Monday 23rd October 2017,
Arielogis

Ironi Pulau Terluar dan Rasa Bangga Menjadi Indonesia

Ariel Kahhari 23/05/2014 Suara Langit 1 Comment
Ironi Pulau Terluar dan Rasa Bangga Menjadi Indonesia
Pulau Weh dan Pulau Aceh dari atas KRI Teluk Celukan Bawang 532

Pulau Weh dan Pulau Aceh dari atas KRI Teluk Celukan Bawang 532

Tidak dapat dipungkiri jika fasilitas di kawasan perbatasan Indonesia sangat memprihatinkan jika tidak ingin disebut memalukan. Coba saja lihat bagaimana Indonesia memperlakukan Entikong Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat yang merupakan daerah perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia.

Fasilitas jalan, listrik, sarana dan prasarana kesehatan dan pendidikan sangatlah minim. Berbeda dengan di Malaysia. Bukan bermaksud menghina bangsa sendiri, tapi harus diakui negeri jiran tersebut seakan faham dan memahami betul akan pentingnya keberadaan daerah perbatasan sebagai halaman depan bangsa.

Sama halnya dengan kondisi daerah perbatasan, kondisi pulau terluar pun mengalami nasib yang sama. Memprihatinkan! Padahal pulau terluar merupakan simbol dari ketahanan bangsa.

Pulau Rondo misalnya. Pulau ini merupakan satu dari enam pulau terpencil yang berada di Propinsi Aceh. Selain pulau Rondo juga ada Pulau Benggala, Pulau Rusa, Pulau Raya, Pulau Simeulue Cut Serta Pulau Salaut Besar .

Pulau Rondo merupakan pulau terluar di bagian barat Indonesia. Tidak ada masyarakat yang tinggal pulau ini. Dengan luas empat hektar, Pulau Rondo hanya dijaga oleh  37 orang personil. 24 prajurit TNI angkatan laut, sepuluh prajurit TNI angkatan darat serta tiga orang petugas dari kementrian perhubungan yang bergantian setiap dua bulan.

Hingga kini pulau tersebut belum memiliki dermaga yang representatif. Dermaga yang pernah dibangun hancur karena dihantam angin barat. Akibatnya para petugas di sana terpaksa berenang dari kapal menuju daratan begitu pula sebaliknya.

Selain tidak memiliki dermaga yang representatif. Pulau rondo juga tidak memiliki sumber air bersih. Memang pulau Rondo memiliki alat penyuling air laut menjadi air tawar. Namun alat senilai dua miliar rupiah tersebut hanya bisa menghasilkan 15 liter air setiap harinya!

Akibatnya mereka yang bertugas di sana harus menggunakan air seminim mungkin. Bahkan tidak jarang jika hujan turun para petugas terpaksa menampung air untuk kemudian dipakai. Namun hujan yang terlalu lebat juga bisa menjadi masalah baru. Listrik di Pulau Rondo akan padam jika hujan turun terlalu deras.

Selama ini untuk kebutuhan logistik bagi para petugas masih sangat tergantung dari Sabang. Pengirimannya dilakukan melalui jalur laut tanpa jadwal tetap. Logistik dikirim sesuai kebutuhan para petugas.

Apa yang terjadi di Pulau Rondo seakan menjadi pemandangan umum di pulau terluar lainnya. Di Indonesia, dari ribuan pulau yang terbentang dari Sabang sampai meurauke 92 pulau di antaranya dikelompokkan ke dalam kategori pulau terpencil. Dari jumlah tersebut 31 diantaranya memiliki penduduk.  Sementara sisanya sebanyak 61 pulau tidak berpenghuni.

2014-04-28 16.45.01a1a

Memang harus diakui Indonesia selayak surga di atas permukaan bumi. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memang beruntung. Namun jika salah urus anugerah ini bisa menjadi malapetaka. Indonesia harus mampu mempertahankan setiap jengkal wilayahnya. Hal ini tentu bukan perkara mudah. Namun hal mutlak yang harus dilakukan.

Kita masih ingat tentang sengketa antara Indonesia dan Malaysia terkait kepemilikan pulau Sipadan dan Ligitan. Pada tahun 1998 persoalan ini dibawa ke Mahkamah Internasional. Lalu empat tahun kemudian tepatnya pada tanggal 17 Desember 2002 Mahkamah Internasional mengeluarkan keputusan. Berdasarkan voting yang dilakukan 17 hakim Mahkamah Internasional, 16 diantaranya memutuskan jika kedua pulau tersebut merupakan milik Malaysia. Hanya satu hakim yang memutuskan jika pulau-pulau tersebut milik Indonesia.

Berkaca dari kejadian tersebut sudah seharusnya pemerintah lebih serius mengurusi persoalan keberadaan pulau terluar. Jika tidak maka kasus Pulau Sipadan dan Ligitan akan mungkin berulang.

Sebenarnya ada beberapa hal yang dapat dilakukan pemerintah dalam merubah wajah pulau terpencil termasuk pulau terluar. Hal yang paling utama adalah menyempurnakan fasilitas pendukung.

Persoalan klasik yang kerap dijumpai di pulau terluar adalah ketersediaan air bersih. Sebagai kawasan yang sulit dijangkau sudah barang tentu kawasan tersebut tidak dialiri air bersih dari PDAM. Maka yang diperlukan adalah mencari sumber air di kawasan itu.

