Tuesday 26th September 2017,
Arielogis

Banda Aceh Masuk Akal dan Rencana Jam Malam

Ariel Kahhari 31/05/2015 Suara Langit 6 Comments
Banda Aceh Masuk Akal dan Rencana Jam Malam

Saya sengaja memilih judul di atas. Sebab ketika saya menulis tulisan ini, judul di atas tengah menjadi salah satu hastaq di twitter yang sempat menjadi trending topic nasional (#BandaAcehMasukAkal). Semuanya berawal dari rencana pemerintah kota tentang pemberlakuan jam malam bagi perempuan. Ide ini dianggap tidak masuk akal di tengah deretan persoalan Banda Aceh yang belum juga berhasil diselesaikan.  Netizenpun meradang.

Dalam kicauannya mereka menyoroti banyak persoalan Banda Aceh yang seharusnya menjadi prioritas utama untuk diselesaikan. Mulai dari krisis air bersih, penerangan jalan, kemacetan, masalah sampah, kemiskinan, parkir liar hingga public transport. Meski harus diakui beberapa kicauan tampaknya tidak lagi relevan. Seperti salah satu netizen yang mempersoalkan letak dua pasar megah yang berada dekat dengan dua mesjid besar. Pemadaman listrik yang jelas-jelas bukan ranahnya pemko atau kicauan yang mempertanyakan mengapa hanya untuk acara zikir, pemko harus mengundang Ustad dari Jakarta, apakah Ustad dari Aceh tidak lagi mumpuni. Untuk masalah terakhir saya tidak tau netizen tersebut mengikuti zikir yang mana.

Harus diakui Banda Aceh termasuk salah satu daerah yang pertumbuhannya terus menggeliat. Memang tidak semaju kota besar lain di Indonesia. Tapi satu langkah lebih maju dari kondisi sebelumnya dan beberapa langkah dari kabupaten kota lain di Aceh. Pasca tsunami dan konflik, wajah Banda Aceh terus berbenah. Hotel semakin banyak didirikan, warung kopi terus menjamur, cafe dan tempat karoke juga tak kalah banyaknya. Akibatnya malam-malam kota Banda Aceh yang dulunya sepi kini semakin ramai. Jika saat konflik batas waktu keluar rumah adalah pada saat magrib maka kini geliat kehidupan malam Banda Aceh terus menyala hingga menjelang pagi. Salah satu dampaknya adalah budaya dan kebiasaan yang bergeser atau semakin terkikis.

Misalnya keikutsertaan perempuan duduk di warung kopi yang dulu tidak pernah terjadi (jarang dilakukan). Budaya ngopi atau kongkow yang tak mengenal waktu yang kini juga semakin digemari oleh kaum perempuan. Atau realita lain yang tidak dapat ditampik tentang perokok perempuan yang menghiasi beberapa sudut cafe. Fakta ini dianggap mencedrai keacehan. Tradisi Aceh yang dipahami memang tidak terlalu mengakomodir aktifitas perempuan pada malam hari di luar rumah. Beranjak dari kondisi inilah gagasan pemberlakuan jam malam didengungkan.

Saya punya cerita. Suatu malam seusai berolahraga saya berhenti di salah satu gerobak yang menjual burger di kawasan Lamprit. Saat itu waktu sudah mendekati pukul 12 malam. Saat saya melihat daftar menu saya kaget karena di deretan bangku dengan pencahayaan temaram ada tiga orang anak yang tengah menyantap burger sambil sesekali berbincang. Dua perempuan dan satu laki laki. Dari penampilannya mereka termasuk anak gaol di sekolahan. Sementara dari postur saya perkirakan jika mereka masih duduk di kelas dua atau tiga smp. Pandangan coba saya kitari ke beberapa sudut. Untuk memastikan apakah mereka pergi bersama keluarga.

“Mereka cuma bertiga bang. Duduk dari tadi ngak pulang-pulang” kata salah seorang penjual.

“Kenapa ngak ditegur atau setidaknya ditanya kenapa belum pulang” tanya saya

“Ngak berani bang, kami kan cuma jualan.”

Tidak tinggal diam saya pun melihat mereka dengan pandangan agak tajam. Saya tunggu beberapa saat sebelum harus mendekati dan menegur mereka. Ternyata sadar diperhatikan merekapun pulang. Saya berpikir ini anak siapa, dimana orang tuanya. Kenapa anak gadis dan laki laki yang tengah tumbuh dibiarkan berada di luar rumah hingga selarut ini.

