015 at 05:53

    Dulu ketika tsanawiyah saya juga sering kirim kartu Idul Fitri, biasanya untuk teman yang di kabupaten lain, beberapa membalas beberapa tidak. Tapi ketika bertemu kartu itu jadi seolah perekat pertemanan jadi makin dekat :D Pernah juga kirim untuk guru kelas.. Rasanya lebih personal dibanding pesan bbm yang dikirim dengan isi yang sama sekaligus ke semua kontak ya…

    Sayang juga kalau sekarang tidak dijual lagi..

    • Ariel Kahhari 13/07/2015 at 04:03

      Itulah.. padahal kartu ucapan seperti ini bisa disimpan, jadi kenangan juga. ya kan…

  3. darman Reubee 11/07/2015 at 13:37

    Lebih bagus lagi Bang, pakek `kartu mulut`. Jumpai teman2 lalu bilang sambil jabat tangan “Minal aizin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin yaaaa, maafkan semua dosa saya termasuk Utang saya tolong dimaafkan” Lebih Afdol bang. :D

    • Ariel Kahhari 13/07/2015 at 03:57

      Afdhal kali tu, sambil cipika cipiki kan.. heheh
      cuma kalau kawan nya di Papua bagaimana cara nya?? :)

Leave A Response