Tuesday 26th September 2017,
Arielogis

Jalan Panjang Muslim Nepal

Ariel Kahhari 31/01/2014 Nepal 6 Comments
Jalan Panjang Muslim Nepal

Wah akhirnya bisa juga menuntaskan tulisan ini. nah bagi yang belum baca cerita sebelumnya silahkan klik  shalat jumat di negeri atap dunia.

**

Pada tahun 2007 silam, dari 329 anggota parlemen, kelompok muslim hanya diwakili empat orang saja. Jumlah ini dinilai tidak merepresentasikan populasi muslim secara keseluruhan. Apalagi pemerintah tengah menggodok sistem federal yang menghadirkan perwakilan 100 etnis di negara ini. Memang persoalan politik di Nepal masih begitu sensitif sejak beberapa tahun terakhir.

Seusai shalat jumat dan melihat dagangan di sekitar area Mesjid, aku dan Altaf memilih untuk pulang. Namun ketika mendekati pintu gerbang aku melihat sebuah makam yang berada dalam sebuah ruangan. Posisinya terletak di sebelah kanan Mesjid atau sebelah kiri jika kita berada dari pintu gerbang. Karena makam berada persis dekat pintu gerbang maka siapapun yang memasuki komplek Mesjid pasti akan melewati makam ini.

“Ini makam ulama asal Kashmir, dia yang menyebarkan ajaran Islam disini. Kamu mau masuk?” tanya Altaf.

Aku mengangguk. Bahkan kalau Altaf tidak mengajak, aku akan memaksanya untuk masuk ke dalam. Sekedar melihat lihat dan tentu saja mengabadikannya lewat kamera saku ku.

Di dalam komplek makam ini, selain aku dan Altaf tampak juga beberapa jamaah. Mereka tampak khusyuk berdoa termasuk Altaf. Namun ada hal yang menurutku kurang mengenakkan. Beberapa jamaah tampak bersujud di depan makam. Altaf tau jika aku heran melihat fenomena itu.

“Itu bid’ah” katanya.

Oke aku faham. ternyata itu hanya dilakukan oleh segelintir jamaah saja. Mungkin ada semacam perasaan yang amat dalam terhadap ulama penyebar Islam di negeri atap dunia ini. Tapi bersujud di depan makam sepertinya menjadi hal yang biasa atau lazim. Karena setiap kali ada jamaah yang melakukannya tidak ada yang melarang. Tidak ada security yang marah marah seperti polisi di masjidil Haram yang sibuk berteriak “haram haram..”.

berdoa di makam ulama kashmir2

Dari Altaf aku tau jika ulama yang dimakamkan di ruangan ini punya andil besar dalam penyebaran agama Islam di Nepal. Ulama ini merupakan pedagang Khasmir yang sukses di Kathmandu. Dia menjalankan bisnis perdagangannya hingga ke Tibet dan India. Sembari berdagang beliau juga menyebarkan ajaran Islam.

berdoa di Makam ulama Kashmir

Ulama Kashmir ini hidup pada masa Raja Rama Malla (1484-1520). Menariknya hubungan keduanya berjalan sangat baik. Padahal pihak kerajaan melarang setiap bentuk kegiatan penyebaran agama. Mungkin karena penyebaran Islam tidak dilakukan secara terbuka maka upaya ini berjalan mulus. Meski Raja melarang para pegadang Khasmir menyebarkan Islam kepada pemeluk agama Hindu namun mereka tetap diizinkan untuk berdagang termasuk menetap di Kathmandu.

Bahkan kata Altaf tanah yang menjadi tempat dibangunnya Mesjid Kashmiri adalah pemberian Raja. Waktu itu Raja pernah meminta ulama tersebut untuk menyampaikan sebuah permintaan. Apapun permintaan itu akan dikabulkan. Lalu Ulama meminta tanah untuk dijadikan sebagai pertapakan Mesjid.  Raja menyetujuinya, hingga dibangunlah sebuah Mesjid yang diberi nama Khasmiri Pancha Taqia pada tahun 1524 M. Konon katanya Keturunan ulama dan para pengikutnya hingga kini masih tetap bertahan di Kathmandu Nepal.

