Tuesday 26th September 2017,
Arielogis

Cut Nyak Dien Saja Tidak Berjilbab

Ariel Kahhari 20/02/2014 Suara Langit 159 Comments
Cut Nyak Dien Saja Tidak Berjilbab
Cut Nyak Dien dalam lembaran Rp.10.000,-

Cut Nyak Dien dalam lembaran Rp.10.000,-

Entah sejak kapan judul di atas menjadi ungkapan yang ngetrend di Aceh. Tetapi sejak lama saya sudah dan cukup sering mendengar petikan kalimat tersebut.

Terakhir, ketika seseorang membela “perwakilan” Aceh yang mengikuti ajang Ratu Sejagad. Dalam wall facebooknya pemilik akun mengucapkan selamat karena rekannya tersebut berhasil menembus tujuh besar meski gagal meraih selempang kemenangan. Keikutsertaannya berakhir dengan kontoversi. Pada malam puncak, finalis tersebut tidak mengenakan kerudung lazimnya perempuan di Aceh bahkan tampil dengan pakaian terbuka.

Diskusi hangat pun meluncur. Banyak yang memuji dan memberikan dukungan namun banyak pula yang menghujat serta menyayangkan keputusan finalis tersebut.

“Kenapa masalah banget sama jilbab?? Cut nyak dhien kan juga ga berjilbab perasaan aku. Belum tentu kita jauh lebih baik dari orang yg sedang kita hujat sekarang” Tanggapan pemilik akun menjawab kritikan sejumlah komentator.

Agak menggelitik memang tentang ungkapan Cut Nyak Dien tidak berjilbab. Kalimat tersebut seakan menjadi pembenaran jika Cut Nyak tidak berjilbab maka sah sah saja jika pada era modern seperti sekarang ini, perempuan Aceh juga tidak menutup aurat.

Lalu benarkah Cut Nyak tidak menutup aurat?

Jika membaca literatur yang ada, sulit sekali menemukan potongan kalimat yang menegaskan apakah Cut Nyak berjilbab [menutup aurat] atau tidak. Foto dan gambar yang ada malah menunjukkan sosok Cut Nyak Dien tanpa penutup kepala. Cut Nyak digambarkan sebagai sosok perempuan berkonde. Bahkan Foto milik Belanda juga menampilkan sosok Cut Nyak Dien yang tua renta, tertunduk dengan rambut putih yang tidak sempat disisir. Namun dalam foto itu pula Cut Nyak berselimut selendang [ija sawak] panjang yang menutupi tubuh nya yang mulai ringkih. Berkembang kabar  foto tersebut memang sengaja diambil oleh Belanda untuk menurunkan marwah Cut Nyak Dien.

cut3 (1)

Hingga kini belum ada foto atau gambar yang menampilkan wajah Cut Nyak Dien dikala muda. Namun dari banyak tulisan dan catatan yang ada, Cut Nyak dikenal sebagai sosok pejuang yang rela mati membela agama nya. Bahkan semangat Jihadnya tersebut tidak saja menyelimuti dirinya namun juga mampu ditransfer kepada para pejuang lain. Tidak ada yang memungkiri semangat jihad Cut Nyak Dien.

Bahkan Buya Hamka saja pernah menunujukkan kekagumannya atas keteguhan Cut Nyak Dien.

Pikirkanlah dengan dalam..! Betapa jauh perbedaan latar belakang wanita Aceh 358 tahun yang lalu itu dengan perjuangan wanita zaman sekarang.

Mereka itu didorong oleh semangat jihad dan syahid karena ingin menegakkan agama Allah dengan kaum laki-laki, jauh daripada arti yang dapat kita ambil dari gerakan emansipasi wanita atau feminisme zaman modern sekarang ini.

Christine Hakim pemeran Cut Nyak Dien pernah mengaku jika dirinya membutuhkan waktu panjang untuk memahami dan mengenal sosok Cut Nyak. Bukan perkara mudah memerankan pejuang seperti Cut Nyak. Sosok yang kewibawaan dan ketaatannya kepada Tuhan begitu besar.

Dalam film tersebut digambarkan bagaimana Cut Nyak Dien menyerbu pasukan Kaphee Penjajah dengan gagah berani. Sekali lagi dia adalah perempuan! Tidak ada guratan ketakutan dari wajahnya. Yang ada penjajahlah yang takut dengan semangat Cut Nyak Dien hingga akhirnya ia harus dibuang ke luar Aceh.

poster film Cut Nyak Dien (http://wartaaceh.com/

poster film Cut Nyak Dien (http://wartaaceh.com/

Ketika diasingkan ke Sumedang Jawa Barat pada tanggal 11 Desember 1906, Cut Nyak Dien dirawat oleh K.H sanusi. Beliau adalah seorang ulama Masjid Agung Sumedang yang memperoleh gelar penghulu. Penunjukkan K.H Sanusi sebagai orang yang merawat Cut Nyak dilakukan langsung oleh Bupati Sumedang kala itu, yakni pangeran Aria Suria Atmaja.

