Tuesday 21st November 2017,
Arielogis

Ferhat

Ariel Kahhari 13/09/2016 Keluargaku 6 Comments
Ferhat

Usia kami cuma terpaut satu tahun saja. Tapi banyak yang bilang wajah saya jauh lebih muda dan lebih segar. Di keluarga kami, ia sempat menjadi anak bungsu cukup lama. Karena itu dia dipanggil “adek”.  Berselang tahun kemudian, setelah adik perempuan kami lahir panggilannya kembali berubah menjadi nama asli. Ferhat!

Meski  tak lagi bungsu, Ferhat tetap menjadi istimewa. Dulu dia pernah dibelikan sepeda meski belum pintar mengayuhnya. Dan entah bagaimana sepeda itu beratas namakan miliknya. Kami kaget. Kami itu adalah saya dan saya. Mau digugat tidak tau harus kemana. Siapapun yang ingin menggunakan sepeda harus minta izin. Pokoknya minta izin.  Meski sekedar berteriak dari jauh “Dek, pinjam gari beuh”. Terkadang sahutan itu abai tidak dijawab. Pernah dia marah-marah karena sepedanya hilang tanpa jejak dari garasi rumah.

“Kan tadi udah minta izin” kami membela diri.

Dan memang benar ada minta izin, kan protabnya seperti itu. Tapi tetap saja dia tidak percaya. Ferhat tetap mengimani jika sepedanya menghilang tanpa kabar. Pembelaan kami hanya dianggap angin lalu.

Tidak bisa dipungkiri kebungsuannya terseret sampai sekarang. Kalau di rumah ada makanan atau ada jajanan enak yang dibawa pulang, kakak-kakak di rumah pasti bilang “Eh tinggalin buat Ferhat” atau “Ferhat ni ada makanan”. Ironisnya itu disampaikan di depan wajah saya. Mereka seperti lupa jika kami cuma beda setahun, setahun! Bahkan Mawla-adek perempuan kami yang paling kecil- juga terkena “virus” ini. kebiasaan kami dulu adalah suka beli nasi goreng. Makannya rame-rame. Nah si kecil ini dengan begitu cantiknya mengambil piring. Memisahkan nasi goreng dari dalam bungkusan.

“Kenapa dipisahin, buat siapa?” tanya kami

“Ini buat Abang, kalau ngak nanti dia marah” jawabnya dengan suara gemetar.

Dia memanggil Ferhat dengan panggilan Abang. Awalnya kami diamkan tapi lama-lama kebiasaan itu semakin mengkhawatirkan. Langsung saja kami veto untuk dihentikan. Aneh saja kalau untuk Ferhat apa apa diingat. Hanya Tuhan yang Tau apakah Mawla masing mengingat cerita kelam ini.

Masa kecil kami tidak berjalan mulus layaknya tol. Tetap ada riak bahkan gelombang. Biasalah saudara. Ribut mulut hingga berantam fisik. Kalau sudah main fisik barang apapun bisa jadi senjata. Mulai dari sapu hingga pisau. Ya alat tajam itu pernah berubah menjadi senjata yang oleh Ferhat digunakan untuk menyerang kami saudara-saudaranya. Istilah menyerang sengaja saya gunakan untuk mendramatisir cerita. Saya sempat berpikir ini adek apa tukang jagal. Serem sekali. Bahkan memori buruk itu menghantui malam-malam kami, sampai sekarang.  Tetapi meski ada masalah dan sedikit bumbu konflik, hari-hari yang kami lewati lebih banyak dipenuhi dengan rasa suka dan kegembiraan, Hingga sekarang.

Bagi Ferhat, saya adalah teman curhatnya. Bagi saya, Ferhat adalah tempat melampiaskan cerita, mulai gosip kantor, cerita mistis yang menurutnya sering saya ulang-ulang hingga obrolan kurang penting lainnya. Tapi Ferhat suka. Bahkan kalau saya ke rumah Mak, dia mempersilahkan saya masuk ke kamarnya, menguasai buku hingga tempat tidur. Dari sana saya tau, ternyata Ferhat suka mengoleksi balsem, menyimpan rambutan dan langsat hingga membusuk.

