“Kalau Syariat Islam di Aceh tidak berlaku lagi, apa yang akan kalian lakukan?” Tanyaku kepada sekumpulan anak SMA.

Pertanyaan itu saya lontarkan kepada siswa baru di sebuah sekolah. Waktu itu saya ditunjuk menjadi instruktur kelas sepanjang pelaksanaan masa orientasi sekolah. Saya sengaja mengutarakan pertanyaan yang sedikit sensitif guna merangsang mereka agar mau berdiskusi.

Awalnya saya berpikir para siswa akan menjawab dengan pernyataan yang sama. Layaknya choir mereka akan menolak jika kebijakan tersebut diambil pemerintah. Diskusi tentu akan berlangsung monoton dan tidak menarik. Tapi saya salah, yang terjadi malah sebaliknya. Seorang siswi berjilbab putih yang duduk di pojok kelas mengacungkan tangan.

“Saya akan segera melepas jilbab ini bang” pungkasnya sambil memegang jilbabnya yang berukuran lebih kecil dibandingkan dengan ukuran jilbab siswi lainnya. Jawaban tersebut juga diaminkan oleh beberapa siswi yang lain. Jujur saya tidak menyangka jika jawaban itu yang dilontarkan.

Cerita diatas merupakan satu dari sekian banyak cerita menarik yang berkaitan dengan jilbab. Kisah lain yang sedikit menggelitik bagi saya adalah saat seorang teman mengirimkan BBM. Dalam pesan tersebut dia memberikan dua kasus yang harus saya pilih.

Berjilbab tapi mesum atau tidak berjilbab tapi tidak mesum?

Saya pun membalas BBM tersebut dengan santai meski saya tau pertanyaan itu dilontarkannya dengan serius. Saya katakan jika kedua hal tersebut adalah buruk dan tidak bisa dibandingkan. Tidak ada pilihan yang baik diantara keduanya. Karena yang benar adalah berjilbab dan baik akhlaknya.

Obrolan panjang pun mengalir. Tapi makin lama isi obrolannya lari entah kemana. Menyerempet sana sini. Diskusi yang seharusnya mencari titik temu malah berakhir dengan konflik. Karena diskusi ini sama sekali tidak berkualitas saya kemudian mengucapkan terimakasih dan mengakhiri obrolan. Saya yakin dia sedang tidak mencari kebenaran melainkan pembenaran.

Memang persoalan syariat Islam di Aceh selalu erat kaitannya dengan persoalan jilbab. Pada awal awal tahun pencanangan syariat islam saya terkaget kaget melihat perubahan penampilan para kaum hawa di Banda Aceh. Seperti memakai jilbab meski berbaju lengan pendek.  Bahkan ada yang bilang saat itu PSK dan Waria juga berjilbab. Untuk yang terakhir ini saya tidak begitu yakin dengan kebenarannya.

Sorotan Aceh tentang syariat Islamnya memang tidak pernah lesu. Ada saja celah yang dicari. Berita yang tidak ada dimunculkan bahkan terkesan dibuat buat. Sementara kebaikan yang muncul karena penerapan syariat islam malah dikaburkan. Seperti toleransi antar umat beragama, kebebasan beribadah, kenyamanan minoritas. Hal hal baik malah jarang dikabarkan.

Salah satu isu yang kerap mengemuka di Aceh adalah tentang pemaksaan berbusana muslim bagi non muslim. Untuk masalah yang satu ini seorang teman asal Manado pernah bertanya langsung kepada saya. Apakah benar non muslim di Aceh dilarang melintasi jalan yang dibangun khusus bagi muslim jika berpakaian tidak sesuai Syariat. Saya kaget bukan kepalang. Saya bilang itu semua bohong. Semua jalan, semua insfrastuktur itu milik bersama. Tidak ada penguasaan atas satu lokasi untuk agama tertentu, kecuali tempat ibadah. Bahkan masuk kedalam Mesjid pun masih mungkin dilakukan asal memenuhi aturan yang berlaku.

