Thursday 12th December 2019,
Arielogis

Cut Nyak Dien Saja Tidak Berjilbab

Ariel Kahhari 20/02/2014 Suara Langit 159 Comments
Cut Nyak Dien Saja Tidak Berjilbab
Cut Nyak Dien dalam lembaran Rp.10.000,-

Cut Nyak Dien dalam lembaran Rp.10.000,-

Entah sejak kapan judul di atas menjadi ungkapan yang ngetrend di Aceh. Tetapi sejak lama saya sudah dan cukup sering mendengar petikan kalimat tersebut.

Terakhir, ketika seseorang membela “perwakilan” Aceh yang mengikuti ajang Ratu Sejagad. Dalam wall facebooknya pemilik akun mengucapkan selamat karena rekannya tersebut berhasil menembus tujuh besar meski gagal meraih selempang kemenangan. Keikutsertaannya berakhir dengan kontoversi. Pada malam puncak, finalis tersebut tidak mengenakan kerudung lazimnya perempuan di Aceh bahkan tampil dengan pakaian terbuka.

Diskusi hangat pun meluncur. Banyak yang memuji dan memberikan dukungan namun banyak pula yang menghujat serta menyayangkan keputusan finalis tersebut.

“Kenapa masalah banget sama jilbab?? Cut nyak dhien kan juga ga berjilbab perasaan aku. Belum tentu kita jauh lebih baik dari orang yg sedang kita hujat sekarang” Tanggapan pemilik akun menjawab kritikan sejumlah komentator.

Agak menggelitik memang tentang ungkapan Cut Nyak Dien tidak berjilbab. Kalimat tersebut seakan menjadi pembenaran jika Cut Nyak tidak berjilbab maka sah sah saja jika pada era modern seperti sekarang ini, perempuan Aceh juga tidak menutup aurat.

Lalu benarkah Cut Nyak tidak menutup aurat?

Jika membaca literatur yang ada, sulit sekali menemukan potongan kalimat yang menegaskan apakah Cut Nyak berjilbab [menutup aurat] atau tidak. Foto dan gambar yang ada malah menunjukkan sosok Cut Nyak Dien tanpa penutup kepala. Cut Nyak digambarkan sebagai sosok perempuan berkonde. Bahkan Foto milik Belanda juga menampilkan sosok Cut Nyak Dien yang tua renta, tertunduk dengan rambut putih yang tidak sempat disisir. Namun dalam foto itu pula Cut Nyak berselimut selendang [ija sawak] panjang yang menutupi tubuh nya yang mulai ringkih. Berkembang kabar  foto tersebut memang sengaja diambil oleh Belanda untuk menurunkan marwah Cut Nyak Dien.

cut3 (1)

Hingga kini belum ada foto atau gambar yang menampilkan wajah Cut Nyak Dien dikala muda. Namun dari banyak tulisan dan catatan yang ada, Cut Nyak dikenal sebagai sosok pejuang yang rela mati membela agama nya. Bahkan semangat Jihadnya tersebut tidak saja menyelimuti dirinya namun juga mampu ditransfer kepada para pejuang lain. Tidak ada yang memungkiri semangat jihad Cut Nyak Dien.

Bahkan Buya Hamka saja pernah menunujukkan kekagumannya atas keteguhan Cut Nyak Dien.

Pikirkanlah dengan dalam..! Betapa jauh perbedaan latar belakang wanita Aceh 358 tahun yang lalu itu dengan perjuangan wanita zaman sekarang.

Mereka itu didorong oleh semangat jihad dan syahid karena ingin menegakkan agama Allah dengan kaum laki-laki, jauh daripada arti yang dapat kita ambil dari gerakan emansipasi wanita atau feminisme zaman modern sekarang ini.

Christine Hakim pemeran Cut Nyak Dien pernah mengaku jika dirinya membutuhkan waktu panjang untuk memahami dan mengenal sosok Cut Nyak. Bukan perkara mudah memerankan pejuang seperti Cut Nyak. Sosok yang kewibawaan dan ketaatannya kepada Tuhan begitu besar.

