Tuesday 26th September 2017,
Arielogis

Cilet Coklat, Bukan Coklat Cilet-Cilet

Ariel Kahhari 10/01/2017 Uncategorized 1 Comment
Cilet Coklat, Bukan Coklat Cilet-Cilet

Turbulensi kuat membuat Riyadi terpaku. Ia pun memalingkan wajah ke arah jendela. Belum tampak lagi daratan Sulawesi apalagi tanah Makassar. Cuma ada awan putih yang membentang sepanjang mata memandang. Itu artinya saat mendarat belum lagi tiba. Riyadi kembali menarik nafas panjang saat badan pesawat kembali berguncang hebat. Bayangan tentang insiden tenggelamnya pesawat di perairan Kalimantan membuatnya semakin tidak nyaman. Untuk kali kesekian teman saya itu melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Jam pemberian istri saat milad tahun lalu. Keluargalah yang menjadi alasan Riyadi pulang kampung mengisi libur semesteran. Pesawat masih saja berguncang. Dipanggilnya pramugari yang kebetulan lewat. Riyadi minta dibuatkan secangkir coklat panas. Ia sadar perjalanannya dari Yogyakarta menuju Makassar akan terasa lebih lama.

Terbang dengan kondisi cuaca yang kurang bersahabat atau terjebak macet padahal sedang ingin cepat adalah beberapa alasan yang membuat seseorang didera stress berat. Namun coklat diyakini dapat meredam stress yang datang. Universitas California, Sandiego School of Medicine, Beatrice Golomb pernah melakukan penelitian dengan melibatkan sejumlah responden. Mereka yang dilibatkan adalah orang-orang yang mengalami tekanan (stress) dengan berbagai tingkatan. Ada yang ringan namun banyak pula yang mengalami depresi berat. Hasilnya menunjukkan jika coklat yang mereka konsumsi terbukti dapat membuat suasana hati lebih stabil. Hal ini disebabkan oleh molekul psikoaktif yang membuat penikmat coklat merasa lebih nyaman. Sejumlah kandungan yang ada di dalam coklat seperti caffeine, theobromine, methyl-xanthine dipercaya dapat memperbaiki mood yang terganggu hingga mengurangi kelelahan.

Di Indonesia, budidaya tanaman coklat dilakukan dengan serius. Bahkan melalui program Gerakan Nasional (Gernas) Kakao Pemerintah menargetkan dapat meningkatkan produksi coklat disejumlah daerah. Jika merujuk data yang dirilis oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember, Indonesia menempati urutan ketiga sebagai Negara produsen kakao terbesar di dunia. Produksi kakao Indonesia hanya terpaut dari Pantai Gading dan Ghana. Aceh sendiri memberi kontribusi hingga 4.8 persen secara nasional. Pengembangan kakao di Aceh banyak di dilakukan di kabupaten Pidie dan Pidie Jaya.

Pohon kakao dikelola secara serius di Aceh

Pohon kakao dikelola secara serius di Aceh

Namun sayang selama ini kakao Aceh banyak yang dijual dalam bentuk biji coklat. Tidak banyak industri yang bergerak pada olahan coklat agar meningkatkan nilai jual. Padahal biji coklat dapat diolah menjadi bubuk, selai, krim, hingga coklat batangan. Namun untuk mengolah itu semua tentu saja membutuhkan pabrik yang mumpuni. Pabrik olahan itulah yang belum banyak tersedia di Aceh. Kalaupun ada tentu masih berskala kecil atau rumah tangga.

Didi Nuril mencoba menjawab tantangan tersebut. Ia adalah anak muda Aceh yang selama dua tahun terakhir ini membuka bisnis yang diberi nama Cilet Coklat. Bisnis ini berdiri di Jalan Panglima Nyak Makam Banda Aceh, persisnya di Simpang BPKP. Gerai ini buka dari pukul sepuluh pagi hingga pukul sepuluh malam. Toko miliknya memang tidak begitu luas. Namun pernak-pernik coklat serta berbagai hiasan lainnya membuat gerai ini tampak mewah. Ada toples besar berisikan varian coklat. Sementara di dekat jendela kaca, tersusun dengan rapi bouquet bunga.

“Ini semua hasil karya bang Didi” Ujar salah seorang pekerja di gerai cilet coklat.

Darinya pula saya tau jika perputaran bisnis cilet coklat tidak main-main. Setiap bulannya omset yang didapat dapat mencapai 20 jura rupiah. Bahkan pendapatan bisnis ini pernah menyentuh level 40 juta rupiah. Tapi bisnis ini memang sangat tergantung moment. Bila musim wisuda tiba, Didi biasanya kebanjiran job. Coklat praline adalah salah satu jenis coklat yanhg paling sering dipesan. Coklat praline adalah jenis coklat yang dapat dibentuk baik berupa huruf, angka dan lainnya.

20170109_182225-01

Bouquet bunga yang laris manis saat musim wisuda

20170109_182212-01

Didi pinter juga ya buat yang beginian :)

20170109_182114-01

Cilet Coklat juga jual manisan

20170109_181656-01

Mau coklat dengan beragam varian juga ada

20170109_181637-01

Gerai cilet coklat boleh kecil tapi mewah kan

Usaha Didi untuk memperkenalkan produknya ke publik memang patut diancungi jempol. Pernah suatu hari ia sengaja duduk di lobi sebuah hotel ternama di Banda Aceh. Tujuannya cuma satu, menunggu artis ibukota Tomi Kurniawan. Mereka tidak saling kenal. Didi juga tidak melakukan janji sebelumnya. Ia hanya nekad, menunggu Tomi keluar dari lift lalu melintas di bagian depan lobi hotel. Setelah menunggu 30 menit, ternyata rencananya berhasil. Saat Tomy Kurniawan tiba langsung saja didekatinya. Didi memperkenalkan diri dengan baik. Untuk urusan ini, ia memang cakap.  Pengalamannya sebagai Manejer di sebuah Baitul Qiradh membuatkan pintar dalam menyusun kata.

“Ini Cilet Coklat” Kata Didi kepada Tomy

Tujuan awal Didi sebenarnya hanya meminta foto yang nantinya akan menjadi dokumentasi perusahaan. Namun ternyata bukan hanya foto yang diperolehnya tapi juga orderan coklat untuk dibawa ke Jakarta. Selain menunggu peruntungan bertemu artis, Didi juga mempromosikan produknya ke sejumlah media termasuk media sosial. Semangat Didi dalam membangun bisnis cilet coklat ini memang beranjak dari sebuah kesadaran. Jika dirinya sedang berhadapan dengan competitor yang jauh lebih besar baik secara capital maupun jaringan. Namun bisnis adalah salah satu usaha untuk menjemput rezeki yang sudah ditetapkan. Tinggal lagi bagaimana meracik ikhtiar dengan manis, semanis potongan cilet coklat.

***







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

1 Comment

  1. Azhar Ilyas 10/01/2017 at 04:36

    Inspiratif banget dengar kisah sukses anak muda dari negeri sendiri. Berwirausaha butuh keberanian karena belum membudaya. Berani tampil beda dan berani gagal untuk bawa perubahan buat orang terkasih dan masyarakat sekitar. Nice story.

Leave A Response