Tuesday 26th September 2017,
Arielogis

Jokowi yang Ceplas Ceplos, Sebuah Anugerah atau Musibah

Ariel Kahhari 21/10/2014 Suara Langit 5 Comments
taken from http://coblosyuk.blogspot.com

taken from http://coblosyuk.blogspot.com

Sore itu Banda Aceh tengah di dera hujan lebat. Saya memilih berteduh di salah satu warung kopi sambil menikmati segelas teh panas dan semangkuk bakso. Ketika tengah asyik mengunyah bakso daging yang dicampur banyak tepung itu, sebuah pesan

masuk. Pesan BBM yang dikirim oleh seorang teman. Jurnalis di sebuah radio berita di Jakarta.

“Ada liat sambutan Jokowi ngak, waktu serah terima jabatan di Istana?”

Karena tengah asyik aku membalas singkat. “Yup, kenapa?”

Balasan berikutnya bisa ditebak. Analisa panjang dari seorang wartawan. Dia menilai Jokowi gagal dalam memberikan sambutan. Bukan saja sambutannya yang dinilai singkat namun bahasa tubuhnya juga tampak kurang bersahabat. Menurutnya ketika SBY menyampaikan sambutan, tubuhnya mengarah ke Jokowi. Namun ketika giliran Jokowi berbicara, arah badannya lurus ke depan sedikit “mengabaikan” kehadiran SBY di sebelahnya. Padahal di saat yang sama SBY sudah mengarahkan tubuhnya ke arah Jokowi. SBY dicuekin!

Membaca ulasannya, otak saya pun coba memutar kembali peristiwa bersejarah yang berlangsung di Istana itu. Ya ternyata apa yang dia sampaikan ada benarnya.

“Jokowi juga lupa memberi salam” balasku kemudian

Mungkin tidak banyak yang memperhatikan jika saat Jokowi membuka sambutannya beliau lupa memberikan salam. Jujur saya sempat kaget. Awalnya saya mengira Jokowi memang sengaja tidak mengucapkannya. Namun di akhir sambutan Jokowi malah menutupnya dengan salam. Oh berarti beliau lupa. Memang hukum mengucapkan salam adalah sunnat dan menjadi wajib untuk dijawab.

Saya yakin saat itu Jokowi sedang nervous. Itu bisa dilihat dari gesture beliau yang kaku. Padahal kita tau beliau adalah sosok santai, relaks baik ketika berbicara maupun melakukan suatu aktifitas. Beliau tidak terlalu suka diatur. Makanya ketika Jokowi meminta agar jarak antara ia dengan masyarakat tidak dibuat terlalu jauh, hal tersebut sedikit menimbulkan polemik. Saya kira wajar, karena itu merupakan hal baru bahkan tabu di negeri ini. Selain itu “santainya” Jokowi juga tampak ketika beliau berjalan. Cepat sekali! Padahal biasanya, kita disajikan dengan pemandangan pemimpin yang jalannya sedikit diperlambat, tegap dan sangat protokoler sambil sesekali menempelkan tangan ke dada bagian kiri. Langkah cepat Jokowi terlihat baik usai dilantik di gedung DPR MPR atau saat prosesi sertijab di Istana. Tak jarang pejabat negara lain pun ketinggalan. Tapi itulah Jokowi yang apa adanya.

Kembali ke masalah sambutan di Istana. Memang terkesan simple ketika Jokowi lupa memberi salam. Tapi ini sedikit mengganggu karena Jokowi adalah seorang Presiden. Beda halnya jika beliau hanya seorang pengusaha mebel. Lupa memberi salam ketika memberikan sambutan kenegaraan ibarat daging rendang yang santannya kurang. Rendang nya jadi tapi dagingnya kurang empuk. Padahal sudah menjadi kelaziman bagi pemimpin di negeri ini mengawali sambutan ataupun pidato dengan sebuah salam.

Sama halnya dengan kata Allah yang kemudian dilanjutkan dengan kata Tuhan yang Maha Esa atau Maha Kuasa. Kita sering mendengar kalimat “Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah, Tuhan Yang Maha Esa”. Atau “Atas karunia Allah, Tuhan yang Maha Kuasa”. Kedua kalimat tersebut sudah menjadi redaksi baku yang pasti muncul di setiap pidato kenegaraan.

Tapi lupakanlah semua itu. Anggap saja apa yang dilakukan Jokowi memang di luar kesadarannya. Apalagi saat itu beliau memang belum sempat makan. Sesuai pengakuannya saat melakukan teleconfrence bersama sejumlah masyarakat di beberapa titik di Indonesia. Atau bisa jadi saat itu Jokowi memang sangat lelah dan banyak pikiran. Sehingga ketika menyampaikan sambutan dalam acara pisah sambut di Istana, Jokowo menjadi tampak berbeda dari biasanya, sedikit kaku. Bahkan SBY yang selama ini dianggap terlalu tegang malah tampak begitu cair petang itu. Mungkin SBY lebih relaks setelah beban bangsa terangkat kemudian diserahkan kepada Jokowi. Bisa jadi!