Ada beberapa curhatan Ferhat yang saya ingat. Misalnya tentang pekerjaan. Setelah resign dari Bank tempat ia bekerja, Ferhat ternyata kembali mendapatkan pekerjaan yang sama di Bank yang berbeda. Suatu malam dia sengaja datang menjumpai saya di sebuah cafe. Waktu itu saya masih berjualan martabak. Tergopoh gopoh dia menjumpai saya. Dengan santai saya terima kunjungannya. Dengan tatapan kosong, Ferhat duduk. Segelas teh dingin dan sepiring martabak saya letakkan di depannya. Kami bicara hingga larut. Saya mendengar setiap keluh kesahnya. Sesekali saya menimpali, bertanya dan memberi masukan.

“Kerja itu tidak melulu masalah uang, tapi juga ada keterlibatan perasaan suka, senang dan cinta dengan perkerjaan tersebut”

Nasehat saya itu ternyata membekas. Malam itu Ferhat pulang dengan sumringah. Saya lupa apa dia sudah membayar martabak atau tidak. Tetapi yang jelas Ferhat lebih tenang lepas malam itu. Dan pada akhirnya ia memutuskan untuk tidak mengambil pekerjaan itu dan tetap fokus menggeluti dunia kepenulisan hingga berhasil menerbitkan sebuah buku.

Curhatan dia yang lain yang tak kalah serius adalah masalah pernikahan. Riel cariin buat aku satu ungkapnya suatu hari penuh rasa cemas. Kekhawatiran Ferhat masuk dalam tingkatan paling tinggi, sudah memasuki masa puncak. Kecemasannya sangat beralasan. Sebab temannya yang usianya jauh lebih muda sudah menikah.  Ferhat benar-benar khawatir. Cuma anehnya di tengah ketakutan itu dia masih sempat melontarkan request.

“Jangan ekstrimis. Aku mau yang paham tentang nilai-nilai Pancasila, UUD 45, bhineka tunggal ika serta cinta tanah air”

Singkat cerita akhirnya Ferhat menjalani proses perkenalan dengan seorang perempuan. Teman istri, mereka berasal dari profesi yang sama. Sejak awal saya sudah tegaskan bahwa Ferhat harus menjalani proses taaruf. Ide ini sejalan, karena Ferhat juga anti pacaran. Mungkin cara pandang ini lebih banyak dipengaruhi oleh pergaulan dan aktifitasnya saat bersekolah dulu. Ferhat memang pernah dekat dengan pergerakan Islam di sekolah dan kampus. Tapi kualitasnya tidak begitu gemilang. Biasa saja.

Saya ingin berbagi cerita sedikit tentang masalah pernikahan Ferhat. Sebab banyak yang ingin tau. Ntah iya. Ferhat dan calon istrinya memang tidak begitu familiar dengan proses taaruf. Tapi mereka bersepakat bahwa cara ini adalah langkah paling baik, paling terpuji dan diberkahi InsyaAllah. Proses itupun berjalan. Hingga akhirnya mereka bersepakat untuk dipertemukan.

Di sebuah mesjid mereka akhirnya bertemu untuk pertama kali. Saya memang tidak berada di sana, sebab tengah berada di Yogjakarta. Tapi dari tanah Jawa sanalah semua direncanakan. Istri dan adik ipar yang menjadi moderator saya briefing via telepon. Saya sisipkan daftar pertanyaan penting yang harus ditanyakan kepada masing-masing mereka. Biasanya karena dek-degan ada beberapa pertanyaan yang lupa ditanyakan padahal itu termasuk hal urgent. Misalnya masalah pandangan poligami, komitmen setelah menikah, urusan domestik rumah tangga termasuk masalah kesehatan. Itulah letak kemurnian proses taaruf. Sebab mereka yang dipertemukan memang berencana kuat untuk menikah. Jadi tidak ada perlu rahasia segala.

