Monday 23rd October 2017,
Arielogis

DARI LAJANG MENJADI JOMBLO

Ariel Kahhari 04/04/2014 Suara Langit 23 Comments

Saat membuka laman facebook saya menemukan sebuah quote yang amat manis.

“Rokok saja yang menjadi penyebab kematian laku keras, masa kamu penyebab kebahagiaan ngak laku laku”.

Karena menarik, kalimat tersebut saya pilih sebagai status BB. Ternyata ajaib. Penggalan kalimat sederhana itu berhasil menarik perhatian. Khususnya mereka yang hidupnya masih sendirian. Ada yang mengirimkan simbol menangis. Ada pula yang mengirim pesan langsung dengan kata ‘hahahah’ serta beragam reaksi lainnya. Yang jelas kebanyakan mereka mendadak galau.

Memang ada banyak kisah yang kesannya sederhana namun menyirat makna. Contoh kalimat diatas misalnya atau coba simak kisah fiktif berikut ini.

Malam minggu. Seorang cowok termenung di dalam kamar. Ia tidak sedang tidur atau menatap foto “special’. Dia duduk di belakang pintu. Bahkan setengah punggungnya menempel di lantai. Meratapi hidup sambil merapal doa.

“Tuhan. Malam ini kan malam minggu. Turunin hujan dong. Soalnya aku jomblo”

Bagi anak muda malam minggu menjadi malam paling indah. Malah lagu yang pernah hits di era 90an menyebutkan jika malam minggu durasinya menjadi lebih panjang dibandingkan malam lainnya.

Malam minggu malam yang panjang

Malam yang asyik buat pacaran 

Pacar baru, baru kenalan

Kenal di jalan Jenderal Sudirman

Tidaklah mengherankan jika malam minggu tiba, jalan penuh sesak. Entah darimana muda mudi datang. Entah kemana pula mereka akan bermuara. Yang jelas macet di mana mana. Warung kopi [cafe] penuh. Kawasan yang biasanya sepi mendadak ramai.

Tidak semua orang “beruntung’dapat memiliki seorang pacar [ atau lebih dari satu]. Bisa jalan jalan. Minum dan makan bersama sambil menggombal. Si laki laki terus menebar pesona. Sedangkan perempuan merasa dipuja hingga menembus angkasa. Pacaran jelas merupakan hubungan terlarang dan dilarang. Prosesi perkenalan yang sebenarnya membungkus aib dan menutup tabir kebenaran.

Saya jadi teringat dengan sebuah kisah. Saat itu saya bersama istri sedang berada di sebuah restoran cepat saji. Tiba-tiba masuk pasangan muda, mungkin masih mahasiswa. Mereka duduk berdampingan. Si perempuan tampak manja, sedangkan laki laki nya tampak biasa saja [kalau tidak ingin disebut canggung]. Setelah itu mereka pun memesan makanan. Sembari menunggu orderan datang, mereka melanjutkan obrolan. Si perempuan tampak lebih agresif. Sementara si laki laki mulai mencoba tampak lebih antusias. Tangan nya mulai membelai kepala si perempuan.

“Kayaknya itu laki dimanfaatin deh” kata saya kepada istri.

“Kok tau?” tanya nya balik.

Aku menggeleng. Firasat kataku.

Tidak lama kemudian pesanan mereka pun tiba. Aku kaget bukan kepalang. Mereka memesan banyak sekali makanan. Bahkan ukuran makanan nya bisa di nikmati hingga ber enam. Sepertinya si cewek mulai beraksi.

“Pasti ujung ujungnya makanan itu minta dibungkus” kataku pada istri. Istriku Cuma tersenyum.

Ahaa… ternyata benar. Si perempuan hanya makan sedikit saja. Sisanya minta dibungkus. Bahkan pizza besar yang mereka pesan sama sekali tidak disentuh. Si perempuan masih saja manja. Sementara laki lakinya tetap cool [ pusing mikirin bill kali ya].

Namun benarkah punya pacar lebih terhormat daripada mereka yang menjomblo. Tentu saja jawabannya adalah tidak!!

Jomblo sebuah status terhina dan dihinakan. Jomblo adalah mereka yang gagal punya pacar. Ditolak seorang cewek pasti dipanggil jomblo. Menjadi jomblo karena banyak penyebab. Kurang ganteng, kurang berduit alias kere, kurang beruntung dan beragam kekurangan lainnya. Jomblo adalah mereka yang ingin mendekati zina tapi gagal.

Bedanya dengan lajang

Selain jomblo ada pula yang disebut dengan lajang. Kalau dilihat sebenarnya sama saja antara jomblo dan lajang. Mereka sama sama kagak punya pasangan. Sepi sendiri ditengah keramaian.

Namun dibandingkan dengan jomblo,  lajang lebih terhormat dan terdidik. Jika jomblo adalah nasib, lajang adalah pilihan. Para lajangers faham bahwa cintanya harus terukur. Cintanya harus sah. Cintanya harus untuk seseorang yang dipilih Tuhan.