Terlepas dari itu semua Indonesia amat beruntung karena memiliki Jokowi. Banyak yang mengatakan demikian. Bahkan Presiden Jokowi telah dinisbahkan sebagai pemimpin merakyat. Dekat dengan masyarakat. Pemimpin yang memiliki tutur kata dan bahasa yang ramah, lembut, menyenangkan sekaligus menenangkan. Beliau tidak sungkan menggunakan bahasa yang ringan sehingga mudah dipahami oleh wong cilik. Selain itu Jokowi juga memiliki bahasa tubuh yang luwes. Hal tersebut dibuktikan saat wawancara dengan sejumlah wartawan di kediamannya sesaat sebelum pelantikan dilangsungkan. Saat itu Jokowi memperkenalkan anak-anak dan istrinya sambil bercanda dan tertawa.

 (taken from solopos)

Jokowi saat memberikan THR kepada seorang tuakng becak (taken from solopos)

taken from tempo

taken from tempo

Bahkan saat konfrensi pers usai acara pisah sambut di Istana, Jokowi kembali membuktikan kemampuan komunikasinya yang “dekat” itu. Tak sungkan dia bercanda dengan masyarakat. Dari Meulaboh Aceh hingga Meurauke Papua. Ada yang bilang pola komunikasi inilah yang dibutuhkan masyarakat. Dekat dan menentramkan.

Ya memang ada benarnya. Ketika selama ini Presiden dianggap sulit dijangkau karena terlalu berjarak maka pola komunikasi yang ditunjukkan Jokowi bak angin surga atau oase di gurun sahara. Tapi kita berharap agar pola komunikasi seperti ini cukup dilakukan ketika beliau menyapa anak bangsa. Namun tidak di pentas internasional. Di luar sana kita menginginkan Jokowi yang tegas. Memang tidak perlu marah-marah namun setiap katanya mengandung nash. Bernada lembut tapi membuat saraf pemimpin negara lain berdenyut denyut. Di ranah internasional Jokowi juga harus mampu menjadi pemimpin yang mewakili keterwakilan populasi muslim di negara ini.

Saya teringat dengan penampilan SBY saat menyampaikan pidato di depan parlemen Australia pada Maret 2010 silam. Ini bukan soal tentang kemampuan bahasa inggris SBY yang fasih, atau gagahnya beliau di depan parlemen Australia. Bukan pula mengenai pidato yang bernilai sejarah bagi parlemen Australia. Saya sebut bersejarah karena sejak 113 tahun lalu, baru empat kepala Negara dunia yang diberi kesempatan untuk berpidato. Dan yang kelima itu adalah SBY.

Namun dalam tayangan yang disiarkan langsung oleh TVRI tersebut, saya melihat sesuatu yang simpel tapi bernilai besar. Saat itu SBY di depan parlemen Australia mengawali pidatonya dengan mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim” tanpa mengucapkan salam. Saya kira wajar karena tidak ada muslim di sana. Namun “Basmallah” yang diucapkan SBY bukan sekedar kebiasaan beliau saat menyampaikan pidato. Atau bukan pula sebuah protokoler yang telah menjadi kebiasaan yang berulang. Namun dibalik itu semua ada isyarat kebanggaan yang ditunjukkan oleh SBY sebagai pemimpin dari sebuah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia.

Saya dan kita semua, amat yakin jika ke depan pola komunikasi Jokowi akan lebih cadas. Tentu saja tanpa harus menghilangkan jati diri beliau yang memang suka ceplas ceplos. Sikap Jokowi selama ini tentu akan menjadi anugerah bagi Indonesia ketika itu dilakukan saat menyapa anak bangsa. Namun ceplas ceplos itu akan menjadi musibah ketika dilakukan saat berhadapan dengan pihak luar yang datang untuk merusak, menguasai sumber daya atau merongrong kedaulatan bangsa.

Kita tentu tidak menginginkan gara-gara ceplas ceplos, pulau-pulau di Indonesia hilang satu persatu. Kita juga tidak ingin ceplas ceplos itu malah membuat emas, batubara, gas, minyak dan isi bumi Indonesia lainnya dikuasai asing. Kita tak berharap ceplas ceplos itu malah membuat bangsa kita gigit jari. Yang kita inginkan hanyalah ceplas ceplos itu membuat masyarakat tak takut untuk mencurahkan isi hati, tak segan untuk mengkritisi.

***







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

5 Comments

  1. Feº A 22/10/2014 at 19:07

    kita doakan saja semoga program2nya berjalan tanpa hambatan, masalah attitude, nanti kan dapat kursus kilat kepribadian khusus kepala negara..halaaah saya sok tau ya..hahaa..

  2. fandhy 22/10/2014 at 14:41

    mungkin pak jokowi sedang lupa, jadi lupa dalam memberikan salam ataupun juga beliau sedang dalam kondisi yang grogi sehingga pak SBY dicuekin dari pak jokowi

  3. mera 22/10/2014 at 09:05

    Klu teleconfrence kyknya udh d rintis sm pak harto..sering ada laporan khusus d TVRI ,presiden menyapa rakyat indonesia…sorry bkn hal bru mnyapa rakyat mllui teleconfrence..

  4. buzzerbeezz 21/10/2014 at 22:55

    Memang ya, wartawan kalau menganalisis pidato bisa detil gitu. Keren Bang..

Leave A Response