Saturday 18th November 2017,
Arielogis

Dari Calon Petani Menjadi Presenter TV

Ariel Kahhari 01/10/2014 Balik Layar 4 Comments
Dari Calon Petani Menjadi Presenter TV
Wawancara dengan Azwar Abubakar Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara

Wawancara dengan Azwar Abubakar Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara

Mungkin tidak pernah terlintas dalam pikiran saya, bisa duduk semeja bersama menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Bapak Azwar Abubakar. Berbicara hanya berdua saja. Bertukar pikiran tentang nasib bangsa ke depan. Tapi obrolan kami tidak berlangsung di cafe atau di warung kopi. Melainkan di studio. Dengan camera dan pencahayaan di setiap sudut ruang. Lalu ditambah dengan dinginnya AC yang sengaja diset untuk mengimbangi panasnya lighting.

Di lain waktu saya duduk bersama Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar. Obrolannya masih sama.  Berbincang tentang apa yang sudah dilakukan pemerintah untuk membuat masyarakat sejahtera. Jika sedang berbicara berdua seperti ini saya suka sekali bertanya tentang hal-hal yang bernada sensitif. Bertanya sebagai wakil masyarakat yang sulit bertemu dengan pejabat. Saya ingin melihat bagaimana para petinggi negeri menjawab setiap pertanyaan dengan jujur. Bukan rekayasa atau rethorika semata.

Itulah sekelumit pekerjaan yang saya lakoni sejak tahun 2005. Sebagai News Anchor atau presenter berita, keseharian saya memang bekerja di depan kamera. Menyapa pemirsa dengan berita aktual setiap petangnya atau mewawancari sejumlah orang untuk mengungkap fakta dan berbagi informasi dan cerita.

Karir ini semua berawal ketika saya masih kuliah sementer tiga di Fakultas Pertanian Unsyiah. Saat itu selain ngampus, saya juga bekerja di Radio Prima FM sebagai penyiar. Sejak SMA saya memang suka sekali dengan dunia “cuap-cuap”. Menjadi MC dari satu tempat ke tempat lainnya. Dengan honor minim bahkan kadang dibayar dengan sebungkus nasi atau hanya sekedar ucapan terimakasih. Tapi saya suka dan tidak mengeluh dengan kondisi tersebut. Sebab saya yakin suatu saat dunia akan berubah, termasuk karir saya.

Akhir 2004 lalu radio tempat saya bernaung mendapat surat undangan dari TVRI Aceh. Perihal seleksi penyiar baru. Manajemen radio menunjuk saya untuk mengikuti seleksi tersebut. Saya sangat bersyukur sekaligus beruntung. Sebab saat itu saya adalah pendatang baru. Hanya beberapa bulan saja belajar menjadi penyiar yang baik. Dalam seleksi tersebut hampir semua radio diundang. Saya tau ketika mengikuti sesi breafing sehari sebelum seleksi digelar. Selain penyiar radio juga hadir sejumlah mahasiswa dari beberapa kampus di Banda Aceh. Total peserta yang mengikuti seleksi mencapai 98 orang.

Seleksi berlangsung ketat. Materi yang diuji mulai dari kemampuan membaca berita bahasa indonesia dan inggris.  Menjadi host talkshow dan penyiar contiunity atau lebih akrab sebagai penyiar buka tutup siaran. Muncul saat membuka siaran lokal dan saat hendak bergabung ke TVRI nasional. Sebagai TV daerah, TVRI Aceh hanya bersiaran beberapa jam saja. Hampir sama dengan TVRI daerah lain di Indonesia.

Awalnya hasil seleksi tahap pertama akan diumumkan pada hari minggu 26 Desember 2004. Namun hal tersebut batal dilakukan karena di saat yang bersamaan bencana tsunami menggulung daratan Aceh. TVRI Aceh kolaps. Bahkan akibat bencana tersebut TVRI sempat tidak bersiaran. Banyak crew yang hilang dan tewas. Ada pula crew yang selamat namun harus kehilangan sanak keluarga. Namun karena sadar akan pentingnya peran media saat bencana, TVRI Aceh kembali bersiaran dengan bantuan dari pusat.  Termasuk mengirim presenter berita dari Jakarta.

Saat itu saya berpikir seleksi ini akan berakhir. Mimpi saya untuk menjadi presenter TV kandas. Saya yakin kala itu TVRI Aceh lebih concern untuk segera kembali normal. Bersiaran dan menghadirkan liputan perkembangan Aceh pasca tsunami. Mengenai seleksi penyiar baru, mungkin masuk dalam prioritas ke sekian. Bukan hal penting yang harus segera dilakukan.

Ternyata saya salah. Dua bulan setelah bencana saya mendapat panggilan. Sebuah pesan singkat masuk ke nomor handphone yang saya beli beberapa minggu sebelum tsunami.  Saya diberitahu bahwa lulus tahap seleksi berikutnya bersama seumlah peserta lain. Saya diminta untuk menyiapkan diri. Awalnya saya mengira jumlah peserta yang hadir pada seleksi berikutnya akan ramai. Namun panitia seleksi mengaku sulit menghubungi peserta lain. Banyak nomor telepon rumah yang tidak aktif. Apa lagi saat itu handphone belum ngetrend seperti sekarang ini.