Setelah wafatnya K. H Sanusi pada tahun 1907, Cut Nyak Dien dirawat H. Husna dan Siti Khodijah yang merupakan anak dan cucu K.H Sanusi. Hanya dengan merekalah Cut Nyak Dien berkomunikasi. Bahasa yang digunakan pun bahasa Arab, karena Cut Nyak Dien tidak bisa berbahasa masyarakat Sumedang begitu pula sebaliknya.

Selain dikenal fasih berbahasa Arab, Cut Nyak Dien juga memiliki pemahaman keislaman yang baik. Meski kala itu Cut Nyak Dien tidak mampu melihat, namun dirinya masih tetap mengajar Al Quran kepada Ibu Ibu warga Sumedang. Sehingga Cut Nyak Dien mendapat julukan ibu perbu atau Ibu Ratu. Sementara warga setempat menyebutnya sebagai Ibu Suci.

Lantas jika seseorang yang sudah tidak mampu melihat tapi masih bisa mengajar Alquran untuk orang lain, bukankah dia seorang Hafidzah alias penghafal Quran?

Setali tiga uang dengan Buya Hamka, saya juga turut mempertanyakan, mungkinkah seorang mujahidah dan penghafal Alquran seperti Cut Nyak Dien masih berdebat dan mempersoalkan pasal menutup aurat? Bukankah itu menjadi topik kecil dalam jalan hidupnya disaat dirinya malah rela diterjang peluru kaphee Belanda. Dan wajarkah jika pejuang mulia sekaliber Cut Nyak Dien disandingkan dengan finalis pencari selempang atau mereka yang enggan menutup auratnya?

Kalaupun benar Cut Nyak memang tidak menutup aurat, Kenapa malah dia yang harus menjadi rujukan? Bukankah rujukan terbaik itu adalah Al-Quran? Tapi saya yakin persoalan menutup aurat adalah perkara kecil baginya. Bukan karena kecil lantas diabaikan. Tapi kecil karena ada urusan yang lebih besar yang harus dikerjakan.

Malu rasanya jika kita tidak bisa berdiri sebanding dengan nya tapi mencoba melakukan pembenaran dengan mengatakan “Cut Nyak Dien saja tidak berjilbab”. Kalimat sampah yang diucapkan agar kita dapat melenggang karena nafsu dan kebodohan.







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

159 Comments

  1. feibronjul 21/02/2014 at 08:07

    mantap tengku nyan…paparan yang luar biasa

  2. Reichan Siregar 21/02/2014 at 14:27

    Sebenarnya gak penting… Cut Nyak Dien berjilbab atau tidak… Toh Cut Nyak Dien bukan contoh utama yang harus ditiru.. Contoh utama Umat Islam adalah Rasullullah SAW… Jadi sebenarnya gak ada pengaruh… Cut Nyak Dien berjilbab atau tidak… kalau bagus dicontoh, kalau gak ditinggalkan… Bagus atau tidak, bagi Islam itu kembali ke Al Qur’an dan Hadist…

  3. trisha 21/02/2014 at 11:51

    Sebenarnya, masalah memakai atau tidak memakai, kita kembalikan kepada individunya. Namun bila merujuk kepada adat dan budaya pada zaman tersebut, masuknya budaya islam membawa perubahan yang signifikan dalam cara berpakaian di nusantara, khususnya bagi sebagian besar wanita (lihat bahwa pada relief candi, wanita bertelanjang dada). Hal ini saya yakini bahwa pergeseran tata cara berpakaian juga terkait dengan masuknya syiar islam yang masuk melalui perdagangan dan pernikahan di Indonesia. Seorang Cut Nyak Dien, (yang Insya Allah seorang Syuhada) tentunya melakukan tata cara menutup aurat secara syariah sesuai dengan keadaan yang dimiliki pada zaman tersebut (* menutup aurat dengan kain panjang dan tidak menyerupai laki laki).

  4. eka Pralaga 21/02/2014 at 11:44

    semua kembali pada keimanan masing2…sudah berimankah anda?….jangan mencari kekurangan orang lain diatas kelebihan kita, namun lihatlah apa yang kurang pada diri kita dibalik kelebihan orang lain…seperti kata pepatah semut diseberang lautan kelihatan namun gajah dipelupuk mata tidak terlihat…nabrak lah brooowww….

  5. Isni wardaton 21/02/2014 at 11:29

    Ulasannya rapi bang, setuju dg paragraf penutup. :)

  6. Uda Joe 21/02/2014 at 11:06

    Nice article…love to read it…I hope you can write another interesting article :)

  7. fathur 21/02/2014 at 10:21

    coba lihat foto Cut Nyak Dien setelah tertangkap ini, itu rambut apa kerudung. Sepertinya, dari berbagai foto kuno, perempuan muslimah indonesia dahulu berkerudung bukan memakai ‘jilbab’ sperti yg dikenal sekarang ini. http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/5/5f/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Groepsportret_met_Cut_Nyak_Dhien_de_vrouw_van_Teuku_Umar_na_haar_gevangenneming_TMnr_10018822.jpg

  8. d2pren 21/02/2014 at 09:37

    Pemikiran yang hebat! Orang yang selalu mencari celah dengan pembenaran mereka sendiri adalah orang bodoh yang membodohi diri sendiri

  9. Nazri Z 21/02/2014 at 09:32

    Ka rame that, mumang bak ta komen.

    inti jih, yang peugah cut nyak din hana pake jilbab awak bangai, sok tau.
    lage ta deungoe ureung peugah na eungkot takot keu ie. nyan ka bit bagai.
    meu bukti, tanyoeng bak awak semedang. hafizah toeh yang hana tob aurat?

