Saturday 18th November 2017,
Arielogis

Catatan Hati Seorang Perantau (Lebaran Seorang Diri)

Ariel Kahhari 04/10/2014 Keluargaku 17 Comments

Terkadang untuk bisa mengerti dan memahami tentang perasaan seseorang maka yang diperlukan adalah berada di posisi yang sama dengan orang tersebut. Dulu aku ngak ngerti kenapa abangku bisa terpaku, diam lalu menangis saat melihat anak-anaknya berada di depan layar monitor. Sebagai karyawan sebuah bank ia pernah ditugaskan ke Madinah. Hampir dua tahun ia disana. Sesekali pulang melihat anak dan istri yang tetap berada di Banda Aceh. Selama di Arab, mereka biasa berkomunikasi melalui skype. Tapi menurut kakak iparku, tiap kali skype abangku kerap terdiam bahkan tak jarang menitikkan air mata.  Dulu aku ngak ngerti kenapa abangku bisa menangis. Namun kini aku memahaminya setelah merasakannya langsung. Ini adalah sebuah kerinduan seorang Ayah yang sulit terbendung. Lebay..? terserah orang mau bilang apa.

Begitu juga ketika aku membaca kicauan teman-teman ku di media sosial yang tengah melanjutkan sekolah di luar negeri. Bagaimana mereka tiba-tiba mendadak galau ketika harus bermimpi bisa menikmati sedapnya masakan sie reuboh saat meugang tiba. Dulu aku juga tidak faham mengapa mereka bisa begitu sentimentil. Namun kini aku juga telah memahaminya.

Sejak 18 Agustus 2014 aku memutuskan untuk hijrah. Meninggalkan comfort zone yang aku jalani selama ini. Di saat seharusnya aku bisa tetap bertahan dan menikmatinya bersama keluarga kecilku, aku memilih untuk pergi. Melanjutkan pendidikan ke tanah Jawa. Berpisah dengan keluarga untuk sementara. Memang jarak antara Aceh dan Yogyakarta tidak terlalu jauh. Hanya empat jam untuk terbang dari Kota Serambi Mekkah ke Negeri Keraton tempat sang Sultan berada.

Lazimnya setiap pertemuan ada perpisahan begitupula setiap kepergian selalu saja ada kepulangan. Dan hari raya sebenarnya merupakan kesempatan bagi siapa saja untuk kembali pulang. Berkumpul bersama keluarga. Bersilaturahim, bercerita banyak kisah sesekali diiringi gelak tawa. Sepertinya hal ideal tersebut mudah untuk dilakukan. Ternyata tidak. Buktinya aku tak kuasa untuk mewujudkannya. Alasannya simple sekali. Aku tidak diberi banyak waktu. Aku berlebaran pada hari sabtu lalu pada hari senin aku harus kembali disibukkan dengan aktifitas kampus yang semakin hari semakin menyita waktu dan juga energi. Hampir mustahil rasanya aku berada di Banda Aceh untuk dua tiga hari saja. Setelah itu kembali terbang ke Yogyakarta.

Dalam hitungan matematisku yang kini mendadak hemat, ongkos pesawat pulang pergi Aceh menuju Yogya bukanlah harga yang murah. Setidaknya membutuhkan tiga hingga empat juta rupiah. Itupun dengan pesawat yang terkenal dengan delaynya. Jika mau naik pesawat kelas premium aku harus merogoh kocek lebih dalam. Sebab itulah aku memilih untuk berlebaran di negeri orang. Meski harus dilakukan dengan rasa terpaksa.

IMG20141004064424

IMG20141004071634

Semua menjadi berat sebab ini adalah kali pertama aku berlebaran jauh dari keluarga. Sudah setua ini baru kali ini aku menjadi perantau. Sebelumnya aku bersekolah dan bekerja di wilayah yang sama dengan keluargaku. Banyak waktu yang kuhabiskan bersama orang-orang tercinta. Termasuk di hari raya.

Namun lebaran kali ini jelas berbeda. Hari meugang tahun ini kulalui dengan begitu saja. Meugang atau menyantap daging bersama keluarga adalah budaya masyarakat Aceh dalam menyambut hari besar seperti Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha. Biasanya pada hari meugang harga daging naik drastis. Perkilo nya bisa menembus angka 150 ribu rupiah. Meski mahal namun tetap saja daging laris manis terjual di pasaran. Di keluargaku, jika meugang tiba ada beberapa masakan yang sering dihidangkan. Ibuku lebih memilih membuat sie reuboh. Makanan khas Aceh besar yang rasanya mak nyus. Apalagi jika dimakan saat sudah dipanaskan berkali kali lalu di santap dengan nasi panas dan sedikit garam. Sedangkan istriku lebih senang membuat sate bumbu kacang. Ini adalah makanan favoritku. Biasanya aku mendapat porsi yang lebih besar dari pada yang lainnya.  Tapi kali ini meugang terasa tidak istimewa. Tidak ada daging, tidak ada sate bumbu kacang dan sie reuboh. Namun untuk menghibur diri aku memilih untuk membeli nasi rendang yang dijual di salah satu rumah makan minang yang berada dekat kost an.

rendang

Sama seperti hari meugang, hari lebaran kali ini juga terasa biasa. Jika habis pulang dari shalat ied, makanan enak sudah tersaji di atas meja. Lontong sayur, rendang, perkedel dan segala pernak pernik pelengkap. Tapi kali ini habis shalat ied aku langsung masuk ke dalam kamar. Membersihkan kamar dan mencuci piring bekas semalam yang belum sempat ku sentuh. Setelah itu aku menikmati segelas teh hangat sambil menonton tv. Sesekali aku mengunyah cookies yang kubeli beberapa hari sebelum lebaran. Cookies ini sengaja ku beli karena sedang discount 50 persen.