Tidak hanya itu, di jejaring sosial kini juga sedang dikembangkan sebuah isu tentang pemaksaan pakaian muslimah bagi non muslim di kampus dan di instansi kepolisian di Aceh. Ini status di tulis berulang ulang oleh seorang teman di akun miliknya. Menurut saya agak aneh dengan semangat pemilik akun FB tersebut. Antara mengkritisi dan mengompori menjadi sulit dibedakan, tidak jelas!

Saya menyarankan untuk siapapun yang penasaran tentang isu tersebut silahkan saja langsung membuktikannya. Berkunjunglah ke Aceh. Di salah satu kampus terbesar yakni Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), kita dengan mudah menemukan sejumlah mahasiswi asal Indonesia timur yang berkuliah di Unsyiah tanpa menggunakan jilbab. Tidak ada masalah. Tidak ada yang membully mereka. Bahkan saya pernah melihat mahasiswi berjilbab besar jalan bergandengan dengan mahasiswi asal Papua.

Memang tidak pula dapat dipungkiri jika beberapa tahun lalu pernah ada mahasiswi non muslim yang menggunakan jilbab ke kampus. Teman saya bertanya kepadanya mengapa harus memaksakan diri memakai jilbab? Gadis tersebut menjawab jika dia merasa nyaman dan keputusan ini diambil tanpa paksaan dan intimidasi. Nah kalau sudah begini apakah pihak kampus harus memaksanya untuk melepas jilbab? Atau mengancamnya dengan alasan penistaan agama? Jika kemudian itu adalah pilihan pribadinya apakah pantas jika mahasiswi ini disebut korban pemaksaan atas nama syariat?

 

penutup kepala dalam sudut pandang setiap agama (taken from google)
penutup kepala dalam sudut pandang setiap agama (taken from google)

Jihad Berhijab

Mendiskusikan masalah jilbab yang esensinya adalah menutup aurat selalu saja menarik. Memang akan ada banyak alasan untuk seseorang tidak berjilbab. Belum siap, menjilbabkan hati dulu lah, hingga menyangkut persoalan ekonomi dan berbagai alasan lainnya.

Padahal di belahan negeri luar sana, para muslimah masih harus berjuang demi sehelai kain yang dinamakan jilbab. Perjuangan yang dilakukan bukanlah mudah. Membutuhkan air mata, darah bahkan nyawa. Turki butuh waktu lama hanya untuk menghasilkan peraturan yang mengizinkan perempuan boleh berjilbab. Disejumlah negara Eropa malah lebih parah, jilbab dilarang dengan alasan menjaga eksistensi bangsa. Namun ditempat kita? Sekali lagi kita harus bersyukur namun sekaligus prihatin.

 

Demonstrasi pelarangan hijab di Eropa (taken from republika.co.id)
Demonstrasi pelarangan hijab di Eropa (taken from republika.co.id)
anggota parlemen Turki akhirnya bisa memakai jilbab (taken from disiniberita.com)
anggota parlemen Turki akhirnya bisa memakai jilbab (taken from disiniberita.com)

Banyak orang yang agak bahkan sangat risih ketika disinggung mengenai jilbab yang seharusnya dapat membuatnya lebih terhormat. Bagi sebagian mereka, pertanyaan itu mengganggu privasi dan terkesan ramai. Sehingga  tidak jarang ada yang mengatakan jika jilbab [menutup aurat] itu tidak wajib.

Mungkin dia lupa bahwa dunia ini adalah tempat dimana manusia saling berinteraksi. Nasehat menasehati atas nama kebaikan dan kebenaran. Jika ada yang merasa terusik, mungkin baginya alam dunia ini terlalu berisik. Kalau memang demikian, mungkin tempat yang cocok baginya bukanlah di sini melainkan di alam kubur. Di sana  tidak ada keributan, sunyi sepi. Hanya ada kita seorang diri bersama malaikat yang datang mengecek amalan dan dosa. Yah memang pada akhirnya kita akan sendiri saja. Menjawab satu persatu pertanyaan termasuk soalan tentang menutup aurat. Lalu sudah siapkah kita?

**