  10. endro 21/02/2014 at 09:12

    ending tulisannya bener bnget..terlalu jahat judul diatas dan minta ditabok tu orng yg membandingkan cut nyak dhien dng perempuan yg katanya “mewakili Aceh” diajang yahudi tersebut..

  11. depit 21/02/2014 at 08:36

    Jikalau beliau masih ada kekurangan, rasa2nya kok kemuliaan akhlak beliau sudah menutupinya…

  12. Khafifa 21/02/2014 at 08:26

    Setuju bgt sama isi bahasan nya!! :) al Quran dan as sunnah sudah ada sejak Nabi Muhammad menjadi seorang Rasul. Klo ibu Cut Nyak Dien rela membela agama nya dengan tuntunan Quran dan sunnah, pasti beliau pun akan mengerjakan amalan2 diri sebelum ke tuntutan besar urusan perang2an.

  13. teuku muhd rizal 21/02/2014 at 08:24

    WARNING!!
    Pemerintah Nanggroe Aceh seharusnya melarang putra/putrinya ikut acara PAMER AURAT yg gitu-gituan,, Sudah jelas kalo itu adalah acara sponsornya Nonmuslim/kafir tapi masih juga ikut-ikutan kesitu. Walaupun pd acara Miss itu di berikan kebebasan berjilbab bg putri Aceh,tapi secara tak sadar kita sudah mendukung acara_bajingaN tersebut terselenggarakan..!! CAMKAN ITU BAIK-BAIK..!!!

  14. Lems Marshal 21/02/2014 at 07:49

    Koq mesti.Cut Nyak Dien aja yang di bahas disini. Yang lain kan ada.

  15. mey 21/02/2014 at 07:15

    Artikel yg bagus.
    Sgt dsygkn mmg mnyaksikn finalis dr aceh dg busana ‘barat’ nya. Miris rasa’y.. Rasa’y tdk smua org aceh suka n mrasa terwakili oleh finalis tsb. Bukti’y temen2 saya yg org aceh..mlm itu status d bbm’y pd berkomentar mmprtnyakan knpa diajang tsb tak bjilba.pdhal bbrp minggu sblum’y…finalis dr aceh yg ikut ajang putri indonesia tetep anggun dg jilbab’y. Org akan langsung mliirik krn pnampilan’y yg brbeda..walopun dia menang/tidak. Tp knapa malah di ajang brbeda finalis aceh tak brjilbab..apa krn yayasn trsbut dsponsori oleh “sesuatu” maka’y tdk dperbolehkn bjilbab..syg skli klo mmg sprti itu. Sprti mnggadaikn aurat hnya demi kmenangn yg tak abadi.

  16. Aslan Saputra 21/02/2014 at 07:03

    oman.. beda sekali rasa tulisan ini bang.. apalagi sudah dilabeli dengan brand ‘ARIELOGIS’. Sepertinya Ferhatologi akan tersaingi. Btw agak kontroversi ya bang.. buktinya banyak sekali yg komen sepakat dan tidak sepakat. Luar biasa!

    masalah Cut Nyak dien, yg digambar uang itu bukan cutnyakdien bang. Malah mirip wajah orang tanah jawa. Terus, kalo zaman tua cut nyak dien ga pake jilbab memang iya karena dia sudah udzur. Kenapa juga si calon ratu sejagat bawa2 nama CND -_-

    overall keren!

  17. Dwi Rahayu Purwanti 21/02/2014 at 06:48

    Awesome! :)

  18. wahyudi 21/02/2014 at 06:34

    Penjelasan yang cukup rasional dan sesuai dengan kajian islami untuk permasalahan jilbab diatas adlah,penjelasan dari ulama pakar tafsir,dan merupakan direktur pusat studi al quran Prof.Dr.M.Quraish Shihab tentang “Jilbab”.
    Sekilas intisari dri buku pnjelasan beliau tentang jilbab,(mdah2an saya gk salah)
    Pada dasarnya ulama berbeda pendapat tentang batasan aurat. Kta orng indonesia hrus mengerti dahulu pengertian jilbab itu sendiri,krna beda negara beda pengertian tentang jilbab.

    Sprti yg kta ketahui jilbab ini mlai marak digalakkan di indonesia pada tahun 80-90an ke atas
    Jdi hrus dimaklumi jika tahun dibawahny,memang wanita indonesia masih jarang menggunakan jilbab.
    Saya brpendapat,pakaian wanita indonesia dahulu masih lebih baik,karena sudah menutup lekukan tubuh walaupun tidak menutup kepala.

  19. masdar 20/02/2014 at 21:07

    jilbab masa cutnyak din, mungkin ya baju longgar tak membentuk badan serta selendang yang kadang jatuh di badan..saya kiri dalam tradisi melayu ya baju kurung…karena sebelum islam ada di aceh dan temapt alin di nusantara,,pakaian wanita cnederung lebih terbuka , dalam tradisi hindu malah biasa wanita tak menutup sebagian tubuhnya..