Dalam film tersebut digambarkan bagaimana Cut Nyak Dien menyerbu pasukan Kaphee Penjajah dengan gagah berani. Sekali lagi dia adalah perempuan! Tidak ada guratan ketakutan dari wajahnya. Yang ada penjajahlah yang takut dengan semangat Cut Nyak Dien hingga akhirnya ia harus dibuang ke luar Aceh.

poster film Cut Nyak Dien (http://wartaaceh.com/

poster film Cut Nyak Dien (http://wartaaceh.com/

Ketika diasingkan ke Sumedang Jawa Barat pada tanggal 11 Desember 1906, Cut Nyak Dien dirawat oleh K.H sanusi. Beliau adalah seorang ulama Masjid Agung Sumedang yang memperoleh gelar penghulu. Penunjukkan K.H Sanusi sebagai orang yang merawat Cut Nyak dilakukan langsung oleh Bupati Sumedang kala itu, yakni pangeran Aria Suria Atmaja.

Setelah wafatnya K. H Sanusi pada tahun 1907, Cut Nyak Dien dirawat H. Husna dan Siti Khodijah yang merupakan anak dan cucu K.H Sanusi. Hanya dengan merekalah Cut Nyak Dien berkomunikasi. Bahasa yang digunakan pun bahasa Arab, karena Cut Nyak Dien tidak bisa berbahasa masyarakat Sumedang begitu pula sebaliknya.

Selain dikenal fasih berbahasa Arab, Cut Nyak Dien juga memiliki pemahaman keislaman yang baik. Meski kala itu Cut Nyak Dien tidak mampu melihat, namun dirinya masih tetap mengajar Al Quran kepada Ibu Ibu warga Sumedang. Sehingga Cut Nyak Dien mendapat julukan ibu perbu atau Ibu Ratu. Sementara warga setempat menyebutnya sebagai Ibu Suci.

Lantas jika seseorang yang sudah tidak mampu melihat tapi masih bisa mengajar Alquran untuk orang lain, bukankah dia seorang Hafidzah alias penghafal Quran?

Setali tiga uang dengan Buya Hamka, saya juga turut mempertanyakan, mungkinkah seorang mujahidah dan penghafal Alquran seperti Cut Nyak Dien masih berdebat dan mempersoalkan pasal menutup aurat? Bukankah itu menjadi topik kecil dalam jalan hidupnya disaat dirinya malah rela diterjang peluru kaphee Belanda. Dan wajarkah jika pejuang mulia sekaliber Cut Nyak Dien disandingkan dengan finalis pencari selempang atau mereka yang enggan menutup auratnya?

Kalaupun benar Cut Nyak memang tidak menutup aurat, Kenapa malah dia yang harus menjadi rujukan? Bukankah rujukan terbaik itu adalah Al-Quran? Tapi saya yakin persoalan menutup aurat adalah perkara kecil baginya. Bukan karena kecil lantas diabaikan. Tapi kecil karena ada urusan yang lebih besar yang harus dikerjakan.

Malu rasanya jika kita tidak bisa berdiri sebanding dengan nya tapi mencoba melakukan pembenaran dengan mengatakan “Cut Nyak Dien saja tidak berjilbab”. Kalimat sampah yang diucapkan agar kita dapat melenggang karena nafsu dan kebodohan.







Like this Article? Share it!

About The Author

159 Comments

  1. dawa 12/08/2014 at 20:28

    semangatlah untuk wanita islam,,,,,,kita berjuang tidak sendirian

  2. shampo noni bsy 04/07/2014 at 16:40

    ya benar ga ush di perdebatkan antara wajib berhijab atau tidak, karena untuk agama islam itu berhijab mmang wajib..
    takutnya malah jadi ada ajang adu domba disi kalo seperti itu..
    terimakasih ;)

  3. arrida 25/04/2014 at 08:08

    subhanalloh,artikel yg luar biasa.. Sungguh orang yg tidak mengerti perjuangan cut nyak dhien yg mengatakan ‘cut nyak dhien saja tak berjilbab’.. Izin share

  4. Bintang Baru 12/04/2014 at 18:55

    Informatif, dan catatannya sangat membantu memahami ttg sosok cut nyak dien. sy pribadi kagum dgn pejuang perempuan di aceh, yang rela mempertaruhkan diri demi Agama dan bangsanya, semangatnya dalam melawan penjajah asing… terlepas dari polemik jilbab, buat sy semangat dan keyakinan dalam agama dan membela bangsa itu hal penting…
    salam kenal :)