Akhirnya kami yang tersisa mengikuti seleksi lanjutan. Karena semua berkas hilang kami harus mengikuti seleksi dari awal. Materi yang diujikan hampir sama. Membaca berita dua bahasa dan memandu dialog. Tapi bedanya seleksi berlangsung di studio kecil. Sebuah ruangan kerja berukuran 2 x 2,5 meter yang disulap sebagai studio darurat. Di ruangan itu pula TVRI Aceh mengudara untuk beberapa lama. Dan dari studio itu pula karir saya bermula.  Pada seleksi tersebut TVRI hanya meluluskan tiga orang. Namun hanya dua yang bertahan. Saya dan Cut Nita Maulida.

Selain menjadi News Anchor, sejak 2009 saya juga mulai bertugas sebagai reporter. Turun ke lapangan dan melihat masalah lebih dekat. Memang hampir semua stasiun TV menerapkan kebijakan bahwa setiap News Anchor adalah reporter. Mereka wajib turun ke lapangan dan ikut serta dalam peliputan berita. Hal ini dilakukan agar News Anchor yang bertugas memahami persoalan yang sedang terjadi. Sehingga menghindari kondisi memalukan seperti salah mengajukan pertanyaan atau gagal memahami persoalan.

Banyak hal yang mengitari perjalanan saya sebagai News Anchor dan Reporter TVRI Aceh. Baik itu cerita suka maupun duka. Hal menyenangkan tentu lebih banyak saya temukan. Seperti bisa bertemu dengan orang-orang penting mulai dari Presiden, Menteri atau Gubernur. Berbicara dan berdiskusi dengan mereka. Atau di lain waktu bisa juga membantu masyarakat yang tengah dirundung masalah. Menjembatani mereka dengan pejabat terkait. Hal yang mungkin sulit dilakukan oleh masyarakat karena alasan birokrasi dan protokoler.

Pengalaman yang menyenangkan yang tentu saja sulit untuk dilupakan adalah saat mewakili Indonesia dalam seminar jurnalistik yang berlangsung di Kathmandu Nepal pada 2012 lalu. Mungkin kalau bukan karena bekerja sebagai jurnalis hampir mustahil rasanya bisa menapakkan kaki ke negeri atap dunia tersebut. Selama sepekan di Nepal saya tidak hanya bertemu dengan para jurnalis dari sejumlah negara. Tidak pula sekedar berbagi kisah tentang perkembangan media di masing –masing negara. Namun di Kathamandu Nepal saya juga bisa melihat lebih dekat kehidupan umat islam disana yang tetap konsisten dalam menjalankan keyakinannya meski sebagai minoritas.

Selain hal menyenangkan tentu pekerjaan ini tetap menghadirkan kisah duka. Sebagai jurnalis, profesi ini tidak mengenal hari libur. Sabtu minggu adalah hari kerja. Begitupula saat lebaran. Ketika umat Islam lainnya berhari raya, saya dan teman-teman malah disibukkan dengan kegiatan mencari berita.  Bahkan siaran juga harus dilakukan saat lebaran tiba. Meski sedikit mengganggu tetapi hal ini tidak menjadi soal. Karena sejak awal saya memahami bahwa ini adalah kosekuensi pekerjaan.

25 juli 2014 tepat sembilan tahun saya menjadi presenter di TVRI Aceh. Waktu yang tergolong cukup untuk mengarungi sebuah profesi pekerjaan. Sebagai News Anchor dan reporter TVRI Aceh saya mengaku bahagia dengan pekerjaan ini. Karena profesi ini pula saya juga bisa menjalani sejumlah pekerjaan lain seperti dosen. Saya pernah mengajar di UIN Ar-Raniry, Mouharram Journalis College dan FISIP Unsyiah. Bekerja tentu bukan saja bicara tentang materi melainkan kepuasaan dan rasa bangga. Nilai itulah yang membuat saya bertahan hingga kini.

 ***

Kp Pineung, 10072014

Sehari setelah pilpres 2014

Dunia terkejut karena Israel Menyerang Gaza







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

4 Comments

  1. Mendra Gunarta 30/04/2016 at 03:11

    Mantaaapp… Sukses terus ya mamen…

  2. Feº A 02/10/2014 at 03:01

    Ariel, salut dengan profesi kamu. Di Aceh hanya ada TVRI? Ga ada TV swasta ?

    • arielkahhari 04/10/2014 at 12:33

      Makasih kak. Ada sih . Karena aturan sekarang tv swasta nasional harus berbarengan di daerah. Misalnya ada metro tv aceh, trans tv aceh, sindo tv aceh dsb. Kenapa kak ?

Leave A Response