  20. Mihalul Abrar 20/02/2014 at 18:39

    Salam.
    Postingannya luar biasa.
    cut bang arielkahhari, neu bie idin lon meuguree bak droeneuh,…
    hehehehe.

    Saat sesuatu kejadian membuahkan pro dan kontra, dibenarkan atau disalahkan, di caci maki atau di sanjung, di hujat atau malah dibanggakan. menjadi pembicaraan hangat yang terus berpanjangan tanpa koreksi dan nasihat serta komunikasi dua arah dengan ” yang dimaksud” akan sama saja. no results .

    Saya masih belum berani untuk menghujat atau mencaci maki sebuah keadaan yang sedang pro kontra.
    tapi saya berdo’a dalam hati agar ALLAH memberikan saya Shiratal mustaqim, agar saya berada di jalur yang benar. agar terus dijalur yang benar. agar saya berbuat yang benar. dan orang melihat saya benar, dan orang juga akan mengikuti yang benar. Insya ALLAH.

    Cut bang meutuah, yang membuat postingan tersebut adalah ” adoe geutanyoe, syara geutanyoe” yang ikot acaranyan pih saban. saudara kita, rekan kita, adik kita. jadi, marilah kita mencari jalan terbaik dengan komunikasi dua arah. Memohon sama ALLAH agar kita semua diberikan jalan pikiran yang baik dan benar. Berdoa agar pejabat pemerintah kita tidak buta dalam syariah yang melegalkan penampilan seperti yang terjadi. agar tidak terjadi perhujatan sesama ” kaom “. malee teuh…

    Cut bang, ada banyak hal yang terjadi saat pola pikir yang telah tertanam di benak anak aceh bercampur dengan pola pikir di luar aceh, baik di luar aceh masih dalam indonesia, maupun di luar indonesia. masih sangat banyak rekan kita, termasuk saya ingin berbuat lebih, mengukir prestasi, menancap tonggak sejarah baru mengenai kemenangan dalam bersaing. namun karena pola pikir yang telah bercampur baur dari segala bacaan dan literatur membuat anak aceh harus ” berani ” mengambil keputusan dan sedikit mengenyampingkan pola pikir yang penuh dengan adat, reusam, dan qanun. nah, saat keputusan ini telah terjadi, maka pro kontra lah yang terjadi. meunyoe peugah gure lon, “bek sagai di gata, meukalon boh mamplan dari yup jih mantoeng. bek pih takalon cuma reot ateuh, peo lom cuma reot sampeng. laen rupa…… tapi takaloen beumuslihat. takaloen beu mandum sisi, ta mat, da peu nyuem, mangat ta tu’oh ban boh mamplan nyan.” jadi, masalah bukan hanya di “komentar”. tapi ada hal yang menjadi akar dari permalasahan yang tak kan berujung.saya yakin cut bang sangat paham. bukan mau membenarkan, tapi sedikit memberi pembenaran, yang saya yakin cut bang lebih paham dengan “apabila engkau melihat sebuah kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu, apabila engkau tak sanggup, maka cegahlah dengan lisanmu, apabila engkau tak sanggup, maka cegahlah dengan hatimu”, saat ini saya sedang memelihara hati agar sanggup mencegahnya dengan hati. karena saya masih banyak kesahalan dalam kepribadian.

    Sedikit curhat, saya termasuk salah satu “aneuk nangroe” yang terguncang batin dalam aqidah, adat, reusam dan “KENYATAAN” serta “PERKEMBANGAN DUNIA” yang ingin mendobrak pola pikir pribadi agar menjadi baik. jadi saya mohon bimbingannya……

    • arielkahhari 20/02/2014 at 18:41

      pakeun jeut terguncang batin aqidah adoe meutuah??

  21. Aulia 20/02/2014 at 17:59

    Kalau khusus Aceh soal jilbab sedikit-sedikit pasti mengena ke pahlawan wanita, ini telah menjadi propaganda Aceh pasca-tsunami sepertinya. Terus terisap kuat oleh pikiran yang ingin memudahkan sesuatu khususnya ke kalangan perempuan, lagi-lagi sedikit disentil berujung akan muncul aktivis gender pembelaan ini dan itu. Aceh dimana donya, begitulah!

    • arielkahhari 20/02/2014 at 18:33

      hahah… aceh sexih sekalih :)

      • Aulia 20/02/2014 at 18:35

        Yang namanya seksi pasti bakal sering dilirik kan, manusia memang begitu. Pandai-pandai menjaga pandangan :D

  22. Yotsuba wm 21/02/2014 at 00:50

    Tulisannya bagus. Hanya ingin menambahkan sedikit. Tahun lalu saya sempat berkunjung ke rumah aceh yang ada di jalan menuju lhok nga. Guide nya bilang kalau gambar Cut Nyak Dien yang asli yang pernah ia lihat itu berjilbab rapi. Saya lupa tempat yg ia sebutkan. Tapi jika ingin ditelusuri dan info lebih jelas bisa ditanyakan pada guide rumah aceh Cut Nyak Dien tersebut…^_^

  23. teuku muhd rizal 21/02/2014 at 00:48

    Saya akan mengutip pendapat dari ArielKahhari dlm artikel di atas: “Tapi saya yakin persoalan menutup aurat adalah perkara kecil baginya. Bukan karena kecil lantas diabaikan. Tapi kecil karena ada urusan yang lebih besar yang harus dikerjakan”. MENURUT SAYA,, Pendapat anda ini secara tdk langsung sudah menuduh bahwa CUT NYAK itu tidak memandang pakai kerudung itu sebagai perkara yg sangat penting..!! KATA2 ANDA ITU CUKUP BERBAHAYA KAWAN!!!

