Tuesday 21st November 2017,
Arielogis

Gampong Prostitusi

Ariel Kahhari 12/09/2014 Suara Langit 8 Comments
Gampong Prostitusi

 

Jika kebijakan “potong kambing” untuk pelaku khalwat atau mesum dibiarkan dan dianggap sah lalu apa bedanya antara gampong dengan lokalisasi. Bukankah lokalisasi adalah sebuah “wilayah” yang menfasilitasi setiap pasangan buat “terbang” ke bulan dengan cukup membayar beberapa rupiah saja.

Biasanya Mushalla di dekat rumah akan sunyi senyap setelah pelaksanaan shalat isya. Namun pada malam itu suasananya tampak berbeda. Lampu dari dalam mushalla tampak masih benderang. Deretan sepeda motor dan sendal yang berserakan juga masih memenuhi halaman. Saya yang kebetulan lewat seusai pulang kantor pun tertarik untuk singgah sejenak. Ternyata malam itu masyarakat sedang bermufakat untuk menyelesaikan masalah khalwat yang terjadi di salah satu rumah kost. Dalam rapat tersebut juga hadir pelaku yang berhasil diamankan pemuda.

Semua bermula saat pemuda gampong (desa) yang tengah berkumpul mencurigai sebuah rumah kontrakan. Selama ini para pemuda merasa ada sesuatu yang janggal dengan aktfitas penghuni kost tersebut. Dugaan tersebut terbukti, suatu malam para pemuda berhasil menggrebek dua anak muda yang hampir saja berhubungan badan. Keesokan malamnya para pelaku disidang di mushalla setelah KTP mereka ditahan oleh pihak pemuda.

Dalam rapat tersebut para pemuda meminta agar masih masing pelaku membayar uang denda senilai 300 ribu rupiah. Dengan demikian uang yang terkumpul bisa digunakan untuk membeli ayam dan bebek lalu dimakan bersama sama. Namun jumlah tersebut ditolak oleh pelaku.  Mereka meminta agar nominalnya diturunkan dan disesuaikan dengan budget mahasiswa.

Saya menolak dengan gagasan tersebut. Meminta bayaran kepada pelaku mesum selain tidak sesuai hukum, hanya akan merendahkan marwah gampong. Tidak hanya itu sejumlah tokoh masyarakat juga akan terkena dampaknya. Saya menyarankan agar masalah ini diserahkan kepada polisi syariat atau Wilayatul Hisbah untuk diselesaikan. Selain itu pelaku juga harus dilaporkan kepada orang tua masing-masing. Lalu mereka dideportasi dari gampong sebagai efek jera. Namun bukannya didukung, ide ini kembali dimentahkan oleh kelompok pemuda. Dalihnya mereka sudah capek mengintai orang-orang yang terindikasi berbuat mesum. Namun mereka menolak jika dianggap mencari uang dari pekerjaan ini.

Rapat yang seharusnya bisa berjalan cepat ternyata berlangsung lama bahkan terkesan bertele tele. Orang tua yang mengikuti rapat hanya bungkam seribu bahasa. Tidak ada ide, saran atau kebijakan yang diutarakan. Akhirnya saya pun meninggalkan rapat karena malam semakin larut. Entah bagaimana akhirnya. Namun belakangan saya tau jika uang denda atau “uang lendir” batal diberikan pelaku. Mereka juga tidak diserahkan ke WH. Hukumannya hanya bersifat ganjaran sosial. Pelaku diminta shalat ke mushalla selama sepekan. Hanya itu!

Saya yakin kisah serupa juga banyak terjadi di Aceh. Bahkan tidak jarang gampong secara tegas mengumumkan jika pelaku khalwat yang tertangkap harus menyerahkan kambing sedangkan pelaku mesum harus membayar senilai satu ekor sapi. Ironisnya ada juga perangkat gampong yang tega menggunakan uang tersebut untuk dijadikan modal acara. Selain diisi dengan makan-makan juga ada pagelaran musik diiringi keyboard. Kondisi ini jelas mengiris hati, menyisakan tanda tanya besar. Ada apa dengan segelintir masyarakat Aceh.

Sebenarnya Aceh beruntung. Ketika banyak daerah di Indonesia harus berjuang keras untuk menghapus praktek prostitusi, di negeri berjuluk Serambi Mekkah ini pemerintah dan masyarakatnya tampak lebih tenang. Tidak perlu bersusah payah membicarakan hal tersebut. Apalagi harus menggelar aksi demo meminta penutupan lokalisasi dan berhadapan dengan para preman penyokong kekuatan bisnis esek-esek.

Namun bukan berarti bumi Aceh bersih dari praktek bisnis syahwat. Di Aceh memang prostitusi tidak difasilitasi dalam bentuk lokalisasi seperti yang ada di sejumlah daerah di Indonesia. Namun praktek yang dilakukan secara diam-diam masih saja terjadi. Hal itu dapat dibuktikan dengan masih adanya pasangan yang tertangkap basah, terjaring razia sedang berasyik masyuk baik yang dilakukan hotel berbintang, losmen atau di rumah kontrakkan.

