Tuesday 26th September 2017,
Arielogis

Angeline, Diana dan Kisah Pilu Anak Indonesia

Ariel Kahhari 11/06/2015 Suara Langit No Comments
Angeline, Diana dan Kisah Pilu Anak Indonesia

Saya tersentak begitupun anda, ketika mendengar kabar Angeline ditemukan tewas. Terakhir kali saya mengikuti informasinya, bocah delapan tahun ini masih dikabarkan menghilang entah kemana. Hingga polisi memastikan jika bocah yang selama ini dicari terkubur bersama boneka kecilnya. Ia ditemukan di halaman rumahnya atau lebih tepat dibawah kandang ayam, ditutupi sampah. Hampir sebulan Angeline menghilang. Pihak kepolisian bahkan telah menyebar fotonya dengan nomor dan alamat lengkap. Kala itu, semua pihak berharap Angeline bisa kembali pulang.

Jasad Angeline ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Hasil visum menunjukkan jika ia tewas karena pendarahan otak akibat pukulan benda tumpul yang mendarat di kepala dan wajahnya. Tidak hanya itu, tim forensik juga menemukan luka sundutan rokok di punggung Angeline dan bekas jeratan plastik di lehernya. Bocah cantik ini diperkirakan tewas tiga pekan sebelum jasadnya ditemukan. Artinya ketika banyak orang mulai memberikan perhatian dan mengira bocah malang ini hilang, ternyata saat itu Angeline sudah tidak lagi bernyawa. Ia dikubur seadanya bersama boneka kecilnya.

Foto Angeline disebar pihak kepolisian (taken from tribunnews.com)

Foto Angeline disebar pihak kepolisian (taken from tribunnews.com)

Angeline adalah anak angkat dari Margareta. Mereka tinggal di Jalan Sedap Malam, Denpasar, Bali. Sampai ia tewas, Angeline ternyata masih memiliki Ibu kandung. Hamidah namanya, ia berusia 26 tahun. Di keluarga intinya Angeline adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Hamidah mengaku tidak pernah bertemu anaknya selama delapan tahun. Jujur saya tidak begitu faham bagaimana ceritanya, Angeline bisa berpindah asuhan. Faktor ekonomikah atau ada faktor lain. Yang jelas selama tinggal bersama keluarga baru, Angeline kerap mendapatkan perlakuan buruk, khususnya dari sang ibu angkat.

Dari keterangan tetangga, Angeline menghabiskan banyak waktunya untuk bekerja memberi makan ayam yang dipelihara oleh sang ibu. Bila ia lalai atau lupa, ibunya tak segan memarahi Angeline. Bahkan beberapa orang guru juga berkisah jika Angeline termasuk anak pendiam, tertutup dan susah bergaul. Ia tampak kotor, seperti jarang mandi apalagi keramas. Angeline menjalani hidup seadanya.

Jauh sebelum kisah Angeline terungkap, masih ada kisah lain yang tak kalah memilukan. Ini cerita pada tahun 2013 tentang Diana dari Banda Aceh. Usianya berkisar enam tahun dan masih duduk di bangku kelas satu SD. Berbeda dengan Angeline, Diana lahir dan tumbuh dari keluarga bahagia. Namun nasibnya sama, Ia juga dibunuh.

Pelakunya tak lain adalah pamannya sendiri, Hasbi 17 tahun. Diana dicekik hingga tewas setelah terlebih dahulu diperkosa. Dalam melakukan aksi bejatnya Hasbi dibantu oleh Amirudin, seorang residivis untuk kasus yang sama.  Sejak kabar kehilangan Diana, aura murung menggelayuti rumah Mawardi di kawasan Peulanggahan Banda Aceh. Mawardi adalah ayah Diana. Ia kehilangan penglihatannya sejak sepuluh tahun lalu akibat glukoma. Bahkan akibat kebutaan itu, Mawardi memilih pensiun dini.