  24. Backpacker cilet-cilet 21/02/2014 at 00:36

    Terlepas dari pokok pembasahannya, aku sukak kali gaya penulisan qe, Bang. Kerrrreeeeen. Jadi kapan aku bisa jadi presenter di tempat qe kerja, Bang?

  25. ssujono 20/02/2014 at 17:12

    Reblogged this on Muqaddimah.

  26. dinaLM 20/02/2014 at 23:16

    terus terang saya cuma bisa berharap agar masih ada yang meneruskan investigasi soal Tjoet Nyak Dhien, agar dapat memperjelas kekeruhan ini. bukan semata sebagai referensi perlu/tidaknya perempuan berjilbab. tapi supaya tidak ada lagi pemburu-pemburu selempang semacam itu yang menyanding2kan dirinya dengan beliau. (situ pikir kalopun ga berjilbab,TND pamer2 ketek kayak situ, gitu??)

    BTW (OOT jg sih) di akhir tahun 90-an dulu sempat ngetren di kalangan ibu-ibu di Aceh model celana perempuan aceh jaman dahulu, yaitu yg panjang pesaknya, dengan motif2 aceh yang sngat indah. sayangnya tren ini enggak bertahan lama. kemudian model tsb diadopsi (entah sengaja atau tidak) oleh trendsetter hijabers saat ini, yaitu Dian Pelangi, namun diaplikasikan dengan bahan yang digemari saat ini: semacam kaos spandex (CMIIW).
    trus maksudnya sekarang saya lagi nyari celana model dan motif aceh itu lagi, tapi ga tau mau nyari ke mana :D
    *betol2 OOT nih*
    misi ya om ..
    :))

  27. teuku muhd rizal 20/02/2014 at 22:33

    WARNING!! “Iya saya setuju bangeeEt dgn kumentar TEUKU KHAIRUL” Saya sendiri sebenarnya sangat tidak yakin kalo dgn gambar yg ada di uang 10ribu itu adalah gambar Cut nyak dhien, itu kan gambarnya di ambil dari lukisan,, yang namanya lukisan itu pasti bisa di rekayasa gaN..!!! Kayaknya gak ada bukti yg jelas kalo ada orang yg menuduh Cut Nyak Dhien itu tidak berkerudung.

  28. Nanda mulyani 20/02/2014 at 22:07

    Jelbab dan berhijab itu adalah keharusan seorang muslimah,,dan bukan paksaan,,jdi apabila ada orang aceh yang tidak memakai jlbab dmn pun,,kpn pun,,utk apa qt juga yg orang aceh,,menghujatnya?? Toh memakai jelbab dan berhijab itu wajib bagi setiap muslimah,,bukan hanya orang aceh,,nah knpa harus orang orang aceh saja ya g dihujat?? Kenapa tidak semua muslimah yg tidak memakai jlbab?? Itu adalah kembali ke pola pikir kita masing2,,ayolah kita orang aceh ini,,jangan kebanyakan munafik a,,klo kluar dari aceh,,banyak yg tidak memakai jlbab,,krna memakai jlbab diaceh,sudah menjadi paksaan bkn lg keiklasan dan kesadaran diri masing2,,krna berjilbab bkns aja aurat yg ypgrus ditutupi,,tp hati jg hrus iklas mengaplikasikannya,,sehingga perbuatan jg trhindar dri yg buruk,,termasuk menilai orang lain jelek,,kita juga belum sempurna,,jd tidak usah menilai orang sejauh itu,,dia perwakilan dari aceh,,dan dia menunjukkan ke orang2 diluar sana,,kalo anak aceh juga sama mempunyai intelktual yg tinggi,,pengetahuan yang luas,,dan bisa memajukan aceh kedpan a,,maaf saya bukan menggurui,,tapi hanya memberikan sedikit pemasukan,,terima kasih,,salam damai untuk aceh,

  29. Fardelyn Hacky 20/02/2014 at 14:52

    Tuh kaaan, postingannya kembali jadi tercetar, hahahaa..