    • arielkahhari 12/04/2014 at 21:53

      salam kenal kembali, terimakasih sudah berkunjung :)

  5. Imam Suhadi 20/03/2014 at 12:52

    BANGAI TAHT LAGOE MISS NYAN………………………
    Sekaliber CUT NYAK DHIEN Tidak dapat di bandingkan dengan wanita mana pun yang ada didunia ini, apa lagi dengan Miss tersebut. cukup tau saja jangan la membandingkan kebodohan anda dengan Kehebatan seorang CUT NYAK DHIEN.
    MENUTUP AURAT ADALAH WAJIB HUKUMNYA BAGI SETIAP MUSLIM, TIDAK ADA TAWAR MENAWAR LAGI DALAM HAL MENUTUP AURAT.

    CUKUP TAU SAJA …………

  6. Chris Sebastian 18/03/2014 at 11:43

    Kalau bicara CUT NYAK DIEN tentu yang dilihat semangat, karakter dalam membela Aceh dan jiwanya juga terhadap agama Islam yang dianut, kalau bicara tentang ber-jilbab sudah tentu bicara akidah dalam Al-Quran bukan dikaitkan dengan Cut Nyak Dien yang tidak berjilbab didalam gambar uang RI, namun sesungguhnya dalam keseharian masyarakat wanita Aceh menggunakan pakaian adat yang sudah menutup kepalanya menyerupai Jilbab, memang kebudayaan aceh sangat dekat dengan budaya dari timur tengah serta hubungan dengan daerah lain/negara lain sejak ratusasn tahun sebagai jalur dari timteng ke cina selatan.

    • Chris Sebastian 18/03/2014 at 11:53

      Satu tambahan lagi, gambar Cut Nyak Dien tidak berjilbab itu sewaktu acara resmi bertemu dengan Belanda, beliau menggunakan tenunan Aceh namun tidak menutup Jilbab karena sebagai pemuka Aceh yang bertemu dengan Wakil Pemerintah Belanda di Kuta Raja Aceh, beliau menyesuaikan (sementara) kepada kebiasaan pemerintah Belanda sehingga yang diambil gambar saat itu oleh petugas pemerintah, Cut Nyak Dien tidak menggunakan Jilbab, tetapi dalam keseharian di rumahnya Cut Nyak Dien seperti terlihat dalam gambar/foto yang kusam memang begitulah masyarakat Aceh pada abad 19 awal abad 20, dengan pakaian adatnya yang menutup kepala.

  7. ariani 07/03/2014 at 21:36

    izin share ya.. tq..

  8. maswaw 07/03/2014 at 08:54

    bagus banget tulisannya, ajarin cara nyari ide dan penelitiannya dong, bang :)

  9. miki 05/03/2014 at 18:48

    wah itu mah nyari pembenaran aja dari finalis tsb.. harusnya artikel ini di tag kan lah ke FB-nya biar dibaca.. kalimat yang dia lontarkan akan jadi senjata wanita aceh lainnya untuk ikut-ikutan tidak berjilbab.. innalillahi wa inna ilaihi raji’un… semoga Allah memberi hidayah kepadanya

  10. hfadhilah 05/03/2014 at 00:24

    Reblogged this on fullloveforlive.

  11. Dumasari Lubis 01/03/2014 at 19:55

    Gak usahlah diperdebatkan tentang apakah berjilbab wajib atau tidak? karena sekarang kan udah pada tau ada perintah Allah dalam al-qur’an surat 33 (Al-Ahzab) : 59 maka patuhi aja perintah Allah tersebut klo mengaku beriman kepada Allah.

    Perintah ber-Jilbab; QS 33 (Al-Ahzab) : 59

    ا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

    Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

  12. intan 01/03/2014 at 13:56

    Pah pangeh ju inong selempangnya

  13. Blogger Purwo 01/03/2014 at 13:15

    (y) jadi ikut bersemangat dengan semangat kepahlawanan Cut Nyak

  14. rafiqi 28/02/2014 at 22:38

    izin shere beuh syedara ..

Leave A Response

Click here to cancel reply.