Tuesday 21st November 2017,
Arielogis

Ayah Segera Pulang

Ariel Kahhari 28/08/2015 Keluargaku 4 Comments
Ayah Segera Pulang

Rasanya dua bulan itu singkat sekali. Hitungannya terasa dalam jam saja. Seperti baru kemarin ayah pulang mengetuk pintu rumah. Memeluk Saiba yg masih terjaga di jam 12 malam. Kebingungan melihat pria asing mendekapnya erat. Lalu melempar senyum pada Shumaila yg tiba tiba terjaga saat lampu kamar dinyalakan. Dalam kantuk malu-malu minta dipeluk. Sekarang kembali harus berpisah. Ayah mesti balik ke Yogya melanjutkan perjuangan. Jujur sebenarnya ayah ingin lebih lama di rumah. Kumpul bersama, ngobrol, dan sesekali marah marah hehe.

Ayah minta maaf karena Selama di Banda belum pernah mengajak kalian jalan-jalan ke Mesjid Raya. Berfoto di depan kolam yg sekarang sudah ditutupi seng karena alasan renovasi.
Ayah juga minta maaf karena hingga ayah pergi, Shumaila belum pernah ayah ajak ke Taman Sari. Bermain mobil mobilan dan mancing ikan plastik. Padahal Shumaila dulu pernah bilang sama bunda ingin ke taman sari bersama ayah. Maaf ya neuk kalau ayah sibuk dengan urusan yg ngak jelas.

Satu hari sebelum keberangkatan, sebenarnya ayah sudah mulai sedih. Yang terbayang dalam benak ayah adalah sulitnya membohongi diri sendiri, merasa sok hebat atau seolah olah merasa kuat untuk memendam rindu selama berbulan bulan dari sekarang. Mungkin kalian berdua belum tau apa itu rindu.  Itu adalah perasaan yg datang tiba tiba lalu membuat memori lama datang bergelombang. Kalau rindu datang sulit rasanya membedung agar mata tidak merah lalu berair.

Neuk.. Pada malam terakhir saat kalian tidur, ayah memeluk kalian satu persatu. Kalian pasti tidak tau sebab malam itu kalian tidur nyenyak sekali. Kecapean karena baru pulang main dari rumah nenek Lamprit. Dengan pelan ayah kecup kening kalian. Membelai rambut kemudian membisik pesan agar kalian senantiasa sehat, tidak cengeng, dan tidak menyusahkkan bunda selama ayah tidak ada. Kenapa ayah pesankan demikian, sebab ayah tau tidak mudah menjadi ibu. Apalagi berada di posisi bunda sekarang.  Sendirian mengurus kalian berdua, tentu saja dibantu Jiddah, Nekpak, Manda, Makcik dan Aunti. Bunda kalian luar biasa. Tiap kali ayah telepon atau sesekali pulang selalu ada kejutan tentang kalian. Hafalan doa yg terus bertambah. Jumlah kosa kata yg semakin banyak atau berhitung yang semakin lancar. Bagi ayah, “Bunda” bukan lagi sekedar kata sapaan bagi perempuan yg memiliki anak. Tetapi ia adalah sebuah kata sifat. Bunda itu artinya hebat!

Ayah tidak tau apakah Shumaila dan Saiba juga merasakan perasaan yg sama. Kangen, sedih dan rindu karena berpisah dengan ayah. Tapi kata bunda kalian belum terlalu faham dengan daftar kata-kata itu. Tapi ayah yakin kalian dapat merasakannya. Seperti saat di Bandara waktu kalian melepas kepergian ayah. Bunda bilang, Shumaila sempat terdiam lama di bangku bandara, merajuk tidak ingin pulang. Matanya hanya diarahkan ke ayah yang lalu menghilang. Tidak ada lambaian tangan seperti biasa. Shumaila hanya diam. Sepertinya ada sesuatu yg ingin disampaikan tapi tidak tau bagaimana caranya. Huft..

Aneuk-aneuk Ayah. Terlepas apakah kalian mengerti kata rindu atau tidak tetapi kalau suatu hari perasaan ingin dipeluk, dicium, digigit, digendong Ayah itu hinggap, pandangi saja bulan. Minta bunda untuk menemani kalian di halaman rumah. Dari Yogya ayah juga akan memandang bulan yang sama meski dari langit yang berbeda. Dengan cara itu kita akan saling bertukar pesan rindu, cinta dan semangat.

Ayah akan segera pulang. Kembali Sesegera mungkin seperti janji yg pernah ayah sampaikan kepada Shumaila saat main ayunan di halaman mesjid dekat rumah. Walaupun sebenarnya ayah belum tau waktunya kapan. Misi kali ini terasa lebih berat. Ayah tidak tau apakah mampu menyelesaikannya. Tapi ayah punya kalian. Perempuan perempuan hebat yang doanya mampu menembus langit. Doa yang dibawa terbang oleh sayap para Malaikat.

Saat ayah pulang nanti, ayah janji akan bawa kalian jalan jalan ke taman sari. Kita main mobil mobilan, mancing ikan di kolam plastik bahkan kalau perlu kita lomba lari.  Shumaila dan Saiba lari duluan lalu ayah mengejar dr belakang. Sekarang ayah akan kosentrasi dulu untuk sekolah. Doakan agar semua berjalan baik dan mudah. Dari tanah Yogya ini ayah gantungkan rindu pada matahari, bulan, bintang hingga awan agar bisa menjadi penerang dan diarak hingga sampai ke rumah untuk kemudian kalian peluk dalam dalam.

Ayah janji akan segera pulang. Ayah sayang kalian…..

***

27082015, JT 564 Dalam penerbangan menuju Yogya

 

 







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

4 Comments

  1. aslan saputra 08/09/2015 at 01:23

    Semangat bang! :D

  2. Said Firman 30/08/2015 at 09:25

    Ayah memang luar biasa, ayah paling hebat seluruh dunia.

Leave A Response

Click here to cancel reply.