    • arielkahhari 20/02/2014 at 14:54

      hahhah… ecky fokus kita sebagai blogger adalah menulis.. #asseekkk

  30. Sri Risky Ramadani 20/02/2014 at 21:42

    Nyoe cap

  31. eda 20/02/2014 at 21:13

    sy stju bngt dgn ulasan di blog ini, trkdg mrasa miris mndengar hal2 yg baik djadikan pmbenaran diri sndri untk melegalkan hal2 yg tdk baik. Rasanya tdk pantas sj, malu seharusnya. Klo mmg blum bs smpurna mnutup aurat cukuplah sadari itu sbg kekurangan diri sndri dan mgkn btuh wktu untk mjdi pribadi yg lbh baik tp jgnlah mmbwa2 suatu kbaikan untk mnutupi kekhilafan diri. (mncoba ttp brhusnudzon bhwa itu hnya khilaf dr mreka yg mncoba mcri pmbnaran dri sndri). Sm halny miris skali saat hmpir smw pihak mjdkn kartini sbgai pmbenaran atas emansipasi wanita, knp mreka tak coba menelaah & mneliti lbh jauh, inikah ssungguhnya emansipasi yg dkhendaki kartini?? Krn ssngguhnya kartinipun jg layaknya cut nyak dien, dia pjuang wanita yg taat akn agamanya& mnjunjung tinggi agama allah, namun konspirasi liberal mmbwt nama kartini di jaman ini mjd pjuang emansipasi gender & mjdkn alasan pmbnaran bg wanita untk brjalan dluar syariat yg dttapkn allah. Wallahu a’lam

  32. buzzerbeezz 20/02/2014 at 13:41

    Nice Bang.. Kalau aku sih percaya kalau Cut Nyak Dien itu memegang teguh nilai agama islam :D

    • arielkahhari 20/02/2014 at 14:27

      makanya agak kesel pas ikut ajang jual paha trus bilang cut nyak aj ngak pake kerudung.. trus apa mereka mau bilang kalo cut nyak juga ikut ajang serupa pas era belanda??

  33. Tabrani 20/02/2014 at 20:04

    Kl mau tahu akan wanita Aceh tempo dulu menutup aurat jangan hanya dilihat permukaannya saja, tapi dalamilah kehidupan wanita Aceh sehari-hari, jadi jangan hanya mengambil kesimpulan sendiri-sendiri

  34. cut lilis R 20/02/2014 at 19:15

    postingan yang sangat bagus..sekarang banyak orang2 merujuk kesana kemari utk sebuah pembenaran. Tapi sayang mereka membandingkan atau menyandingkan dg orang yang tdk sesuai. atas dasar apa ngebandingin miss2 itu dg cut nyak dhien. apa kontribusi miss2 itu utk bangsa? *geleng2 kepala*

    • arielkahhari 20/02/2014 at 19:22

      makasih sudah berkenan membaca… semoga kita semakin memahami bahwa tidak menjadikan manusia sebagai panutan kecuali Rasulullah SAW

  35. Hafiz Fadhlan 20/02/2014 at 19:11

    mantap,,,keren banget bang,,, judulnya sensasional,,,biar bikin banyak yg baca,,dan akhirnya bisa terbuka hatinya, itulah strategi dakwah,,, :)

  36. Azhar Ilyas 20/02/2014 at 18:02

    Banyak kali sumber bang ariel ne… Foto-fotonya cetar kaliii :)

  37. Fauzan 20/02/2014 at 17:27

    Yang patut kita pertanyakan sekarang bang, apakah foto pahlawan nasional cut nyak selawet ini yang di sebarluaskan benar2 sosok cut nyak dhien??

    Sampoe uroe nyoe, lon tuan hana yakin nyan Cut Nyak Dhien… Bagaimana mungkin sosok yang agamis seperti beliau tidak mengenakan jilbab. Wallahu ‘alam.

    • arielkahhari 20/02/2014 at 17:33

      itulah, yang lebih parah wajahnya yang di pendopo gub aceh lagee agam.

      trus antara satu foto dengan foto yg lain ngak seragam. inikan kayak imajinasi pelukisnya aj

    • Aulia 20/02/2014 at 18:02

      Kalau yang lukisan (di sekolah-sekolah, tempat publik, dll) itu sudah bisa diduga hasil imjinasi, sekarang imajinasi lukisan dinobatkan dalam tulisan. Masa perjuangan Cut Nyak Dhien hasil otentik yang bisa dilihat itu cuma foto atau bisa langsung berinteraksi dengan masyarakat dimana dulu Cut Nyak pernah tinggal, di Lampadang, Bogor, dan juga Gunung Puyuh Sumedang.

  38. Taufiq Firdaus A A 20/02/2014 at 17:19

    Perempuan pejuang!

  39. rahmattrans 20/02/2014 at 10:04

    Sampai saat ini pun saya masih tetap penasaran, apakah bener Cut Nyak Dhien tidak mengenakan jilbab.
    Saya belum dapat literature resminya.

    By the way, hal yang bener bila semuanya itu hanya berujuk pada Quran n hadis, bukan pada contoh lain.

  40. rahmattrans 20/02/2014 at 10:01

    Sampai saat ini pun saya masih tetap penasaran, apakah bener Cut Nyak Dhien tidak mengenakan jilbab.
    Saya belum dapat literature resminya.

    By the way, hal yang bener bila semuanya itu hanya berujuk pada Quran n hadis, bukan pada contoh lain.

    • arielkahhari 20/02/2014 at 15:10

      saya yakin beliau menutup auratnya.. ngak mungkin lah sekaliber beliau yg mengejar kematian sebagai syuhada pake kemben… bener ngak??