Pemandangan Banda Aceh pada malam hari dari sisi Krueng Aceh (taken from tumblr)

Pemandangan Banda Aceh pada malam hari dari sisi Krueng Aceh (taken from tumblr)

Cerita di atas adalah satu fenomena yang kini telah terjadi dan mulai mewabah di Banda Aceh. Orang tua acuh dan kontrol sosial yang semakin hilang.  Lalu perlukah jam malam itu diberlakukan. Saya menjawab perlu!!

Alasannya adalah sejak lama masyarakat Aceh terbiasa menghabiskan waktu malamnya di rumah. Sebelum magrib semua sudah harus berada di dalam rumah. Waktu dihabiskan dengan shalat berjamaah, ngaji bersama, makan malam dan berbincang. Saya memahaminya sebab setidaknya ini yang berlaku ketat dalam keluarga saya.

Berkumpul bersama keluarga saat malam hari memiliki dampak yang besar. Disinilah kesempatan orang tua mendengar cerita si anak. Apa saja aktifitas yang mereka lakukan sepanjang hari hingga masalah apa yang tengah mereka hadapi. Berkumpul bersama adalah kesempatan bagi orang tua untuk memberikan nasehat dan petuah.

Selain itu bukankah jika malam tiba, rumah adalah tempat yang paling aman. Harus diakui malam hari adalah waktu yang paling rentan terhadap keselamatan. Oleh sebab itu mengapa dalam konteks agama, perempuan yang hendak  berpergian harus selalu ditemani oleh mahramnya. Agar si perempuan terus berada dalam pengawasan dan perlindungan. Ini sekaligus menujukkan bagaimana perempuan dalam pandangan Islam adalah makhluk terhormat dan berderajat tinggi hingga harus di kawal dan dilindungi! Namun faktanya banyak perempuan yang lebih suka pergi sendirian hingga larut malam. Padahal ini sangat berbahaya.

Tetapi andai saja peraturan ini tetap diterapkan maka saya ingin menyampaikan beberapa masukan. Menurut hemat saya, aturan ini tidak boleh hanya menyasar perempuan sebagai objek. Sebab hal tersebut akan dapat diterjemahkan secara bebas tanpa batas. Hingga kemudian sebagian menganggap perempuan adalah sumber masalah sehingga harus “dikurung” di dalam rumah.

Oleh karena itu aturan ini harus juga diberlakukan bagi laki laki khususnya mereka yang masih bersekolah. Cafe, warkop, warnet atau apapun jenis tempat yang biasa digunakan untuk berkumpul harus memiliki aturat ketat. Pelayanan bagi pelajar tidak boleh dilakukan di atas jam 10 malam. Sebab seharusnya di jam tersebut mereka sudah berada di rumah. Tidur nyenyak agar besok pagi tidak terlambat bangun untuk bersekolah.

Selain itu melihat pentingnya berkumpul bersama, maka pemberlakuan jam malam juga sepatutnya diberlakukan kepada orang tua khususnya Ayah. Ayah juga harus faham jika keberadaannya di tengah keluarga menjadi penting. Ayah adalah simbol pelindung dalam keluarga. Bagaimana bisa seorang Ayah berjaga di warung kopi hingga larut malam hanya sekedar menikmati segelas kopi atau bahkan hanya sekedar main batu. Ayah harus memahami jika malam hari adalah waktu baginya berada di rumah sebab di sana ada anak-anak dan istri yang menunggu untuk diperhatikan dan dilindungi. Jika saat pagi semua berpisah untuk berangkat ke sekolah, kantor atau tempat usaha, maka malam hari adalah saat tepat untuk berkumpul. Lalu kalau sang Ayah menghilang dan kembali saat menjelang pagi dimana teladan yang ingin ditunjukkan.

Tak bisa ditampik sekeras apapun upaya pemberlakuan jam malam maka ini akan tetap sia-sia jika tidak didukung oleh orang tua. Harus diakui jika orang tua lah yang memiliki wewenang penuh dalam mengontrol anak-anaknya. Mereka harus resah ketika saat magrib tiba anak-anak belum berada di dalam rumah. Bahkan orang tua juga harus menolak jika anak gadisnya dijemput seorang pria “asing”. Karena banyak juga orang tua yang santai dengan masalah ini pada awalnya lalu panik ketika anak gadisnya tidak pernah kembali.