Pulau terluar yang memiliki potensi hutan yang baik biasanya memiliki sumber air yang baik pula. Dengan demikian Pulau seperti ini dapat memaksimalkan air tanah sebagai sumber air bersih. Namun jika pulau tersebut tidak memiliki hutan dan tekstur tanahnya keras maka dapat memanfaatkan alat penyulingan air. Mengubah air laut menjadi air tawar. Meski cara seperti ini membutuhkan dana yang lebih besar.

Selain itu fasilitas lain yang juga harus di sediakan adalah listrik. Fasilitas ini sangatlah vital. Tidak hanya sebagai modal dalam penerangan. Listrik juga erat kaitannya dengan keberadaan tower. Baik tower milik provider telepon seluler maupun tower stasiun radio dan televisi.

Hampir di seluruh pulau terluar yang berpenghuni baik oleh masyarakat maupun para petugas, jaringan komunikasi merupakan hal yang langka. Jangankan untuk menelepon, terkadang hanya untuk mengirim pesan singkat pun tidak bisa. Begitula pula dengan keberadaan media informasi.

Banyak wilayah Indonesia yang sulit memperoleh siaran baik radio maupun televisi. Padahal kita memiliki dua lembaga penyiaran publik yaitu RRI dan TVRI. Sebagai lembaga yang diamanahi untuk menyiarkan program pemersatu bangsa, kedua lembaga ini sepatutnya hadir di daerah perbatasan, daerah terdepan dan pulau terluar. Namun kenyataannya banyak masyarakat Indonesia yang lebih mudah memperoleh program siaran dari negara lain. Padahal dampaknya amat besar. Rasa cinta tanah air bisa berkurang karena publik dijejali kepentingan asing dibandingkan kepentingan bangsa  sendiri.

Sulitnya medan menuju pulau terluar seharusnya bisa di atasi dengan membangun dermaga representatif. Dengan adanya dermaga tersebut maka akan memudahkan arus penumpang. Untuk itu diperlukan moda trasportasi yang layak dari daratan menuju pulau begitu pula sebaliknya. Disinilah dituntut kearifan pemerintah dalam memadang persoalan.

Idealnya Kapal roro harus berlabuh di pulau terpencil khususnya yang berpenghuni. Abaikan laba rugi. Karena ini berbicara tentang kedaulatan bangsa. Apalagi Mantan ketua MPR RI [alm] Taufik Kemas pernah berpesan jika mempertahankan kedaulatan bangsa tidak bisa dilakukan dengan cara menghitung hitung rupiah.

Hadirnya kapal roro di sisi lain dapat mendorong percepatan pengembangan pariwisata. Karena industri ini erat kaitannya dengan kemudahan transportasi dalam mengakses sebuah wilayah. Ini menegaskan bahwa keberadaan pulau terluar tidak hanya sebagai tempat berdirinya mercusuar semata.

Dengan hadirnya para wisatawan maka tentu saja ini berdampak terhadap ekonomi masyarakat tempatan. Mata pencaharian alternatif bagi masyarakat lokal merupakan salah satu kewajiban yang harus disediakan oleh pemerintah. Jika masyarakat sudah terpenuhi kebutuhan dasarnya tentu injeksi akan nilai nilai kebangsaan akan lebih mudah dilakukan.  Bagaimana mungkin kampanye nasionalisme dapat dilakukan jika rakyat masih lapar.

Pemerintah harus menyadari jika daerah perbatasan dan pulau terluar adalah  halaman depan bangsa bukan sebaliknya. Layaknya halaman depan maka wajah pulau terdepan dan terluar patutlah mendapat perhatian serius. Apalagi pulau terluar merupakan kunci penting dalam persoalan ketahanan dan pengamanan Negara. Menjaga dan merawatnya adalah bagian dari menjaga kedaulatan bangsa.

Tentu kita tidak boleh “menghukum” masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan ataupun di pulau terluar sebagai anak bangsa yang kering jiwa nasionalismenya. Tapi seharusnya pemerintah yang harus sering bercermin. Sejauh mana kepedulian mereka terhadap pembangunan di wilayah tersebut.

Bukankah menjaga negara ini tetap utuh merupakan cara kita menghargai para pejuang terdahulu. Bukankah memuliakan masyarakat di daerah perbatasan maupun pulau terluar merupakan sikap nyata dalam memanusiakan manusia..

Bangkit Indonesia tidak layak jika hanya diucapkan sebagai kalimat sorak sorai semata. Bukan pula seremonial tahunan yang miskin dari nilai subtansial. Kebangkitan bangsa adalah kala negara berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan berkepribadian secara sosial-budaya. Seperti pesan Bung Karno melalui ajaran Trisaktinya.

Tentu mewujudkan sikap nasionalisme kebangsaan membutuhkan tindakan konkrit. Termasuk bagaimana menumbuhkan rasa bangga menjadi Indonesia yang dimulai dari pulau terluar. Bangsa ini harus tampak gagah dan berwibawa. Semuanya bermula dari pulau terluar dan terdepan karena itu adalah halaman depan bangsa kita, Bangsa Indonesia!

 ***







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

1 Comment

  1. Backpacker cilet-cilet 11/07/2014 at 21:42

    Sikit kali fotonya, Bang. Padahal pengen liat foto Pulau Rondo tu kekmana. :(

Leave A Response