Bagi mawardi, Diana adalah segalanya. Ia bukan saja putri semata wayang. Sejak Diana berusia empat tahun dan istrinya mulai sakit-sakitan, buah hatinyalah yang menjadi harapan. Diana selalu membawa Mawardi jalan-jalan atau kemana pun ia ingin pergi. Diana ibarat tongkat yang memberi arah jalan, namun kini semuanya hilang. Kesedihan Mawardi semakin memuncak setelah istrinya juga meninggal dunia sepekan setelah kepergian Diana.  Dalam kasus ini, Amirudin akhirnya divonis bersalah dan dihukum 19 tahun penjara. Sedangkan Hasbi dikurung selama 9,5 tahun karena dianggap masih dibawah umur.

Mawardi dan Istri memegang foto Diana

Mawardi dan Istri memegang foto Diana

Gelombang massa yang datang mendoakan Diana (taken from http://seputaraceh.com/)

Gelombang massa yang datang mendoakan Diana (taken from http://seputaraceh.com/)

Angeline dan Diana adalah potret pilu dari anak-anak Indonesia. Seharusnya di usia yang masih kanak-kanak, mereka dapat menikmati indahnya dunia bermain, bergembira dan meluapkan apa saja tanpa beban. Tapi nyatanya Angeline, Diana dan ratusan bahkan ribuan anak Indonesia harus berhadapan dengan jalan hidup yang amat memilukan. Disiksa, diculik diperkosa, dijual bahkan dibunuh.

Kisah keduanya diyakini sebagai fenomena gunung es. Hanya tampak beberapa saja tapi menumpuk tak terlihat. Laporan Komisi Perlindungan Anak KPA menyebutkan dari jumlah laporan kekerasan anak sepanjang Januari hingga September 2014, terdapat 2.726 kasus. Kejahatan seksual diketahui sebagai kasus  yang paling besar, yakni 58 persen. Adapun pelakunya sebagian besar merupakan orang yang seharusnya melindungi sang anak. Sekali lagi jumlah ini adalah jumlah yang tampak dipermukaan.

Banyaknya anak yang menjadi korban kekerasan yang dilakukan orang tua atau orang terdekat disebabkan oleh sejumlah faktor. Secara teoritis, faktor tersebut adalah faktor ekonomi, faktor status orang tua tidak kandung, rendahnya pendidikan orang tua ataupun anggota keluarga lainnya, tingkat religiusitas keluarga yang kurang, serta karena kelakuan anak itu sendiri.

Dengan terjadinya kekerasan terhadap anak oleh orang tua dalam rumah tangga, maka negara ini butuh aturan untuk melindungi mereka. Upaya-upaya tersebut dapat berupa tindakan preventif yaitu penguatan keluarga, aspek spiritual, dan peran serta pemerintah dalam penegakkan hukum. Upaya-upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi jumlah korban kekerasan terhadap anak oleh orang tua maupun anggota keluarga lainnya dalam rumah tangga. Meski diakui hal ini tidak akan berjalan dengan mudah.

Pada akhirnya, semua kita berharap kasus yang menimpa Angeline dan Diana tidak lagi berulang. Sebab jangankan mereka, kita saja tidak sanggup untuk membayangkannya. Seperti apa Angeline harus menahan rasa sakit ketika ujung rokok mengenai tubuh kecilnya. Atau saat ia meregang nyawa setelah benda tumpul mendarat di kepalanya. Bagaimana pula Diana yang harus berjuang dari sekapan sang paman. Dengan tenaga seadanya dia meronta ronta minta dilepaskan. Sudah cukup, jangan lagi bertambah. Semua terasa amat sakit. Tidak saja bagi mereka tapi juga bagi kita.

***

 Referensi

http://aceh.tribunnews.com/2013/03/28/diana-ibarat-tongkat-bagi-sang-ayah-yang-buta

http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/3075/1/kekerasan.seksual.pada.anak.di.indonesia

http://jurnal.untan.ac.id/index.php/jmfh/article/view/2193

 

Yogya, 10062015







Like this Article? Share it!

About The Author

TV Jurnalis, New Anchor, Ayah dua anak, Dosen, Alumni Unsyiah dan UGM Yogya.

Leave A Response