Tuesday 26th September 2017,
Arielogis

Benteng Vredeburg, Wisata Populer di Jogjakarta

Ariel Kahhari 16/01/2016 Melintas Batas 6 Comments
Benteng Vredeburg, Wisata Populer di Jogjakarta

Setahun lebih tinggal di Jogja, beberapa kali hilir mudik di pusat kota, baru sekarang saya dapat menjejakkan kaki di Vredeburg. Komplek museum yang berada di jalanan Malioboro ini menyajikan ragam catatan tentang perjalanan Indonesia. Untuk masuk ke dalam komplek cukup membeli tiket seharga 2000 rupiah saja. Harga ini sama dengan ongkos parkir motor yang berada di luar komplek museum lebih tepatnya di sebelah kiri pintu gerbang. Cukup murah memang untuk kondisi museum yang tertata rapi apalagi jika dibandingkan dengan Monumen Jogja kembali.

Vredeburg yang dibangun sejak 1767 awalnya merupakan pusat pemerintahan dan pertahanan residen Belanda. Komplek ini memiliki halaman luas. Saat saya datang langit sedang cerah. Sehingga perpaduan hijau rumput dengan langit biru benar-benar menakjubkan. Meski hari tengah panas namun tidak menyurutkan langkah para pengunjung. Mereka yang datang kebanyakan memanfaatkan lokasi tersebut sebagai area dokumentasi. Bahkan saya sempat menyapa dua remaja yang tengah berfoto berlatar jendela salah satu bangunan museum yang agak klasik. Dua remaja berhijab modis tersebut saya sapa sebagai Fatin. Mereka kaget meski tidak dapat menutupi rawut gembira.

Tetapi banyak juga yang salah kaprah saat meluapkan ekspresi. Seperti menaiki meriam yang jelas-jelas tertulis “dilarang memanjat”. Makin dilarang makin gila rupanya. Belum lagi aksi vandalisme yang mencorat coret dinding. Ini saya temukan di bangunan sebelah timur museum. Seperti lazimnya vandalisme kacangan ala wc sekolahan, mereka menulis dua nama yang dibubuhi tanda “love”. Budaya merusak yang seharusnya sudah ditinggalkan sejak lama.

2016-01-16 10.10.37

Pintu masuk Museum yang diambil dari dalam komplek.

2016-01-16 10.11.08

Salah satu bangunan dalam komplek Museum Vredeburg

2016-01-16 10.11.43

Hijau dan rindangnya komplek Museum Vredeburg

Vredeburg punya beberapa bangunan yang dilengkapi diorama. Menyusuri setiap ruangannya seperti diajak pulang belasan bahkan puluhan tahun silam. Apa yang disajikan adalah sesuatu yang saya, anda dan kita pelajari saat duduk di bangku sekolah dulu. Penjajahan Belanda, Jepang dengan romusanya Kongres Perempuan Indonesia Pertama, Sumpah Pemuda, Jendral Sudirman dan tentu saja Presiden Soekarno dan Hatta. Verdeburg benar-benar menguliti Indonesia.

Saya sengaja memilih padanan kata “menguliti” sebab Verdeburg memang menyajikan informasi tentang Bangsa ini dengan begitu rinci. Menguliti bermakna membuka lapis demi lapis hingga akhirnya terkelupas habis. Saya semakin yakin bahwa negara ini dibangun dengan amat sulit. Antara jadi tidak jadi. Merdeka atau akan terus dijajah. Sebab setelah deklarasi kemerdekaan pun ternyata masih banyak masalah yang datang bergelombang. Beruntung para pendahulu dapat menyelesaikannya. Lantas saya berpikir dan berkaca dengan kondisi saat ini. Kalau orang-orang terdahulu diberi kesempatan hidup kembali apa reaksi mereka saat melihat Indonesia. Sedih, kecewa atau sebaliknya, bangga karena banyak gedung tinggi meski ada pencuri dan rampok di sana sini. Entahlah.

Hanya khawatir saja. Jangan-jangan karena ulah segelintir, bangsa ini hanya tinggal nama. Takutnya pada masa depan akan hadir “Vredeburg” bentuk lain yang berkisah bagaimana negara ini akhirnya tak bisa lagi diselamatkan. Tiang bendera tidak lagi mengibarkan kain dua warna atau Indonesia akan masuk dalam diorama sebagai Negara yang pernah ada di dunia. Selalu ada peluang untuk setiap kemungkinan.

***

Yogya, Sabtu16-1-2016







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

6 Comments

  1. Fe Angka 27/04/2016 at 06:09

    halooo Ariel, sekarang di Jogya ya? Kapan ke jakarta..

    • Ariel Kahhari 03/05/2016 at 05:58

      Hallloooo mbak… apa kabar lamo tak basuo hehhe. Aq sekarang udah balik lagi ke Aceh. soalnya sekolahnya udah kelar

  2. Alaika 16/01/2016 at 13:22

    Hm, tulisan ini mengundang saya untuk noted museum ini sbg salah satu destinasi tujuan kalo ntar ke Yogya, ah!

    Keren tulisannya ini, Riel, as usual. TFS.

    • Ariel Kahhari 16/01/2016 at 13:34

      Wah dikomentari kak Alaika… tq kak beuh sudah berkunjung

  3. Aci 16/01/2016 at 07:04

    Informatif banget/……………

Leave A Response