Lajang adalah pilihan. Mereka yang memilih menjadi lajang tidak pernah berdoa minta hujan kala malam minggu. Doa yang mereka rapal hanyalah doa agar dirinya terus dijaga, tidak hanya hati tapi juga pikiran.

Lajang adalah mereka yang tengah mempersiapkan diri. Menata hidup agar menjadi pribadi terbaik. Sebagai sosok “sempurna” kala saat lamaran tiba. Lajang adalah mereka yang mempersiapkan diri dari kemapanan finansial. Mereka faham bersama itu tidak hanya cukup dengan cinta.

Dari lajang menjadi jomblo

Harus diakui jika diluar sana masih banyak mereka yang belum siap [berani] menikah. Alasannya tentu bervariasi. Mulai dari belum siap secara mental, finansial, merasa masih muda [padahal sudah mau ultah ke 30] bahkan tak jarang enggan menikah karena ogah menambah masalah.

Beberapa diantara mereka awalnya memilih menjadi lajang. Menjaga dirinya dari hal hal buruk. Takut mendekati dosa dan sibuk memperbaiki diri. Tapi ternyata mereka tidak cukup sabar. Tergoda karena pergaulan. Iri tidak ada boncengan. Malu dianggap terlalu kuper. Para lajang seperti ini biasanya akan berakhir menjadi jomblo. Tanpa disadari jika ia telah menurunkan standar dan kualitas diri.

Saya harus mengatakan jika fenomena “dari lajang menjadi jomblo’  bisa merasuki siapa saja. Tidak mengenal usia, kelamin, maupun latar belakang pendidikan. Ironisnya anak rohis, munsyid dan aktifis dakwah kampus yang senantiasa bersinggungan dengan ajaran Tuhan pun juga bisa terperangkap. Mereka akhirnya menyerah. Tidak sanggup menikah tapi tidak mampu bersabar. Beralih dari lajang menjadi jomblo.

Andai saja semua kita yakin bahwa masing masing kita telah ditetapkan jodohnya, maka tak perlu membanting harga. Cukup dengan memperbaiki diri saja. Dia yang telah diikat janjinya akan datang sendiri. Yang jauh akan didekatkan. Yang sulit akan dimudahkan.

Tidak perlu panik. Tetaplah melajang daripada harus menjomblo. Tapi ingat…. melajang nya jangan terlalu lama, karena itu juga tidak baik.

***







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

23 Comments

  1. Aidia 26/06/2014 at 01:41

    Bagus artikelnya sangat mantap ulasanya

  2. mima 25/06/2014 at 13:56

    Qlw aq.uda 2 anak.a ril..gmn disebut apa tuu..hehee..
    Keren x tulisan mu rill..makin hari mkin tajam…mantap…
    Buat yg lajang tetap smangat..menutup diri jg bukan hal yg trbaik…

  3. meutia rahmah 25/06/2014 at 13:25

    selalu suka baca postingan di lapak ini.. Hidup lajang:)

  4. abi 05/05/2014 at 15:26

    35 dh om gimna??

  5. Feº A 07/04/2014 at 23:04

    waaaaaa……saya lajang sampe umur 53 happy2 aja tuh…malam minggu sama dengan malam jumat dan hari2 lain hehehe..tetep pede dan ga minder..

    • arielkahhari 08/04/2014 at 00:08

      hahhah… coment yg bagus.. selamat anda beruntung mendapatkan piring cantik sebanyak setengah lusin..

      kakak tampak jauh lebih muda dr angka yg kakak sebutin itu… :)

      • Feº A 08/04/2014 at 01:05

        asiiiik….apalagi kalo dapat setengah container piring cantik…bisa dijual buat beli tiket….makasiiiii hahahaa

        • arielkahhari 08/04/2014 at 05:57

          yaelah kak, piring nya senilai 5000 perak.. piring dlam kemasan rins* hahhah

  6. azharterharu 07/04/2014 at 01:16

    Saya nggak pernah ngarep malam minggu hujan, soalnya saya jualan bakwan

    #pemanis komen saja

    Terus sebagai seorang editor di blog komunitas, saya garis bawahi kalimat abang: “merasa masih muda padahal umur sudah mendekati tiga puluh.”

    itu apa ya maksudnya, bang?

    #kemudian ngilang pelan-pelan

    • arielkahhari 07/04/2014 at 11:16

      hahhaha postingan yg manis dr orang yg manis untuk yg manis manis

  7. Cut Isyana 05/04/2014 at 21:39

    Bagiku malem minggu biasanya malah cepet banget selesenya. Padahal pinginnya lebih panjang, biar bisa lebih lama leha-lehanya sebelum senin tiba :’|

  8. Mira 05/04/2014 at 16:36

    Hmm..baeklah!

  9. Ruslan 04/04/2014 at 22:21

    aduh saya jomblo bang.. gimana nih?

  10. Backpacker cilet-cilet 04/04/2014 at 19:24

    Dua paragraf terakhir itu seperti ritual tujuh belas agustus: tarik tambang.

Leave A Response