Terkadang untuk bisa mengerti dan memahami tentang perasaan seseorang maka yang diperlukan adalah berada di posisi yang sama dengan orang tersebut. Dulu aku ngak ngerti kenapa abangku bisa terpaku, diam lalu menangis saat melihat anak-anaknya berada di depan layar monitor. Sebagai karyawan sebuah bank ia pernah ditugaskan ke Madinah. Hampir dua tahun ia disana. Sesekali pulang melihat anak dan istri yang tetap berada di Banda Aceh. Selama di Arab, mereka biasa berkomunikasi melalui skype. Tapi menurut kakak iparku, tiap kali skype abangku kerap terdiam bahkan tak jarang menitikkan air mata.  Dulu aku ngak ngerti kenapa abangku bisa menangis. Namun kini aku memahaminya setelah merasakannya langsung. Ini adalah sebuah kerinduan seorang Ayah yang sulit terbendung. Lebay..? terserah orang mau bilang apa.

Begitu juga ketika aku membaca kicauan teman-teman ku di media sosial yang tengah melanjutkan sekolah di luar negeri. Bagaimana mereka tiba-tiba mendadak galau ketika harus bermimpi bisa menikmati sedapnya masakan sie reuboh saat meugang tiba. Dulu aku juga tidak faham mengapa mereka bisa begitu sentimentil. Namun kini aku juga telah memahaminya.

Sejak 18 Agustus 2014 aku memutuskan untuk hijrah. Meninggalkan comfort zone yang aku jalani selama ini. Di saat seharusnya aku bisa tetap bertahan dan menikmatinya bersama keluarga kecilku, aku memilih untuk pergi. Melanjutkan pendidikan ke tanah Jawa. Berpisah dengan keluarga untuk sementara. Memang jarak antara Aceh dan Yogyakarta tidak terlalu jauh. Hanya empat jam untuk terbang dari Kota Serambi Mekkah ke Negeri Keraton tempat sang Sultan berada.

Lazimnya setiap pertemuan ada perpisahan begitupula setiap kepergian selalu saja ada kepulangan. Dan hari raya sebenarnya merupakan kesempatan bagi siapa saja untuk kembali pulang. Berkumpul bersama keluarga. Bersilaturahim, bercerita banyak kisah sesekali diiringi gelak tawa. Sepertinya hal ideal tersebut mudah untuk dilakukan. Ternyata tidak. Buktinya aku tak kuasa untuk mewujudkannya. Alasannya simple sekali. Aku tidak diberi banyak waktu. Aku berlebaran pada hari sabtu lalu pada hari senin aku harus kembali disibukkan dengan aktifitas kampus yang semakin hari semakin menyita waktu dan juga energi. Hampir mustahil rasanya aku berada di Banda Aceh untuk dua tiga hari saja. Setelah itu kembali terbang ke Yogyakarta.

Dalam hitungan matematisku yang kini mendadak hemat, ongkos pesawat pulang pergi Aceh menuju Yogya bukanlah harga yang murah. Setidaknya membutuhkan tiga hingga empat juta rupiah. Itupun dengan pesawat yang terkenal dengan delaynya. Jika mau naik pesawat kelas premium aku harus merogoh kocek lebih dalam. Sebab itulah aku memilih untuk berlebaran di negeri orang. Meski harus dilakukan dengan rasa terpaksa.

IMG20141004064424

IMG20141004071634

Semua menjadi berat sebab ini adalah kali pertama aku berlebaran jauh dari keluarga. Sudah setua ini baru kali ini aku menjadi perantau. Sebelumnya aku bersekolah dan bekerja di wilayah yang sama dengan keluargaku. Banyak waktu yang kuhabiskan bersama orang-orang tercinta. Termasuk di hari raya.

Namun lebaran kali ini jelas berbeda. Hari meugang tahun ini kulalui dengan begitu saja. Meugang atau menyantap daging bersama keluarga adalah budaya masyarakat Aceh dalam menyambut hari besar seperti Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha. Biasanya pada hari meugang harga daging naik drastis. Perkilo nya bisa menembus angka 150 ribu rupiah. Meski mahal namun tetap saja daging laris manis terjual di pasaran. Di keluargaku, jika meugang tiba ada beberapa masakan yang sering dihidangkan. Ibuku lebih memilih membuat sie reuboh. Makanan khas Aceh besar yang rasanya mak nyus. Apalagi jika dimakan saat sudah dipanaskan berkali kali lalu di santap dengan nasi panas dan sedikit garam. Sedangkan istriku lebih senang membuat sate bumbu kacang. Ini adalah makanan favoritku. Biasanya aku mendapat porsi yang lebih besar dari pada yang lainnya.  Tapi kali ini meugang terasa tidak istimewa. Tidak ada daging, tidak ada sate bumbu kacang dan sie reuboh. Namun untuk menghibur diri aku memilih untuk membeli nasi rendang yang dijual di salah satu rumah makan minang yang berada dekat kost an.

rendang

Sama seperti hari meugang, hari lebaran kali ini juga terasa biasa. Jika habis pulang dari shalat ied, makanan enak sudah tersaji di atas meja. Lontong sayur, rendang, perkedel dan segala pernak pernik pelengkap. Tapi kali ini habis shalat ied aku langsung masuk ke dalam kamar. Membersihkan kamar dan mencuci piring bekas semalam yang belum sempat ku sentuh. Setelah itu aku menikmati segelas teh hangat sambil menonton tv. Sesekali aku mengunyah cookies yang kubeli beberapa hari sebelum lebaran. Cookies ini sengaja ku beli karena sedang discount 50 persen.

Meski jauh dari keluarga aku tetap bersyukur. Sebab pada lebaran ini aku masih bisa membelikan baju baru buat putriku Shumaila. Aku mengirimkan paket tersebut beberapa hari menjelang lebaran. Aku ingin putriku tetap merasakan kehadiran Ayahnya meski secara fisik aku tidak ada disebelahnya.  Saat paket yang ku kirim tiba di Banda Aceh, istriku segera mengirimkan beberapa gambar saat putriku mengenakan baju baru tersebut. Ada rasa bangga ketika Shumaila mengenakan baju itu di padukan dengan gaya nya yang centil. Ya kata istriku sekarang Shumaila punya hobi baru. Ia suka menggambar, memotret orang dan tentu saja dipotret. Shumaila kayak ayahnya kata orang-orang saat melihat tingkah polah nya.

Namun di sisi lain aku juga merasa sedih, seharusya pakaian itu bisa aku pakaikan langsung ketubuh mungilnya. Sambil sesekali menggelitiknya. Shumaila paling suka digelitik. Bahkan terkadang ia suka tertawa geli sambil memintaku tidak lagi mengganggunya. Tapi ya apa boleh buat. Aku hanya bisa memandangnya dari foto yang dikirimkan istriku melalui handphonenya.

Shumaila sedang beraksi
Shumaila sedang beraksi

Lebaran kali ini memang jauh berbeda. Tidak hanya aku. Beberapa teman yang juga tidak bisa mudik juga merasakan hal yang sama. Ada teman yang usai shalat ied memilih untuk tidur lagi. Ada pula yang segera mencuci pakaian yang mulai menggunung. Kata temanku awalnya akan terasa berat namun nanti aku akan terbiasa. Entahlah. Tetapi berlebaran seorang diri itu tidak menyenangkan. Tapi apa mau dikata aku telah memilih jalan ini. Jalan hijrah, yang kata orang di dalamnya terdapat banyak pintu hikmah.

***

Yogya, Sabtu 04102014

Lebaran idul adha