Sunday 24th September 2017,
Arielogis

Jaga Malam, Na Na Saja  

Ariel Kahhari 09/02/2017 Suara Langit 4 Comments
Jaga Malam, Na Na Saja   

Jelang pilkada, masyarakat di Banda Aceh dan Aceh Besar diminta menjadi bagian dari pasukan pengamanan bangsa. Melalui program jaga malam, masyarakat secara bergiliran bertugas menjadi petugas keamanan dakdakan. Penunjukkan petugas jaga malam memang terbilang selektif. Hanya pria dewasa yang dipanggil untuk mengabdi dalam program mulia ini. Mereka yang terpilih adalah pahlawan!

Jaga malam jelang pilkada dilakukan agar kawasan pemukiman menjadi lebih tenang. Cara ini juga dianggap ampuh untuk menghalau maling yang menyantroni rumah warga.  Saya sempat bertanya kepada kepala desa (Geuchik), kapan program ini akan berakhir. Saya khawatir kalau program jaga malam akan berketerusan seperti sebelumnya.

‘Kita jalani saja” begitu katanya. Ini artinya Pak Geuchik juga tidak tau kapan program ini akan berakhir. Bisa jadi akan terus dilanjutkan seusai berakhirnya pilkada.

Pak geuchik dan ketua pemuda memang saban malam mengunjungi setiap pos jaga. Mengecek satu persatu nama petugas. Data yang dimiliki kampung saya relatif lengkap dan akurat. Mulai dari nama, nomor kontak, alamat rumah hingga usia. Bila ada petugas jaga malam yang belum tiba, data itulah yang menjadi bekal bagi ketua pos. Cukup ditelpon atau harus dijemput hingga ke pintu rumah. Di tempat saya tinggal, ada lima pos yang sengaja didirikan. Dua pos diantaranya berada di kawasan rawan setan karena berdiri di bekas areal perkuburan lama dan di seberang komplek kuburan.

Jaga malam di Aceh memang mengingatkan kita dengan masa kelam darurat militer. Masa itu adalah waktu yang paling mencekam. Bagaimana tidak, bagi mereka yang tertidur saat jaga malam bisa kena hukuman. Direndam bahkan juga dipukul. Tertidur ketika bertugas adalah perbuatan terlarang. Zaman darurat militer, pos jaga biasanya memang akan dikunjungi pihak keamanan. Program ini akhirnya usai setelah bencana tsunami menghantam daratan Aceh.

Lalu benarkah jaga malam tidak memberi manfaat? meski terdengar sia-sia, namun bagi saya program ini masih memberikan nilai positif. Tidak bisa dipungkiri, kesibukan terkadang membuat kita tidak lagi mengenal siapa nama tetangga sebelah. Sering bertemu di masjid tapi hanya mengenal wajah. Nah jaga malam ternyata mampu membuka tabir jarak tersebut. Selama hampir tujuh jam berjaga tentu saja interaksi antara sesama petugas akan lebih terasa. Bukan saja hanya mengenal nama, tapi juga tempat bekerja, kampung halaman yang pada akhirnya menambah daftar relasi baru. Agar jaga malam lebih memberi manfaat, mungkin tidak ada salahnya petugas diminta untuk berkeliling. Selama ini petugas tidak bergerak dari pos jaga. Hanya duduk saja menanti saat pulang tiba. Mengisi waktu, banyak yang akhirnya memilih main batu Padahal dengan patroli, petugas jaga malam akan terasa lebih gagah dan istimewa. Bukan berakhir sebagai jaga malam ya na na (ada-ada) saja.

***







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

4 Comments

  1. Fardelyn Hacky 09/02/2017 at 11:09

    Wah iya ternyata, walaupun terkesan tidak ada manfaatnya, jaga malam bisa mempererat silaturahmi antar pakbapak.

    • Ariel Kahhari 10/02/2017 at 03:16

      bapak bapak kan sibuk banget sama urusan keduniaan, makanya jaga malam terasa bermakna hahhah

  2. abdullah 09/02/2017 at 09:57

    malam kok dijaga haha

    • Ariel Kahhari 10/02/2017 at 03:17

      Hhahah iye juga sih. trus gimana dong, namanya juga tugas negara

Leave A Response

Click here to cancel reply.