logo_2-tahun-zikir_1Pria “bule” bertubuh tambun itu masih saja mengitari lahan yang terletak di kawasan Kuta Malaka Kabupaten Aceh Besar. Sesekali dia berdecak kagum.  Di Field Plot Kelompok Tani leumo Na, sekitar 1000 ekor lebih sapi diternakkan secara profesional.  Mulai dari jenis sapi Bali, Sapi Aceh, Brahman, Simental, Limousine dan Brangus. Dalam bayangan pria tersebut, hamparan tanah yang mencapai 100 hektar ini akan memberikan keuntungan besar jika dikelola dengan baik.

Dialah Harry Lawson. Manajer Direktur Livestock Improvement Company asal Australia. Perusahaannya berniat untuk mengembangkan daging halal Aceh untuk kemudian diekspor langsung ke kawasan Timur Tengah. Pada tahap awal investasi, Harry merencanakan untuk mengirim sapi ke Aceh sebanyak 2000 ekor. Dari jumlah tersebut 25 persennya akan dikembangkan untuk pembiakan atau pembibitan sapi. Total Investasi yang dikucurkan  mencapai dua juta dolar Australia atau sekitar Rp. 20 miliar. Harry adalah salah satu dari beberapa investor yang akhirnya jatuh cinta dengan Aceh.

Sedari dulu hingga kini Aceh memang “seksi”. Semua mata dunia tertuju ke propinsi paling ujung Sumatera ini. Aceh seperti memiliki daya tarik “magis” yang begitu kuat. Siapapun yang menginjakkan kaki ke bumi Aceh dipastikan ingin kembali datang bahkan berbisnis ke propinsi berjuluk Serambi Mekkah. Namun kondisi tersebut sempat hilang saat konflik mendera Aceh. Selama puluhan tahun rakyat Aceh dirudung ketakutan dan kekhawatiran. Nyaris tidak ada investasi yang masuk ke Aceh, bahkan sebaliknya uang Aceh mengalir ke luar. Ekonomi Aceh berada pada kondisi yang memprihatikan sekaligus mengkhawatirkan.

Tapi itu dulu. Sekarang Aceh terus berbenah. Mengejar ketertinggalan dengan propinsi lain di Indonesia. Peluang tersebut sangat terbuka lebar. Apalagi Aceh memperoleh kewenangan penuh dalam mengelola sumber daya yang ada. Baik sumber daya alam maupun manusia. UUPA yang menjadi produk hukum pasca MoU Helsinski telah menjamin itu semua. Di bawah kepemimpinan Zikir, Aceh didorong untuk segera take off, terbang ke langit tertinggi.

Investasi pintu menuju Aceh Makmu Beusaree

aceh-the-west-gate-of-indonesia
(taken from www.acehinvestment.com)

Pada awal Mei lalu saya berkesempatan meliput pers conference Badan Investasi dan promosi [BIP] Aceh di sebuah warung kopi di seputaran Kota Banda Aceh. Hampir semua jurnalis dari beragam media menghadiri pertemuan ini. Jumpa pers kali ini bernilai penting. Pasalnya Badan yang mengurusi persoalan promosi dan investasi Aceh ini akan mengumumkan realisasi Investasi yang masuk ke Aceh. Baik itu investasi dari luar negeri maupun dalam negeri.

Investasi merupakan salah satu indikasi sehat tidaknya sebuah negara, propinsi atau daerah. Semakin besar investasi yang masuk ke sebuah daerah maka semakin baik pula kondisi wilayah tersebut. Dipastikan wilayah tersebut nyaman dan aman bagi para investor.

Pada tahun 2014 pemerintah pusat membebankan pemerintah Aceh dengan target investasi sebesar Rp. 5.4 Triliun. Namun baru memasuki trimester pertama atau sepanjang januari hingga maret 2014, realisasi Investasi yang sudah masuk ke Aceh sudah mencapai Rp.1,5 triliun. Jumlah ini naik sebesar 32,77 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2013 sebesar Rp. 963 miliar. Realisasi Investasi sebesar Rp.1,5 Triliun merupakan dana yang bersumber dari dua hal. Yaitu penanaman modal dalam negeri dan luar negeri. Penanaman modal dalam negeri memang masih mendominasi yaitu sebesar Rp. 1,4 Triliun sementara penanaman modal asing senilai Rp. 42 Miliar lebih.