  41. Ijabrok 20/02/2014 at 16:08

    Wah hebat ni Ariel, kualitas tulisannya semakin meningkat…bravo masbro.
    Saya ingin sedikit menanggapi komen dari saudari saya Alaika yang menyatakan “Sebenarnya sih, masalah mengenakan hijab atau tidak, terpulang lagi ke pribadi masing2 wanitanya, tidak bisa kita paksa atau kita hujat”. Komen ini dari segi akademis cenderung dinamakan “funboy”, yang mana tidak ingin merujuk pada referensi. Anda yang beragama Islam referensinya adalah Al-quran dan hadist. Di dalam Islam telah jelas di kemukakan apa hukum nya wanita tidak menutup aurat, yang salah satunya bisa dikategorikan sebagai berjilbab. Saudara Teuku Khairul telah menyajikan referensi dari Al quran. Oleh karena itu, disisi Islam wanita yang tidak menutup aurat itu mengingkari perintah Allah, yang mengakibatkan timbulnya dosa. Kesimpulannya adalah masalah mengenakan hijab atau tidak BUKANLAH terpulang ke pribadi masing-masing wanita, namun melainkan adalah mutlak atau wajib hukumnya di sisi Islam, karena ianya adalah perintah Allah.

    Semakin maju peradaban, ada kalanya semakin primitif orang berfikir. Banyak aneuk manyak ban rayeuk (ABR) atau anak baru gede (ABG) salah memahami makna keharusan berjilbab. Sebagian dari mereka berkomentar: “buat apa berjilbab kalau hatinya masih belum ikhlas atau akhlaknya masih rusak atau beribu alasan lainnya”. Ini adalah suatu gaya berfikir yang primitif. Allah menyuruh kamu (kaum wanita) berjilbab untuk menutup aurat, bukan untuk menutup ketidak ikhlasan hatimu atau buruknya akhlakmu. Dengan kamu tidak berjilbab maka telah tercatat satu dosa pada dirimu, namun bila kamu berjilbab maka kamu telah mentaati perintah Allah. Pesan saya kepada kaum muslimah, berjilbablah mulai saat ini, masalah hati kamu yang tidak ikhlas dan tingkah laku mu yang buruk, mudah-mudahan Allah memberikan hidayahNya kepada mu untuk menuju surgaNya yang abadi.

    • arielkahhari 20/02/2014 at 16:11

      bereh, ini dah jadi satu postingan….heheh

    • teuku muhd rizal 20/02/2014 at 23:12

      Bereeeh that nyan komeN Syedara!

  42. Anugrah Roby 20/02/2014 at 15:46

    Bahasan yang menyentak relung kesadaran…
    Semoga dapat mencerahkan orang2 yang selama ini gagal mendapatkan informasi akurat dan pemahaman yang tepat.

    Sukses terus untuk Bang Ariel. Semoga makin produktif

    • arielkahhari 20/02/2014 at 16:04

      banyak yg emosi karena sekedar membaca judul… di beberapa tempat abang dihayak karena dibilang sok tau dan tidak cermat hanya karena bermodalkan foto

  43. Masrizal 20/02/2014 at 15:20

    Mantap riel. Mudah2an bisa dibaca pemerinta. Kasian sekali sekarang banyak x org2 yg tiba2 datang mengaku mewakili Aceh ke ajang2 nasional, tapi nilai2 ke-Acehannya malah tidak terlihat. Pertanyaannya, apakah pemerintah perduli?

    • arielkahhari 20/02/2014 at 15:28

      pemerintah punya urusan lebih besar [katanya] hahahahh

  44. Mira 20/02/2014 at 15:18

    tulisannya keren, endingnya apalagi *komentar lainnya udah diwakili kak alaika dan k.ihan dll :D

  45. Sf Efend 20/02/2014 at 15:09

    aku baru dengar ini dari artikel qe, ril.
    trus si kristiani di blog kompasiana itu.

    • arielkahhari 20/02/2014 at 15:16

      hahahah bagisnya qe buat blog satu trus qe balik hajar dia dengan tulisan juga. kalau qe berdebat sakit jantung nanti, kena stroke habislah

  46. Rone 20/02/2014 at 15:06

    Ulasan yg bagus…..
    Sebagus2nya hijab adalah hijab hati, sperti ibu cut nyak yg hati, akhlaq, dan kberanian nya sudah dpke utk melindungi agamanya dri khancuran….

    • arielkahhari 20/02/2014 at 15:29

      perfect… cut nyak bukan saja menutup auratnya tapi juga perkasa di medan laga.. semoga banyak lahir cut nyak cut nyak lainnya….

  47. safura 20/02/2014 at 14:55

    saya suka banget ulasam drimu di atas… bisa gk ulasan ni d kirim k facebook yg ngomongin ini “cut nyan din saja tidah berjilbab”

    ktnya ajang miss2 tu memilih miss2 yg pintar dan berwawasan luas tpi kyaknya,, hmmm … msak ngomong tnpa ad buktinya….

    • arielkahhari 20/02/2014 at 15:03

      yah ini lagi nyari akun yang bahas miss miss itu hehe.. ada link nya?