Ferhat bersama istri di Piyeung Aceh Besar

Ferhat bersama istri di Piyeung Aceh Besar

Ferhat termasuk bawel selama proses ini. hingga membuat saya sedikit kesal. Ferhat maunya A dan B sedangkan menurut saya lebih cocok kalau C dan D. Kami sempat deadlock hingga komunikasi saya serahkan ke istri. Ferhat seperti kurang faham, bahwa sebagai abang saya ingin memberikan hal yang paling baik untuknya. Kondisi ini sempat membuat hubungan kami kurang harmonis. Jarang bbm apalagi teleponan. Apalagi kebiasaan Ferhat kalau di bbm sudah di read dibalasnya tahun depan.

“Di sini mau magrib” balasnya suatu hari saat saya tanya kenapa bbm ngak dibalas. Padahal pesan itu sudah dibaca dua jam sebelum magrib. Ngak habis pikir saya.

Tapi meski tidak berkomunikasi lagi dengan Ferhat, saya selalu mengikuti perkembangan berita dari istri dan Ibu. Tiap kali menelepon Ibu tidak lupa saya bertanya kabar tentangnya.

“Ferhat peu haba mak, kiban ka persiapan?”

Lalu Mak pun bercerita tentang perkembangan rencana pernikahan Ferhat. Mungkin hal ini tidak pernah diketahui olehnya. Bahwa dibalik diam, saya terus memperhatikannya. Mak yang saat itu tidak tau kalau kami sedang kurang pas pernah meminta Ferhat berbicara dengan saya via telepon. Ferhat menolak entah karena alasan apa. Tapi kalaupun  dia bicara mungkin saya yang akan segera menutup teleponnya.

Sikap dingin itu terbawa hingga saya pulang kembali ke Banda Aceh saat Ramadhan lalu. Waktu buka puasa bersama di rumah Mak, saya dan Ferhat nyaris tidak bertegur sapa, hanya basa basi sekedarnya. Ferhat memilih masuk kamar, sedangkan saya di ruang tamu bercerita dengan anggota keluarga lainnya. Kami tau ada kerikil yang sedikit mengganggu, tapi sungkan untuk dipindahkan.

Sebenarnya ini semacam akumulasi dari kekesalan saya terhadapnya. Dalam pandangan saya sebagai saudara, Ferhat ini setia banget sama teman. Setia tingkat dewa. Coba tanya sama teman-teman yang dekat dengannya, Ferhat kurang setia apa. Nyaris sempurna. Orang lain yang kawin dia yang paling sibuk. Orang lain yang kempes ban dia yang ngak bisa tidur. Tapi giliran sama saya, eeuuhh ampun. Bikin urat saraf tegang. Diminta kirim motor ke Jogya eh sampe sepekan lebih ngak digubris, akhirnya saya minta tolong teman. Dalam sekejap urusan beres. Tapi Ferhat semacam tidak sadar jika saya kadung kesal dengannya. Bukannya minta maaf, eh dia malah minta saya cari tau apakah bukunya sudah beredar di Jogja apa belum. Huft Fer Fer….

Tapi begitulah saudara. Kesal, marah, tertawa, sedih semua mengalir begitu saja. Tidak ada yang menempel di dalam hati. Sebab saudara itu adalah dekat walaupun berjarak secara fisik. Selalu sukses Fer, untuk mimpi sebagai penulis Internasional menyaingi Agnes Mo dan Anggun!

***

Banda Aceh, 23072015







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

6 Comments

  1. cumilebay 27/12/2016 at 11:12

    Sodara tetaplah sodara yaaa, meskipun kadang suka bikin kesel

  2. Yudi Randa 14/09/2016 at 18:06

    Suer, saya sudah pernah baca tulisan ini pas si ferhat mau nikah wkwkwk :p

    • Ariel Kahhari 20/09/2016 at 04:05

      Iya atas permintaan pemirsa, tulisan ini tayang lagi :p

  3. Hijrah 13/09/2016 at 08:51

    Oh meunan cerita jih, jadi Ferhat peu haba Riel?

    • Ariel Kahhari 20/09/2016 at 04:07

      Haba get… kayaknya sih. Kami dah ngak seranjang lagi alias tidak serumah.

Leave A Response

Click here to cancel reply.