Setelah berdoa aku dan Altaf pun keluar dari komplek Mesjid. Kami memutuskan untuk mencari makan siang. Kata Altaf di dekat jembatan Bagbazar ada satu warung yang menjual masakan halal. Wah mendengar kata halal aku jadi geregetan. Pasalnya tidak mudah menemukan makanan halal di Kathmandu Nepal. Bahkan makanan di Hotel pun juga tidak berani dicoba. Harus selektif!

Namun baru beberapa meter dari Mesjid kami melihat pemandangan yang luar biasa. Ratusan massa memadati jalan. Aksi demo dilakukan dekat Mesjid Jama dan kantor kepolisian. Para demonstran berteriak dan mengancungkan bendera hitam putih. Ternyata demonstrasi dilakukan oleh komunitas Muslim.

Dengan sigap aku mengambil beberapa foto. Insting jurnalist ku bermain. Aku dekati seorang demonstran. Wajahnya mirip pakistan tapi kulitnya sedikit gelap. Aku bertanya tentang demonstrasi ini. Massanya lumayan besar. Di setiap sudut aku juga melihat polisi bersiaga. Agak riskan memang berada dalam tumpukan massa ini. Sebagai warga asing tentu saja ini beresiko. Apalagi kalo sesuatu buruk terjadi pasti urusan nya akan panjang. Indonesia tidak memiliki kedutaan di Kathmandu. Perwakilannya Cuma ada di India sana.

Kepadatan Massa yang ikut aksi demonstrasi

Kepadatan Massa yang ikut aksi demonstrasi

tumpukan massa menuntut kesetaraan dalam politik

tumpukan massa menuntut kesetaraan dalam politik

“Kami menuntut hak politik bagi Muslim yang tinggal di Nepal”

“Apa yang terjadi di sini?” tanyaku

Ternyata muslim di Nepal tidak saja dipantau saat beribadah. Tapi mereka juga masih sulit mendapatkan akses politik. Pada tahun 2007 silam misalnya, dari 329 anggota parlemen, kelompok muslim hanya diwakili empat orang saja. Jumlah ini dinilai tidak merepresentasikan populasi muslim secara keseluruhan. Apalagi pemerintah tengah menggodok sistem federal yang menghadirkan perwakilan 100 etnis di negara ini.

Massa yang berkumpul di dekat jembatan Bagbazar

Massa yang berkumpul di dekat jembatan Bagbazar

Memang persoalan politik di Nepal begitu sensitif sejak beberapa tahun terakhir. Hingga tahun 2006 Nepal adalah negara berasaskan Hindu. Namun sistem ini diubah oleh parlemen dan menyatakan jika kini Nepal merupakan negara sekuler. Keberadaan muslim tentu saja masih terus diperjuangkan oleh sejumlah lembaga seperti National Muslim Struggle Alliance (NMSA). Belakangan kekhawatiran lembaga ini semakin memuncak. Karena isu pembunuhan terhadap tokoh muslim masih saja terjadi. Termasuk kejadian pada Mei 2013. anggota Majelis Konstituante Sadrul Miya Haque ditemukan tewas di rumahnya setelah digorok oleh penyerang tak dikenal.

Setelah mendapatkan banyak informasi aku pun pamit. Sebelum pergi demonstran itu bertanya.

“Malaysia?”

“Oh Indonesia, Aceh” jawabku.

Demonstran itu tersenyum dan kembali ke barisan demonstran lainnya. Aku dan Altaf menyusuri jalanan setapak menuju warung di dekat jembatan Bagbazar. Ukuran jalannnya semakin sempit karena banyaknya warga yang menyaksikan aksi demo. Setelah berjuang ekstra kuat, akhirnya kami sampai di depan sebuah warung mungil. Hmm yummyy ada nasi briyani disana.

**







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

6 Comments

  1. Monza Aulia 18/04/2014 at 10:38

    Kereeeen, jalan2nya ke negara yg ngga diduga ya:D

    • arielkahhari 18/04/2014 at 10:41

      heheh jalan jalan ke negara lam lungkik bumoe…

  2. naritul 01/03/2014 at 07:25

    keren blog nya
    inspiratif….
    minta link postingan baru2 dong

  3. Iza Hanakaru 25/02/2014 at 19:14

    mo timilay mont farancyuu :D

  4. backpackerborneo.com 01/02/2014 at 02:43

    Kereen..udah sampe nepal…lanjutkan kak..

Leave A Response