Persoalan syahwat memang sulit dibendung. Manusia memang bukan malaikat yang saban waktu hanya berbakti dan beribadah kepada pemilik jagad raya. Manusia diciptakan special karena diberi modal iman dan nafsu yang keduanya berpadu padan dalam satu tubuh anak Adam. Lalu apakah penyaluran hasrat yang tidak halal harus difasilitasi? Tentu saja jawabannya tidak.

Namun siapa yang mau memungkiri tentang fenomena yang makin hari semakin mengkhawatirkan. Yakni tentang cara warga dalam menyelesaikan persoalan khalwat atau mesum yang terjadi di tengah pemukiman mereka. Idealnya para pelaku yang tertangkap harus digelandang ke kantor Satpol PP dan Wilayatul Hisbah untuk kemudian diselesaikan secara hukum. Namun prakteknya berbeda. Sebelum diserahkan ke polisi syariat ada pelaku mesum yang tertangkap terlebih dahulu di hajar massa dengan hadiah tambahan berupa “luluran” air selokan. Fenomena lain yang tengah menjamur adanya uang tebusan. Dengan adanya transaksi seperti ini maka kasus pelanggaran syariat dapat diselesaikan di tempat tanpa harus diproses.

Kita sering mendengar maju sebuah bangsa diawali dari tingkat desa. Jika rakyat di tingkat desa sejahtera maka secara garis besar, bangsa tersebut juga kaya. Lalu jika gampong-gampong di Aceh memberlakukan kebijakan aneh bin ajaib seperti ini maka akan seperti apa wajah penegakan hukum Islam di  Aceh pada masa depan.

Reusam atau aturan gampong yang sudah mengakar sejak lama di bumi Aceh seharusnya bisa menyelamatkan gampong dari segala bentuk kejahatan dan keburukan. Namun nyatanya reusam mulai dilupakan. Berapa banyak gampong di Aceh yang memiliki reusam yang di dalamnya terdapat aturan detail tentang kehidupan bermasyarakat. Kalaupun ada mungkin bisa dihitung dengan jari.

Jika kebijakan “potong kambing” untuk pelaku khalwat atau mesum dibiarkan dan dianggap sah lalu apa bedanya antara gampong dengan lokalisasi. Bukankah lokalisasi adalah sebuah “wilayah” yang menfasilitasi setiap pasangan untuk “terbang” ke bulan dengan cukup membayar beberapa rupiah saja. Apa Aceh memang perlu membentuk Gampong prostitusi, agar yang sudah dilakukan selama ini menjadi produk legal. Tentu saja kita tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Yang kita butuhkan adalah aparat gampong yang memiliki cara pandang keislaman yang baik. Lalu terbentuk gampong bersyariat. Sehingga pada akhirnya penegakan syariat Islam di Aceh juga akan kaffah (sempurna) seiring dengan kondisi gampong yang juga sudah pah (pas/tepat).

***

Yogyakarta, 12092014







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

8 Comments

  1. Mutiawati 18/09/2014 at 01:27

    Itu dikarenakan pendidikan yang dimiliki oleh setiap warna gampong itu kurang, mereka kurang wawasan tentang sosial, ide mereka buntu, warga-warga tersebut menuruti nafsu bodohnya, tidak ingin berpikir panjang. Asalkan bisa untung untuk mereka sendiri ya sudah mereka tetapkan budaya bodoh itu. Itu semua karena mereka kemalasan tidak ingin berpikir kreatif dan lebih sehat. Ya memang benar, seharusnya si pelaku tersebut dibawakan ke pihak yang berwajib. Semuanya harus diubah dari diri pribadi masing-masing, untuk berpikir lebih baik, bersikap lebih baik, dan bertindak lebih baik. Itu dikarenakan warga gampong kurang pendidikan yang tinggi. Banyaknya pengangguran yang tidak bisa dikendalikan lagi. Pendidikan sangat penting, karena pendidikan, pribadi akan bersikap lebih sehat dan berkualitas. Untuk mengurangi pemikiran seperti orang gampong-gampong tersebut butuh waktu yang sangat lama. Sangat lama jikalau tidak ada pencerahan dari motivator-motivator.

    Salam, saya Mutiawati

  2. Ahmad Yunus 15/09/2014 at 20:54

    salam kenal buat ariel kahhari. Insaya Allah 17 Sept 2014 ana berkunjung ke Montasik.

  3. Febi Mutia 14/09/2014 at 06:43

    kritis! suka dengan tulisan berupa kritik sosial ini…

  4. Edly Fachrurozy 13/09/2014 at 12:09

    Btw, udah tinggal di Jogja sekarang bang?

Leave A Response