Tuesday 21st November 2017,
Arielogis

Kala Monyet Jadi Raja Hutan

Ariel Kahhari 14/02/2017 Uncategorized No Comments

Setelah ditinggal singa karena tewas tercebur ke dalam sungai yang dalam, suasana hutan menjadi gaduh. Penghuni hutan bingung siapa yang akan melanjutkan kepemimpinan usai mangkatnya sang raja. Singa yang mati tenggelam adalah generasi terakhir yang tersisa. Tidak mungkin mendatangkan singa dari hutan lain hanya untuk diangkat menjadi raja. Dengan demikian posisi singa harus digantikan oleh hewan jenis lain. Namun tidak ada yang berani mengambil tampuk kekuasaan nomor satu itu. Semua merasa keberatan untuk menjadi raja hutan.

“Aku tidak cocok, langkahku lambat dan begitu kuat sampai tanah ikut bergetar” Ujar gajah menolak saat ditunjuk menjadi Raja. Menurutnya Raja hutan adalah sosok yang dapat berjalan senyap sehingga mampu menerkam mangsa dengan mudah.

Begitupula dengan kerbau. Ia juga menolak keinginan hewan lain agar dirinya mau dijadikan sebagai penguasa hutan. Menurutnya badan besar bukan alasan tepat untuk menjadi raja. Badan besar hanya akan meyulitkan perjalanan jauh.

“Bukankah raja itu harus bisa menuntun kita semua. Lagi pula aku lebih senang tidur dikubangan” Ujar kerbau

Pilihan berikutnya jatuh ke tangan kancil. Sebagai hewan yang cerdik, kancil diyakini dapat bertingkah laku bijak layaknya seorang pemimpin. Tapi kancilpun menolak. Sebab dia merasa sering berbohong walaupun untuk membantu teman. Menurutnya raja yang baik adalah yang selaku berlaku jujur.

Di tengah kebingunan para penghuni hutan, seekor binatang mengacungkan tangan. Ia adalah monyet. Dia lalu naik ke atas mimbar yang terbuat dari batu besar. Tempat tersebut adalah singgahsana Singa si raja hutan. Setelah memberi muqadimah panjang dan sesekali membaca teks, dia menawarkan diri menjadi Raja hutan. Semua peserta rapat kaget. Bagaimana bisa monyet diangkat menjadi raja.

“Mengapa kau berani menawarkan diri dan menyiapkan teks pidato. Apakah kau sudah tau jika singa akan mati?” ujar ular yang dari tadi hanya menyimak jalannya rapat.

Sambil mendekati ular, monyetpun berkata “Badanku memang tidak sebesar singa, tapi aku bisa melompat. Gerakanku bahkan lebih cepat dari siapapun”

“Lalu bagaimana dengan teks tadi?” Tanya burung merpati.

“Oh ini” ujar monyet sambil melipat daun pisang. Ia berkilah jika sebagai penyebar kabar kematian singa, monyet tau jika setelah ini hutan akan kehilangan pegangan. Maka ia hanya berinisiatif menulis pidato duka cita. Tujuannya sederhana agar ia tidak salah baca.

“Toh isinya tidak ada yang aneh-aneh” kata monyet coba meyakinkan.

Suasana rapat kembali hening. Beberapa hewan tampak berdiskusi dengan suara rendah. Tidak ada yang ingin membantah. Semua bingung siapa yang paling pantas yang menjadi raja. Monyet lalu kembali bersuara. Ia mulai menebar janji kepada hewan penghuni hutan.

“Semua akan hidup damai dan tenang. Tidak ada lagi yang saling memangsa seperti yang dilakukan raja sebelumnya”.  Janji tersebut langsung disambut sorak sorai. Semua berbahagia. Mereka yakin jika hutan akan menjadi tempat teraman di dunia. Harapan untuk hidup lebih baik sudah terpampang di depan mata. Melalui musyawarah, seluruh hewan bersepakat jika monyet layak menjadi raja!

Dalam waktu singkat semua pihak ikut serta menyiapkan upacara pelantikan. Satu persatu hewan menyerahkan benda berharga yang mereka miliki. Merpati menyiapkan mahkota bunga. Gajah dan kerbau sengaja mengangkut kayu-kayu pilihan sebagai singgahsana. Hewan lain turut menyumbangkan buah-buahan sebagai persembahan. Hingga akhirnya monyet dilantik dan menjadi raja.

Hari berlalu menjadi minggu dan berubah menjadi bulan. Para penghuni hutan mulai resah. Damai yang dijanjikan monyet tak kunjung datang. Pertumpahan darah masih terjadi. Musang masih memangsa ayam hutan. Begitupula dengan buaya yang masih setia menunggu rusa di tepi sungai.  Janji monyet yang akan melayani penghuni hutan ternyata hanya isapan jempol semata. Sejak dilantik sebagai raja, monyet malah meminta setiap hewan mengantarkannya makanan secara bergiliran. Ia memerintahkan pasukan militernya yang terdiri dari binatang carnivora untuk menghancurkan siapa saja yang menetangnya. Sebagai balasan, pasukan tersebut diizinkan memangsa kawanan rusa, zebra dan hewan yang mereka sukai.

Begitulah monyet menjalankan pemerintahannya. Sombong dan terlampau angkuh.  Hewan-hewan yang berupaya memberontak semua berakhir binasa. Gajah disekap di dalam gua. Kerbau dibiarkan mati kelaparan, begitupula dengan ular, kancil, hingga elang. Hewan-hewan yang dulunya bersuka ria kini memilih untuk diam daripada dianiaya.

Kisah ini tentu saja hanyalah dongeng semata. Tetapi cerita ini bisa saja berulang di alam nyata. Pilkada yang sejatinya akan melahirkan para singa bukan tidak mungkin menghasilkan para monyet yang berlagak seperti singa. Merasa gagah berani lagi mengagumkan serta mampu menjadi pelindung dan pengayom. Padahal mana da ..

***

 







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

Leave A Response