Meski jauh dari keluarga aku tetap bersyukur. Sebab pada lebaran ini aku masih bisa membelikan baju baru buat putriku Shumaila. Aku mengirimkan paket tersebut beberapa hari menjelang lebaran. Aku ingin putriku tetap merasakan kehadiran Ayahnya meski secara fisik aku tidak ada disebelahnya.  Saat paket yang ku kirim tiba di Banda Aceh, istriku segera mengirimkan beberapa gambar saat putriku mengenakan baju baru tersebut. Ada rasa bangga ketika Shumaila mengenakan baju itu di padukan dengan gaya nya yang centil. Ya kata istriku sekarang Shumaila punya hobi baru. Ia suka menggambar, memotret orang dan tentu saja dipotret. Shumaila kayak ayahnya kata orang-orang saat melihat tingkah polah nya.

Namun di sisi lain aku juga merasa sedih, seharusya pakaian itu bisa aku pakaikan langsung ketubuh mungilnya. Sambil sesekali menggelitiknya. Shumaila paling suka digelitik. Bahkan terkadang ia suka tertawa geli sambil memintaku tidak lagi mengganggunya. Tapi ya apa boleh buat. Aku hanya bisa memandangnya dari foto yang dikirimkan istriku melalui handphonenya.

Shumaila sedang beraksi

Shumaila sedang beraksi

Lebaran kali ini memang jauh berbeda. Tidak hanya aku. Beberapa teman yang juga tidak bisa mudik juga merasakan hal yang sama. Ada teman yang usai shalat ied memilih untuk tidur lagi. Ada pula yang segera mencuci pakaian yang mulai menggunung. Kata temanku awalnya akan terasa berat namun nanti aku akan terbiasa. Entahlah. Tetapi berlebaran seorang diri itu tidak menyenangkan. Tapi apa mau dikata aku telah memilih jalan ini. Jalan hijrah, yang kata orang di dalamnya terdapat banyak pintu hikmah.

***

Yogya, Sabtu 04102014

Lebaran idul adha







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

17 Comments

  1. Riska Dian 10/10/2014 at 18:58

    Akhirnya ninggalin jejak disini..pertanyaan saya mas.. cookies yg diskon 50% itu beli dimana yaa? :))

  2. Hijrah Saputra 06/10/2014 at 20:27

    Jeh, qe kok ngambil jalan aku pulak, terus aku pake jalan siapa?

  3. helmkoening 06/10/2014 at 11:37

    Gak bisa ku reblog kok?

    • arielkahhari 06/10/2014 at 11:41

      Iya soalnya qe jarang nulis, kalau pun nulis pasti kurang bagus.makanya ngak bisa reblog Hahha

  4. Haya 06/10/2014 at 01:47

    Selamat Idul Adha.. megang di Aceh itu memang paling heboh ya :D Suka lihat gaya Shumaila ^^d

  5. buzzerbeezz 05/10/2014 at 12:27

    Lebaran di perantauan? Aku udah sering Bang. Hueehehehee..
    Walaupun tidak bisa berkumpul keluarga, semoga idul adha kali ini berkah ya Bang :)

    • arielkahhari 05/10/2014 at 19:48

      Hahha… Iya . Kamu kemari dong Ri..

      • buzzerbeezz 05/10/2014 at 19:53

        Nanti deh bang kalau libur kami tak liburan ke Jogja :D

        • arielkahhari 06/10/2014 at 05:01

          Kalau kemari jangan lupa hadiah kemaren di bawa. Mau beli daging hehehe

          • buzzerbeezz 08/10/2014 at 10:18

            Hahahaha.. Belum dikasih hai bang hadiahnya :D

  6. Muna 04/10/2014 at 22:34

    Addduh Ariel (baca-bang Ariel), aku selaku isteri kamu (hahaha) nangis baca tulisan ini. Dan shumaila jugaaaa menanyakan keberadaan ayahnya…”
    Btw, Itulah mengapa aku bilang bang, ternyata ketika seseorang menulis sesuatu, itu kelihatannya lebih jujur ketimbang saat dia berkata-kata dengan lidahnya.
    Ini curhatnya beneran serius bang?

    • arielkahhari 05/10/2014 at 05:14

      Iya serius.. Cuma nanti catatan ini akan bernilai beda ketika kondisi nya berubah. Atau jangan jangan malah masuk dalam buku abang nanti Hahha

  7. Cut Isyana 04/10/2014 at 21:45

    Selamat ya Bang akhirnya merasakan indahnya lebaran di rantau juga hahaha.
    Aku 2 kali lebaran adha dan fitri di negara nun jauh disana dan rasanya perih banget ngeliat foto keluarga dan makanan lebaran.. tapi alhamdulillah sekarang udah di rumah sendiri. Semangat Bang!
    *lanjut ngunyah opor*

    • arielkahhari 04/10/2014 at 22:07

      Hahaha makasih… tulang nya jangan ikut dimakan ya

Leave A Response

Click here to cancel reply.