Lalu bagaimana dengan mereka yang jauh dari keluarga dan orang tua. Maka siapapun yang menampung mereka juga harus bertanggung jawab termasuk pemilik kost. Mereka yang berbisnis rumah kost tidak bisa lagi hanya berorientasi pada “peng tameung” alias duit masuk. Gampong harus memiliki produk hukum (reusam) yang mengatur masalah rumah kost. Harus diakui banyak rumah kost yang hanya didatangi pemilik saat jatuh tempo. Rumah kost tidak dikontrol dan diawasi sehingga kerap dijadikan tempat mesum.

Kalau kemudian semua pihak terlibat serta berjalan dengan baik maka pemerintah tidak perlu repot –repot menggelar razia. Sebab di jam malam tersebut tidak ada lagi hal-hal yang patut dikhawatirkan. Dengan demikian Pemerintah punya banyak waktu dan kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan lain. Seperti masalah distribusi air bersih yang hingga kini belum juga selesai, penyediaan ruang terbuka hijau yang masih sangat terbatas, jalan mulus, kota bebas banjir, kota bersih dari sampah dan pekerjaan lain yang masih harus diburu untuk diselesaikan. Hingga semuanya akan bermuara pada kondisi Banda Aceh yang lebih Masuk Akal.

 ***

 Yogya, 31052015

 

 

 







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

6 Comments

  1. hayatullah pasee 06/06/2015 at 08:48

    Pada dasarnya mereka itu para haters Illiza. So, apapun yg dilakukannya walaupin itu benar tetap saja salah.. coba tanya sama haters kalau anak prenpuan mereka sampe jam 2 malam di warkop atauk adik mereka diboncengin laki2 sampe jam 12 malam, rela tidak..? Children diare (aneuk manyak ciret)

  2. dony prasetyo 04/06/2015 at 12:34

    Insya allah tulisannya bermanfaat pak…
    semoga banda aceh benar benar menjadi world tourism islamic yang menjadi contoh bagi kota lain :)

  3. Arel Ahyaro 01/06/2015 at 02:51

    Pemberlakuan jam malam itu emang abu-abu menurut aku, bagaimana dengan mereka yang bekerja? Bagaimana dengan mereka yang memiliki usaha? Atau bagaimana dengan Dokter-Dokter / Perawat wanita yang bekerja sampai malam?

    Kontrol orang tua dan pemilik kost emang lebih harus ditingkatkan. Kalo di rumah ku, biasanya jam 10 udah kunci pagar.

    Tapi, pemberlakuan jam malam bagi perempuan ini menurut aku agak kurang Adil, karena bisa dianggap perempuan dan selangkangannya adalah sumber masalah. Padahal, belum tentu mereka membuat masalah.

    Pernah baca soal keluarga kerajaan Arab bikin private sex party?? Aku pernah baca artikelnya, dan sangat-sangat mencengangkan.

    Bila semua dibatasi secara ketat, maka percayalah ekonomi Aceh terutama Banda Aceh akan mengalami gejolak.

    Ariel bisa liat sendiri kalo tiap weekend itu berapa banyak orang Aceh ke Medan? Berapa banyak PAD kita hilang karena merasa di Aceh kurang hiburan?

    Banyak orang yang bisa menerima hiburan secara sopan, namun biasanya ada yang dirusak oleh anak Punk, Waria dsb. Akhirnya, masyarakat yang menderita.

    Ya, itu mungkin jadi wewenangnya Kadis WH, soyogya nya Walikota Banda Aceh harus fokus sama pembangunan Kota Banda Aceh menuju Kota yang Madani.

    • Ariel Kahhari 01/06/2015 at 04:38

      kita punya pandangan yang sama. orang tua , pemilik kost harus digugah. akan proses hearing yang dilakukan dengan segala aspek, termasuk para pedagang yang berjualan pada malam hari. kalaupun ini harus diterapkan tentu bukan karena sikap gegabah tetapi hasil dari diskusi panjang.

  4. ummu shumaila 31/05/2015 at 02:27

    Mantapks…,memang sprti itu sharus nya. Tapi,klw utk waria diberlakukan juga g aturan nya? Krna mereka kan juga wanita.. *eh.. :D
    .

Leave A Response