Menteri Keuangan Sri Mulyani menuai pujian di media sosial. Bukan karena soal tax amnesty, bukan pula karena kebijakan kenaikan biaya pembuatan STNK atau BPKB. Ibu menteri ini dipuji karena hijab coklatnya. Jilbab itu ia kenakan saat berkunjung ke Aceh tepatnya di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Pada Kamis 5 Januari 2017, Sri Mulyani berkesempatan menyampaikan konsep ekonomi inklusif di gedung AAC Dayan Dawood Darussalam lokasi kampus Unsyiah berada. Dengan balutan kain penutup kepala ala hijaber, Ibu menteri tampak semakin cantik.

Sebenarnya ini bukan kali pertama Sri Mulyani berkunjung ke Aceh dan menggunakan Jilbab. Pada tahun 2008 lalu ia juga sempat berkunjung ke Banda Aceh untuk meresmikan Gedung Keuangan Negara yang saat itu masih bernama GKN NAD. Gedung baru ini menggantikan gedung lama yang roboh diguncang gempa 26 Desember 2004 lalu. Kala itu Sri Mulyani juga mengenakan jilbab tetapi berwarna orange. Namun jilbab yang ia kenakan tidak membuat dunia maya bergetar seperti kunjungannya kali ini. Bisa jadi masa itu media sosial belum seheboh seperti sekarang.

Sejujurnya, siapapun pejabat perempuan yang datang ke Aceh pasti secara otomatis mengenakan penutup kepala. Ada yang memakainya dengan benar namun ada pula yang hanya sekedar memakai sebagai syarat saja. Salah satu pejabat itu adalah Presiden kelima RI, Megawati Soekarno Putri. Dalam kunjungannya beberapa kali ke Aceh, pemimpin partai banteng moncong putih ini juga mengenakan jilbab. Saat berkunjung ke Mesjid Raya Baiturrahman pada september 2001, Ibu Mega mengenakan jilbab hitam dengan baju kurung berwarna biru. Namun bedanya sorotan publik saat itu bukan pada pakaian yang dikenakan melainkan isi pidatonya tentang konsep penyelesaian konflik Aceh yang akhirnya tidak membuahkan hasil. Sementara dalam kunjungan lainnya ibu Mega mengenakan baju adat Aceh layaknya pengantin dengan balutan jilbab berwarna merah jambu.

Ibu Mega dalam balutan pakaian Aceh
Ibu Mega dalam balutan pakaian Aceh
Ibu Mega saat membuka Pekan Kebudayaan Aceh
Ibu Mega saat membuka Pekan Kebudayaan Aceh

Menariknya bukan saja pejabat yang menggunakan jilbab saat berkunjung ke Aceh. Sejumlah artis yang manggung di Aceh juga melakukan hal yang sama. Duo Maia, T2, Tantri Kotak, Sophia Latjuba dan Putrinya Eva Celia, Lala Karmela hingga Bunda Dorce (yang terakhir abaikan kontroversinya ;)). Kehadiran mereka ke Aceh dengan balutan jilbab tentu saja menuai banyak komentar di dunia maya. Kebanyakan merespon positif dengan berbagai pujian. Ada yang bilang cantik, banyak pula yang mendoakan agar terus memakai jilbab.

Lala Karmela saat manggung di Banda Aceh
Lala Karmela saat manggung di Banda Aceh
Tantri Kotak saat tampil di stadion mini Unsyiah
Tantri Kotak saat tampil di stadion mini Unsyiah
Duo Maia saat konser musik di Banda Aceh
Duo Maia saat konser musik di Banda Aceh

Tapi sepertinya banyak juga artis yang harus mengenakan jilbab sebagai bagian dari kontrak kerja. Citra Scholastika misalnya. Ia tetap mengenakan penutup kepala saat melakukan konser di sebuah Ballroom Hotel ternama di Banda Aceh. Padahal Citra bukanlah seorang muslimah. Mungkin ini yang sering disebut oleh para selebritis sebagai “professional”.  Namun tidak semua artis ke Aceh menggunakan jilbab untuk kebutuhan manggung. Sophia Latjuba misalnya. Bersama putrinya Eva Celia datang ke Aceh untuk memberikan bantuan kemanusiaan untuk para korban gempa di Pidie Jaya. Mereka berdua tampak kompak dengan pakaian panjang kombinasi selendang putih.

Citra Scholastika tetap menutup bagian kepala sebagai penghormatan
Citra Scholastika tetap menutup bagian kepala sebagai penghormatan
Sophia dan Eva berkerudung putih saat ke Pidie Jaya
Sophia dan Eva berkerudung putih saat ke Pidie Jaya

Jilbab memang kewajiban para muslimah. Yang dimaksud jilbab adalah kain yang menutupi seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Kalau ada yang mengatakan “Menjilbabkan hati”, itu hanyalah kalimat dari mereka yang belum mengerti tentang perintah Ilahi. Bila banyak muslimah memiliki beragam pertimbangan untuk menggunakan jilbab, semoga dengan berkunjung ke Tanah Aceh maka niat baik itu dapat segera terwujud. Teringat dengan pernyataan seorang teman dari Jakarta yang mengaku jika ibadahnya semakin baik selama berada di Aceh. Semoga magnet itu dapat dirasakan oleh siapapun termasuk mereka yang berkeingan berhijab sesuai perintah-Nya.