(taken from http://acehinvestment.com/)
(taken from www.acehinvestment.com)

Pencapaian ini juga telah menempatkan Aceh pada posisi enam besar secara nasional. Dari data yang dirilis Badan Koordinasi Penanaman Modal [BKPM RI], Aceh berada di bawah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah Dan Kalimantan Barat. Realisasi investasi yang telah masuk ke Aceh masih di dominasi bidang pertambangan, tenaga listrik, perkebunan, pertanian dan sektor perdagangan. Realisasi terbesar terjadi di kabupaten Aceh Tengah dengan nilai Rp. 982 Miliar disusul Aceh Barat, Subulussalam, Aceh Barat Daya dan Aceh Tenggara. Sementara negara yang menanamkan modal terbesar di Aceh adalah Canada, Singapura, Uni Emirat Arab Dan Malaysia.

Sebenarnya investasi Aceh dapat terus bergerak naik secara lebih cepat. Namun ada hal yang masih menjadi tantangan yang harus segera diselesaikan oleh Pemerintah Aceh. Saat membuka kegiatan Aceh Investment Promotion, Gubernur Aceh Zaini Abdullah mengaku setidaknya ada dua isu penting yang selama ini beredar dan membuat sejumlah investor enggan berinvestasi di Aceh. Isu tersebut adalah pelaksanaan Syariat Islam dan kondisi Keamanan di Aceh.

Dalam forum yang dihadiri para investor luar negeri tersebut, Gubernur Aceh Zaini Abdullah menegaskan jika pelaksanaan Syariat Islam sama sekali tidak mengganggu kenyamanan para tamu yang datang ke Aceh.  Bahkan Gubernur menjelaskan pelaksanaan Syariat Islam hanya diberlakukan kepada masyarakat muslim. Namun Gubernur mengajak agar para tamu yang datang ke Aceh dapat menghormati nilai nilai budaya yang berlaku di tengah masyarakat aceh.

Sementara terkait dengan kondisi keamanan, Gubernur Zaini Abdullah menjamin jika Aceh adalah wilayah teraman bagi para investor dalam menanamkan modalnya. Konflik adalah lembaran lama. cerita yang telah berakhir seiring penandatangan kesepakatan damai yang dilangsungkan di Helsinki pada 2005 silam.

Sebenarnya upaya pasangan Zikir dalam mempromosikan Aceh baik di dalam maupun luar dapat dikatakan serius. Bahkan Gubernur Aceh Zaini Abdullah langsung “mengetuk” pintu dari satu negara ke negara lainnya. Memperkenalkan Aceh dan mengajak para pengusaha asing datang dan berinvestasi. Tinggal lagi menunggu aksi Zikir dalam memastikan iklim Investasi berjalan baik. Energi listrik yang cukup, akses jalan yang baik hingga menghilangkan pajak liar yang masih kerap muncul di lapangan.

Pada akhirnya ketika ekonomi Aceh berkembang, rakyat pun akan semakin sejahtera. Dengan demikian persoalan kemiskinan juga dapat terus dikurangi. Jika di tahun 2007  tingkat kemiskinan Aceh sempat menyentuh titik 23 persen,namun  secara perlahan tapi pasti angka tersebut turun menjadi 17,8 persen pada 2014. Meski persentase tersebut masih di atas rata rata nasional.

Memang masih banyak hal yang menjadi tantangan di dua tahun Pemerintahan Zikir dalam menahkodai Aceh. Waktu yang sebenarnya relatif singkat untuk menilai sebuah kinerja. Tapi jumlah realisasi Investasi yang masuk ke Aceh mungkin dapat menjadi salah satu indikasi untuk menggambarkan bagaimana pemerintah Aceh memang serius membangun wilayah ini. Aceh Makmu Beu saree tentu menjadi harapan semua. Perekonomian yang terus meningkat dan kesejahteraan yang merata. Kalau bukan kita yang membangun Aceh, lalu siapa lagi. Dan jika bukan sekarang, kapan lagi.

 ***

[Tulisan ini terpilih sebagai juara ke II dalam Blogging Competition “Dua tahun Pemerintahan Zikir”]