  48. Teuku Khairul 20/02/2014 at 11:31

    izin koment boleh ya…:D
    kebanyakan orang berbicara tjut nyak dhien tidak berjilbab, dasarnya darimana? tentu mereka merujuk foto tjut nyak dalam uang Rp 10 rb diatas, pertanyaannya benarkah itu foto tjut nyak ? saya pribadi tidak yakin. terkait foto dengan belanda, dari beberapa referensi yang saya baca, justru tjut nyak dipaksa buka ija sawak (kain panjang warna hitam yang menutup kepala hingga terjulur kebawah) dan beliau tidak bisa berontak karena kondisinya sangat lemah.

    kemudian, bicara soal jilbab…definisi jilbab itu apa sih? banyak orang yang mengatakan jilbab itu adalah selembar kain yang menutup kepala. kalo bahasanya ihan, ija peut sagoe :D.
    padahal Allah jelas berfirman didalam Al Qur’an :
    “Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung (khimar) ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.’” (Qs An Nuur: 31)

    atau bisa dikatakan, jilbab adalah menggunakan pakaian yang longgar menutupi seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan, berbahan kain dan longgar, tidak ketat serta tidak berbentuk.

    kembali ke masalah tjut nyak, seorang hafidzah yang hafal Al Quran, mahir berbahasa Arab serta mengamalkan isi Al Quran dalam kehidupan sehari hari, tentu lebih paham bagaimana menggunakan pakaian yang syar’i.

    • arielkahhari 20/02/2014 at 14:27

      berarti kita satu hati :) hehheh

    • Artila.fauzi@gmail.com 21/02/2014 at 15:16

      izin komen foto sosok wanita yang tertunduk lemah dengan pakaian tertutup tanpa penutup kepala,
      maaf kalo komen saya lancang, saya melihat wanita tersebut terlihat lemah karena marah dan menangis tidak kuasa melawan sesuatu yang menurut dia tidak benar (bisa jadi karena dia dipaksa berfoto tanpa menggunakan penutup kepala, entah mungkin dia diancam atau bagaimana, yang jelas dia terduduk di kursi tersebut dengan keadaan seperti itu bukan atas keinginannya) rambutnya yang seperti tidak sempat disisir tidak sebanding dengan orang-orang di sampingnya yang terlihat lebih rapi dan siap untuk didokumentasikan.

  49. alaika 20/02/2014 at 10:57

    Sama dengan komentar Ihan, aku juga suka banget dg ulasan kamu ini Riel! Kereeen! Sepakat, sama sekali tak pantas menyetarakan Tjut Nyak Dhien dengan si pencari selempang, hanya untuk pembenaran diri. Setauku, di era Tjut Nyak ke bawah, cara menutup aurat [dalam hal ini rambut] para wanita Aceh adalah dengan menutup rambutnya pake kain batik panjang/selendang. Ditutup rapat hingga rambut dan leher tidak kelihatan sementara bagian dada memang menggunakan pakaian yang longgar hingga tidak membentuk lekuk tubuh. *Masih ingat cara nenek2/orang-orang tua jaman dulu di kampung2 kan? Begitu ada tamu, langsung ambil selendang/batik panjang, tutup kepala rapi baru hadapi tamu* Nah, itu artinya, wanita2 Aceh sudah menutup aurat sejak dahulu. :)

    Sebenarnya sih, masalah mengenakan hijab atau tidak, terpulang lagi ke pribadi masing2 wanitanya, tidak bisa kita paksa atau kita hujat, tapi merujuk ke Tjut Nyak Dhien itu lho! Bikin eneg! Siapa dia pake menyetarakan diri dg Tjut Nyak ya? :D

    • arielkahhari 20/02/2014 at 14:29

      terimakasih kak alaika sudah berkunjung dan meninggalkan komentar.. jangan jangan para pencari selempang juga berpikir jika Tjut Nyak juga pake kemben di depan serdadu belanda??? asemm

  50. Ihan 20/02/2014 at 10:46

    Ariel aku suka sekali dengan ulasanmu ini, terutama di ending tulisan. Benar sekali, perintah menutup aurat bagi perempuan kan turun pada masa Rasulullah, jauh sebelum kita mengenal Cut Nyak Dhien, mengapa beliau yang menjadi rujukan? Ini memang harus diperjelas, karena kita harus mengikuti agama Allah. Ini jadi pembenaran sebenarnya bagi orang-orang yang ingin memudahkan perkara syariah.

    • Ihan 20/02/2014 at 10:55

      aku nambahin lagi ya
      bahwa ‘jilbab’ itu cuma istilah saja, esensinya adalah menutup aurat, nah jaman dulu orang membalut dirinya dengan kain panjang alias ija patek panyang, jadi kalau dibilang Cut Nyak Dhien tidak memakai jilbab emang benar, karena kalau kita lihat pemahaman orang sekarang jilbab itu mengacu ke kain peut sagoe yang menutup kepala, seperti yang sering kupake itulah, jilbab paris, pertanyaannya apakah dengan memakai kain (jilbab) itu aurat sudah tertutup? begitu menurut hematku

      • arielkahhari 20/02/2014 at 14:30

        kalau mau tambahin jangan nanggung han, tambahin lagi dong komentarnya barang 3 lagi hehhe

  51. arielkahhari 20/02/2014 at 19:10

    jroeh… moga Allah geubri panyang umu ke geutanyoe bandum

Leave A Response